Â
Ada rasa haru-biru yang bergejolak dalam dada, saat melihat pelepasan peserta didik kelas IX hari ini, Senin 4 Juli 2022. Rasa bahagia dan semangat menyelinap ke relung hati, saat melihat tawa riang mereka. Balutan jas berwarna hitam dan kemeja, serta dasi menambah pancaran aura dewasa bagi peserta didik laki-laki. Menjadi simbol penambah aura, bahwa kelak di masa depan. Mereka lah yang akan menjadi calon-calon pemimpin negeri ini. Kepada siapakah lagi, estafet kepemimpinan akan diserahkan, selain kepada mereka. Para pemuda harapan bangsa.
Begitu pun, saat melihat peserta didik putri, dengan warna-warni dan beraneka model pakaian. Ada yang berkebaya, gamis, blouse, dan kain brokat. Semua memancarkan senyum kebahagiaan. Sebagai guru, ada rasa bangga yang terlantun dalam do'a. Semoga setitik ilmu yang pernah kita berikan, dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi mereka di masa depan. Setidaknya, akan mengantarkan mereka menjadi manusia-manusia dewasa yang beretika, bijak, dan menghargai sesamanya.
Tidak peduli seberapa tinggi tingkat kecerdasan seorang manusia, bila ia tidak menghargai sesamanya. Maka, ia bukanlah orang yang sukses. Karena, definisi kesuksesan sejatinya bukanlah saat kita berhasil mencapai cita-cita, bergelimangan harta, dan mendapatkan banyak pengakuan dari manusia. Tapi, sukses yang sebenarnya adalah saat kita mampu untuk tampil sebagai pribadi yang berakhlak mulia. Sebagaimana, tujuan utama kita diciptakan di dunia ini.
Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits yang artinya, "Tidak sekali-kali, saya diutus oleh Allah (kecuali) hanya satu untuk menyempurnakan akhlak." Itulah, betapa  bahwa etika itu sangat penting untuk diajarkan dan dimiliki dalam kehidupan kita.
Susunan Acara
Bertempat di gedung Islamic Center Sumedang, pelepasan peserta didik kelas IX SMPN 1 Sumedang digelar secara khidmat dan penuh rasa kekeluargaan. Hadir dalam acara ini, semua peserta didik kelas IX berjumlah 352 orang, kepala sekolah, guru-guru, staf TU, peserta didik dari OSIS, serta beberapa orang tua peserta didik yang berprestasi pun turut diundang.
Acara dimulai dengan parade peserta didik dari setiap kelas. Nama mereka dipanggil satu-persatu melalui mikrofon, lalu setiap wali kelas bertugas mengalungkan medali kepada masing-masing peserta didik. Setelah semua peserta didik duduk nyaman di tempat yang telah disediakan. Acara dilanjutkan dengan parade guru pengajar dari setiap mata pelajaran, dipanggil berurutan sesuai dengan urutan mata pelajaran yang tertera dalam raport.
Setiap menyaksikan atau mengikuti acara perpisahan, dari tahun ke tahun. Satu yang saya maknai, bahwa momen perpisahan ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Ketika peserta didik berhasil menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMP, maka itu bukanlah garis finish. Tapi, justru ini adalah gerbang awal menuju sebuah proses yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Di mana mereka akan tiba dalam sebuah ungkapan, 'Tertatih, tertatih, tertatih, hingga menjadi terlatih'. Â
Jika, saat di jenjang SMP, mereka terbiasa untuk belajar dengan giat, berlatih tanpa mengenal putus asa, dan menempa diri dengan berbagai tugas yang diberikan guru. Maka, saat tiba di jenjang SMA, yang mengharuskan mereka bertindak lebih dewasa. Mereka tidak akan shock, karena sudah terbiasa.Â
Pesan Guru
Hanya ada dua orang di dunia ini, yang tidak akan iri akan keberhasilanmu, Nak! yaitu guru dan orang tuamu.
Saat seorang manusia berhasil dalam menggapai cita-cita, sukses dengan perjuangannya, dan diberikan kelancaran dalam meraih impiannya. Maka, akan ada dua tanggapan orang lain kepada mereka. Pertama, ikut berbahagia dan memberikan selamat, lalu merasa termotivasi dan terinspirasi. Hingga akhirnya tertantang untuk melakukan proses yang sama demi menggapai keberhasilan yang sama. Kedua, merasa iri dan tidak senang hati.Â
Tapi, kamu harus tahu, Nak! ada dua orang yang selalu ada di urutan pertama. Orang yang selalu merasa bangga, bila kamu berhasil. Setinggi apapun mimpi yang kamu capai, jabatan yang kamu sandang, dan berapa banyak harta yang kau miliki. Mereka adalah orang tua dan kami, guru-guru kalian.
Ketika, seorang peserta didik dipanggil ke podium karena meraih juara satu dalam perlombaan. Maka, kamilah gurumu yang pertama merasa bahagia. Bahkan, mungkin kebahagiaan itu lebih besar dari rasa bahagiamu, Nak!. Karena, dengan berhasilnya kamu meraih juara, kami merasa berhasil telah mendidik dan melatihmu. Jika saat itu, kebahagiaanmu hanya satu. Maka, bagi guru kebahagiaan itu menjadi dua kali lipat. Kebanggaan memiliki murid seperti kalian, dan kebanggaan memiliki kesempatan mendidik kalian.
Saat nanti, beberapa tahun bahkan puluh tahun ke depan kalian menjadi pemimpin di negeri ini. Entah itu, kepala desa, camat, bupati, menteri, bahkan presiden sekali pun. Maka, kami lah guru-guru kalian yang akan mendukung dan merasa bangga.Â
Oleh karena itu, kami berharap terbanglah setinggi mungkin, kepakkan sayapmu dengan berani, jangkau dunia dan langitkan mimpi-mimpimu. Tapi, jangan lupa keimanan, etika dan akhlak yang baik harus menjadi fondasi utama bagi semua perjuangan itu. Berproseslah dengan benar. Agar hasil yang didapat terasa berkah. Percayalah! bahwa hasil tidak akan menghianati proses itu benar adanya. Selamat berjuang, Nak! (*)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI