Mohon tunggu...
Isur Suryati
Isur Suryati Mohon Tunggu... Guru - Menulis adalah mental healing terbaik

Mengajar di SMPN 1 Sumedang, tertarik dengan dunia kepenulisan. Ibu dari tiga anak. Menerbitkan kumpulan cerita pendek berbahasa Sunda berjudul 'Mushap Beureum Ati' (Mushap Merah Hati) pada tahun 2021. Selalu bahagia, bugar dan berkelimpahan rejeki. Itulah motto rasa syukur saya setiap hari.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Fragmen Sepotong Gorengan

17 Februari 2022   14:10 Diperbarui: 17 Februari 2022   14:12 360
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Serupa pagi, cahaya jatuh di bilik bambu

Hitam pada arang menjadi penghias alis

Naif,

Penjual gorengan mengejar angin


Dalam kepalanya 10 merk minyak goreng berdemo riuh

Yang pendiam, menghuni etalaseu dengan tenang

Yang idealis mengejar mimpi dan bayang-bayang

Dua bening sanguinis menyanyi lagu simfoni

Merpati sejoli bermain kata dan tanda baca

Empat lagi memprediksi fluktuasi harga


Dalam kuali yang besar

Gorengan-gorengan terbaring tanpa mimpi

Di dalam saku baju

Penjual menaruh tiga lembar uang,

Sepuluh ribu, lima ribu, dan dua ribu

Tidak terdengar kepingan logam pada kaleng itu


Pagi di bulan Februari

Ada senja dalam balutan gerimis,

         Gerimis yang seperti menangis

         Ceria,

         Gorengan-gorengan berjingkrak memainkan minyak pada tubuh


Waktu berlari serupa atlit olimpiade

Layar hitam tertutup menutup lakon

Di tubuhnya, 10 merk minyak goreng menghilang

Di tubuhnya, gorengan-gorengan melepas penat


Pagi masih saja jatuh dalam kuali

10 cahaya bening itu memudar

Di dalam saku puluhan lembar terkulai

Di dadanya terdengar gemerincing uang recehan

Gorengan-gorengan memakan asanya sendiri

Ah, langit selalu saja tawarkan biru

Di dalam saku baju, ia selipkan 3 lembar berwarna ungu


Sumedang, 17 Februari 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun