Di suatu kesempatan, saya berkesempatan mengunjungi gudang kopi di kawasan Lam Ateuk, Aceh Besar. Mungkin gudang ini menyuplai sekitar 10-20 persen bubuk kopi yang beredar untuk konsumsi warung kopi di sekitaran Banda Aceh.Â
Dulunya, sebelum tsunami dan masa awal setelah tsunami, pemain utama kopi kota Banda Aceh didominasi oleh Solong Kupi dan alumni mantan pekerja Warung kopi Solong yang terletak di Ulee Kareng. Sementara mereka para alumni Solong, yang bekerja di Solong dan yang bekerja di warkop-warkop alumni Solong berasal dari desa Lam Ateuk, Aceh Besar. Namun kini sudah banyak warung-warung kopi yang muncul bukan dari daerah ini.
Kawasan Lam Ateuk selain dikenal dengan produksi kopi, juga merupakan daerah pusat pendidikan agama dan umum. Untuk pendidikan agama ada dayah Abu Mamplam Golek, ulama kharismatik yang juga tokoh Perti di masanya. Untuk pendidikan umum, ada Universitas Abulyatama yang dibangun oleh Rusli Bintang.Â
Rusli Bintang yang asal Lam Ateuk ini membangun Universitas Abulyatama di kampungnya dan sukses membangun Universitas Malahayati di Bandar Lampung. Bahkan anaknya, Khadafi terpilih sebagai anggota DPR-RI dari PKB wilayah pemilihan Lampung.
Sepanjang jalan dari Lam Ateuk hingga Ulee Kareng, kita bisa melihat geliat kegiatan ekonomi yang cukup positif. Keberadaan lembaga pendidikan dan industri produksi kopi telah membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sana.Â
Dari desa Lam Ateuk kita dapat mengambil pelajaran bahwa, beberapa orang yang dari wilayahnya berasal, bisa memainkan peran untuk menumbuhkan geliat ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Kita berharap ada individu-individu kreatif yang mampu bangkit mengembangkan bisnisnya, sembari berkontribusi untuk daerahnya, membuka lapangan pekerjaan dan membantu masyarakat yang kurang mampu di sekitarnya.Â
Konfigurasi sosial di Lam Ateuk menarik untuk dijadikan bahan studi, bagaimana perkembangan sosial-ekonomi masyarakat bisa berkembang melalui peran aktor-aktor tertentu masyarakat di luar institusi pemerintahan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H