Mohon tunggu...
YAKOB ARFIN
YAKOB ARFIN Mohon Tunggu... Buruh - GOD LOVES TO USE WHO ARE WILLING, NOT NECESSARILY THE CAPABLE

Addicted by Simon Reeve which experts conflict resolution documentary with his journey around the Carribean

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

[Darurat Ayah] Bapakku 'Dulu' Lebih Galak dari Ahok

5 Agustus 2016   15:26 Diperbarui: 6 Agustus 2016   03:09 724
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: dailymail.co.uk

Bapakku galak. Dan mungkin lecutan kata-katanya lebih "tajam" dari ucapan Koh Ahok. Dengar deheman suara batuknya saja mampu membuatku terbirit-birit meninggalkan tegalan, tempatku bermain dan sepeda-an.

Entah hantu alas mana yang menyelinap dalam perangainya. Pernah pada segmen ‘paksaan’ tidur siang, mata hanya pura-pura terpejam hingga situasi aman untuk mindik-mindik dan buka pintu perlahan agar tak berderit, hanya untuk menyaksikan konco-konco yang riang main petak umpet.

Tertangkap basah. Akibatnya pun tak tanggung-tanggung.  Telapak tangannya yang kaku siap menyapa hingga pipi merah tanpa hirau sengguk tangis. Sudah biasa, makanan sehari-hari dengan lauk pauk makian yang singgah memahitkan hati.

Salah satu kesempatan yang hingga kini tak terlupakan, saat bapak pergi mancing di kali. "Aman, bisa sepedaan bareng teman-teman," pikirku sore itu untuk puaskan hasrat untuk bermain.

Baru dua putaran keliling komplek perumahan, deheman batuknya yang khas  sudah jauh terdengar. Kupancal onthelku kencang-kencang pulang ke rumah. Pas di tikungan, bapak yang ku kira suaranya masih jauh terdengar, malah berpapasan denganku dan njungkel nabrak onthelnya saking kaget dan takut.

Bisa ditebak khan adegan berikutnya? Digiring pulang ke rumah sambil meringis kecut seperti maling ayam.

"Dholanan ini gak boleh, main itu gak boleh," gerutuku sambil ndelik di bawah pohon mangga belakang rumah. Tangisan bocah pun tumpah tertahan. Hingga kemudian rencana cupu itu pun sempat muncul, untuk kabur dan nyangklong tas hendak nyebrang ke Tanjung Perak. Akumulasi pahit adegan-adegan pukulan, beserta ragam serangan verbal yang tak mengenakkan, amat sulit dipahami bocah SD yang lahir post-mature.

***

Barangkali, pengalaman kecut ini yang membuatku tertarik mengambil mata kuliah Psikologi Sosial, dan supporting course Tumbuh Kembang Manusia dari Departemen sebelah (Dept. Ilmu Keluarga dan Konsumen). Alih-alih untuk mencari tahu secara kompleks sebab karakterku yang submisif dan plegmatis yang mengganjal diri yang terus beranjak. Bentuk kepribadian yang hingga kini amat tak mengenakkan.

Tanda tanya dan keganjilan kepribadian ini akhirnya sedikit terjawab, meski tak tuntas. Pola asuh dan minimnya sosok ayah sebagai pondasi gambar diri anak, menjadi benang merah penyebab sebagai bocah kaku dan tak supel. Darurat ayah yang tak terhindar.

Tak tahan dengan kepahitan yang dalam, aku pun mencari Bang Santoni Tobing, abang kelas yang ku percayai, untuk jadi rekan berbagi dan mengurai mendungnya hubungan bapak-anak yang laten.

"Telpon bapak. Katakan kepahitan yang lama menggunung, dan bilang: Aku mengampuni bapak," sarannya dengan nada tegas namun sabar. Saran itu pun sulit ku terima.

Tapi November 2011 malam itu, akhirnya jadi titik pertalian kami. Segera ku sambar telepon genggam di atas meja belajar dan ku ungkapkan semua kekesalan. "Aku minta maaf pak, dan aku mengampuni bapak," kataku beranikan merendah diri hingga tembok ego pertahananku seolah runtuh. 

Mata yang sembap pun tak bisa  dbendung, kala mendengar beliau justru balik meminta maaf dan mengakui ketidak pahamannya mengasuh dan memperlakukanku. Petang itu, gunung kepahitan cair perlahan, mana kala kami sama-sama saling menyadari kebekuan relasi yang berlangsung sedari masa kanak-kanak.

Saling mengampuni, rupanya itu kunci yang selama ini ku cari hingga jauh ke Kota Hujan.

***

Situasi jadi agak membaik meski tak selalu mulus. Bekas kecewa memang tak sepenuhnya pulih dengan instan. Sebab tindakan tegas yang tak berpola dalam bentuk agresi fisik dan verbal yang berlangsung dalam tempo yang panjang, mampu menggoreskan gambar diri anak yang tak sehat. 

Tapi, bapak yang dulu ku maki-maki dalam hati. Bapak yang ingin selalu ku jauhi, justru kini jadi teman, bahkan sahabat terbaik. Jadi lawan berbagi soal kemelut awan hingga arah hidup, cita serta usulan cinta.

Kini bila aku pulang ke rumah, wajah sumringah beserta motor  revonya menantiku di sisi jembatan Pelabuhan Kamal. Sambut hangatnya meluruhkan langkah lelah menampi asa di Ibukota.

 Bapakku, tak segahar Ahok lagi. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun