Mohon tunggu...
Izhar Mushawwir
Izhar Mushawwir Mohon Tunggu... Desainer - Graphic Designer | Digital Marketer

kadang nulis, kadang ngedesain, kadang ngedit, kadang ngeshare, kadang ngopi

Selanjutnya

Tutup

Worklife

Gen Z: Teman Atau Beban?

16 November 2024   12:00 Diperbarui: 16 November 2024   12:14 31
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.facebook.com/photo/?fbid=1022250399914844&set=pcb.1022250496581501

Tapi secara pribadi, kami berpandangan bahwa untuk mengatakan Gen Z beban perlu juga kita melihat bagaimana sistem dunia kerja khususnya di Indonesia. Kita tidak menutup mata bahwa ada juga beberapa Perusahaan atau kantor swasta maupun Negeri yang kurang memanusiakan karyawannya dengan budaya kerja yang menyalahi Undang-Undang dan moralitas. Namun meski demikian ada juga yang memilih untuk bertahan sebab diantara mereka ada sesuatu atau seseorang yang harus mereka tanggung. Inilah yang kita sebut sebagai Generasi Sandwhich, generasi yang menjadi tulang punggung keluarga. Tidak sedikit dari mereka yang setiap gajian membayar cicilan demi cicilan, bayar listrik, beras dan sebagainya untuk bisa bertahan hidup. Generasi Sandwhich juga kerap disebut sebagai generasi perintis, karena mereka harus mulai dari bawah untuk membangun karir dan jenjang hidup yang lebih baik

KESIMPULAN

Terlepas dari argumen benar tidaknya Gen Z adalah beban keluarga ataupun Negara, kita semua wajib berbenah dan berubah. Gen Z mulai untuk belajar. Belajar menaikkan skill set yang dimiliki sebagai bekal menghadap disrupsi zaman yang kian hari berubah-ubah. Belajar bersosialisasi dalam kehidupan, sebab suka atau tidak kehidupan nyata kita bukan yang selama ini kita lihat di media sosial. Belajar menerima perbedaan, siap atau tidak kita akan hidup dengan beragam pandangan, beragam pemikiran, beragam jenis karakter, beragam isi kepala dan sebagainya yang tentu tidak akan sama dengan kita. Bekerjalah dengan niat yang benar, jangan mudah menyerah dan putus asa. Bila jatuh di satu tempat, maka bangkitlah peluang itu selalu ada hanya saja kita yang tidak mau mengambilnya. Belajarlah menyalahkan diri sendiri ketimbang orang lain, agar kita selalu fokus pada diri sendiri dan tidak sibuk dengan orang lain.

Bijaklah menyikapi, merasa benar itu wajib dan penting sebab kita wajib punya pendirian dan pedoman hidup tapi jangan sampai menyalah-nyalahkan pendirian orang lain. Ada baiknya berdiskusi dengan baik dan benar tanpa menyerang personal seseorang yang berbeda dengan kita. Belajar mengelola dunia digital kita sendiri, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu disana

Bagi pelaku usaha atau owner-owner bisnis, belajarlah skill kepemimpinan, belajarlah manajemen karyawan/SDM yang proper, belajarlah mengenali karakter dan sifat karyawan. Berikanlah hak mereka jika memang mereka berhak menerimanya, jangan tahan apalagi terlambat memberikannya. Terbitkanlah aturan yang disepakati bersama dan jalankan pengawasannya dengan ketat.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun