Mohon tunggu...
Izmatul Izza
Izmatul Izza Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswi

to be succes

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Teori Behavioristik dan Teori Kognitif

26 Oktober 2020   21:50 Diperbarui: 28 Mei 2021   06:30 3508
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Teori belajar merupakan gabungan prinsip yang saling berhubungan, dan berisi tentang penjelasan atas sejumlah fakta serta penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Penggunaan teori belajar dengan langkah - langkah pengembangan yang benar dan juga pemilihan materi yang baik dan benar serta penyampaian pesan yang baik dapat memudahkan peserta didik dalam memahami pelajaran yang di sampaikan. 

Proses belajar pada hakikatnya adalah kegiatan mental yang tidak tampak proses perubahan nya, tidak dapat di saksikan dengan jelas, tetapi dapat dilihat dari gejala - gejala perubahan dalam perilaku peserta didik. Teori belajar yang menekankan perubahan terhadap perilaku peserta didik adalah teori behavioristik. Teori belajar yang menekankan pada perubahan capaian hasil dalam belajar ( prestasi )  adalah teori kognitif. 

Teori behavioristik adalah teori belajar yang mengutamakan pada perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik tentunya. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan (Arya, 2010). 

Baca juga: Teori Belajar Behavioristik dan Kognitif

Rangsangan yang di berikan kepada peserta didik bisa berdampak positif, bisa juga berdampak negatif tergantung dengan kondisi peserta didik. Teori behavioristik menekankan guru sebagai pemegang kendali dalam memberikan contoh perilaku baik atau buruk kepada peserta didik. 

Peserta didik bisa mengambil baik atau buruk yang di sampaikan. Tergantung guru mencontohkan nya bagaimana. Karena, manusia sendiri bersifat pasif, artinya masih bergantung pada stimulus yang di dapatkan. Jika guru mampu memberikan contoh baik, maka peserta didik juga akan menghasilkan perubahan yang mengarah pada kebaikan. 

Jika guru memberi contoh buruk, maka peserta didik juga akan menghasilkan perubahan yang mengarah pada kejelekan atau keburukan. Teori belajar behavioristik sangat menekankan perubahan perilaku baik positif maupjn negatif. 

Menurut teori belajar behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan pertama yang di tangkap dari panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak, atau menghubungkan antara stimulus ( input ) dan respons ( output ). Teori stimulus ( input) dan respons ( output )  adalah usaha untuk membentuk hubungan antara keduanya menjadi lebih baik, karena keduanya sangat penting dalam menghasilkan teori  behavioristik . 

Namun, proses terjadinya stimulus dan respon tidak dapat di amati dan juga tidak dapat di ukur. Oleh karena itu,  apapun yang di sampaikan oleh guru harus di terima, di amati dan di ukur. Begitu juga dengan apapun yang sudah di hasilkan peserta didik harus di terima, di amati, dan di ukur agar tercipta nya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. 

Ciri - ciri teori belajar behavioristik antara lain : 

  1. Mempelajari perbuatan manusia bukan melalui keadaanya, melainkan mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. 
  2. Segala perbuatan di kembalikan pada perasaan refleks. 
  3. Pada waktu di lahirkan semua orang itu sama. Jadi, pasti manusia juga mengalami perubahan. 

Baca juga: Behavioristik dan Kognitif dalam Kaca Anak Usia Dini

Penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran adalah memberikan stimulus ( input ) yang baik juga benar agar nanti peserta didik dapat membentuk respons ( output ) yang baik juga benar pula. 

Berbeda dengan aliran behavioristik, alirab kognitif merupakan cabang ilmu yang mempelajari proses mental. Cara bagaimana berfikir, mengingat, merasakan. Teori belajar kognitif otak akan menjalankan fungsi utamanya, yakni berpikir. Solso, dkk., (2008 : 2) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah ilmu yang menyelidiki pola pikir manusia. 

Danim dan Khairil (2010 : 38) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah cabang psikologi yang mempelajari proses mental termasuk bagaimana orang berpikir, merasakan, mengingat, dan belajar. 

Sebagai bagian bidang ilmu kognitif yang lebih besar, cabang psikologi ini berhubungan dengan disiplin ilmu lain termasuk ilmu saraf, filsafat, dan linguistik. Berdasarkan penjelasan yang di paparkan oleh para ahli, teori belajar lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar, karena aliran kognitif ini melivatkan pola pikir peserta didik dalam proses belajar. 

Jenis - jenis belajar kognitif antara lain :

  1. Mengolah informasi. 
  2. Kontruktivisme.

Ciri - ciri jenis belajar kognitif antara lain: 

  1. Mementingkan apa yang ada dalam siri ( bakat ). 
  2. Mementingkan kondisi waktu. 
  3. Mementingkan keseimbangan dalam diri manusia. 

Baca juga: Pembelajaran Online dari Kaca Pandang Behavioristik

Implikasi teori kognitif dalam proses pembelajaran antara lain :

  1. Mendorong siswa untuk berpikir materi pembelajaran yang nantinya akan membantu mereka dalam proses ingatannya.
  2. Membantu siswa mengidentifikasi hal - hal yang penting untuk mereka pelajari. 
  3. Memberikan pengalaman dalam hal belajar kepada peserta didik dalam memahami topik - topik yang mereka pelajari. 
  4. Mempertimbangkan kelebiha  dan kekurangan dalam proses kognitif peserta didik. 
  5. Merencanakan dan mewujudkan kelas yang membuat peserta didik lebih aktif dalam belajar maupun berfikir 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun