Kelima, Bekerjasama dengan Sumedang TV dan Radio eRKaEs FM. Guru perwakilan dari MGMP setiap mata pelajaran siaran mengajar melalui radio dan televisi. Peserta didik dapat berpartisipasi, bertanya dan menjawab. Bagi peserta didik yang terkendala kuota, dapat menontonnya secara live streaming.
Keenam, Pembelajaran grup media sosial, peserta didik dibuatkan WAG setiap kelas. Bila sekolah terdiri dari 32 kelas, maka akan ada 32 grup whatssapp. Nah, guru dari 11 mata pelajaran masuk dalam setiap grup kelas yang diampunya. Saat daring, guru membagikan slide power point, voice note, dan video pembelajaran melalui WAG tersebut.
Ketujuh, Pembelajaran tugas berkala dan terukur adalah tugas proyek yang diberikan kepada peserta didik, dalam kurun waktu tertentu, umpama dua minggu. Minggu ke-1 mempersiapkan alat dan bahan, melakukan uji coba, dan mencatat hasil penelitian. Minggu ke-2, mereka mengerjakan LKPD dan pelaporan dari proyek tersebut, lalu mengumpulkannya.
Mix and match dari 7 metode pembelajaran tersebut mudah dilakukan. Sekolah yang memiliki fasilitas studio mini, dapat melaksanakan pembelajaran virtual, di-mix dengan tematik virtual. Bila di sekolah tidak ada fasilitas studio mini, hand phone dan minus internet, metode modul/LKS dan home visit dapat dijadikan pilihan.
Selain mix and match internal antar 7 metode pembelajaran. Mix and match juga dapat dilakukan eksternal antara 7 metode pembelajaran dengan pembelajaran HI. Caranya, saat kasus Omicron naik, maka HI dapat dilaksanakan secara virtual zoom meeting, tugasnya di-share di media sosial tiktok, instagram, dan lain-lain. Ada 3 manfaat yang akan diperoleh peserta didik dari mix and match tersebut, diantaranya :
Pertama, Meningkatkan semangat belajar, dilansir dari databoks.katadata.co.id, berdasarkan survey yang diadakan oleh Media Survey Nasional (Median) terhadap orang tua peserta didik, diperoleh hasil bahwa orang tua melihat anaknya mulai bosan mengikuti pembelajaran daring (dalam jaringan).
Oleh karena itu, mix and match antara 7 metode pembelajaran dan pembelajaran HI, akan menjadi solusi bagi masalah tersebut. Metode yang bervariasi dan tidak itu-itu saja akan meningkatkan semangat belajar peserta didik.
Kedua, Meningkatkan kreativitas, tugas-tugas yang bersifat meng-explore daya kreatif peserta didik dalam pembelajaran proyek dan holistic integratif, umpama membuat power point, eco-enzyme, tangram, hasta karya celengan, video iklan makanan tradisional, menanam kangkung dan lele dalam ember, membuat bongsang tahu, tabulampot, dan lain-lain, akan merangsang imaji, dan kreativitas mereka. Peserta didik akan bersaing dan menampilkan karya terbaiknya.
Ketiga, Inovatif, jangan overthinking dengan peserta didik generasi zillenial, mereka terkadang bisa berfikir out of the box alias anti mainstream. Sedikit saja, guru memberikan sentuhan, maka mereka akan menghasilkan sebuah kreasi baru yang luar biasa
Itulah, 3 manfaat yang akan diperoleh peserta didik, jika strategi komplementer 7 metode pembelajaran di-mix and match dengan pembelajaran holistic integratif. Sebagai insan pendidikan, kita tentu berharap agar seluruh daya upaya yang dilakukan oleh dinas pendidikan ini, mampu meminimalisir dampak Learning Loss (kemunduran belajar) pada peserta didik kita. Semoga.(*)