Saat di rumah tak sengaja kubuka lemari dan tanganku menyentuh wadah perhiasan emas yang selama ini tak pernah dipakai lagi. Aku minta ijin pada anak-anak dan suami untuk menjual perhiasan itu.Â
Karena di antara perhiasan-perhiasan itu ada yang milik anakku hadiah dari bude mereka saat lahiran. Mereka pun mengijinkan. Aku yakin dengan ijin suami, satu kakiku sudah menapak di tanah suci. Tinggal satu kaki lagi yang harus dilepaskan. Lebih mudah.
"Papa akan merasa bersalah jika tidak mengijinkan Mama berkunjung ke rumah Tuhannya."
"Ma, kalau Mbak jadi artis, nanti Mama dibiayai umroh sama Mbak," kata sulungku yang saat itu baru berusia sebelas tahun.
"Ma, yuk kita jualan sate di pasar kaget! Ntar uangnya buat umroh Mama," lanjut si bungsu, delapan tahun. Ah, terharu mendengar dukungan mereka. Setelah perhiasan dijual terkumpul uang sejumlah  tiga jutaan. Kurangnya masih banyak.
Doa-doa pun kupanjatkan setiap saat terlebih di sujud sholat rakaat terakhir. Tak ada bosannya memohon pada Allah sambil membawa kehampaan diri. "Ya Rob, tak apa tekanan hidup menjajah fisik hamba tapi jangan semangat hamba."
Saat itu, terbersitlah ide untuk mempunyai amalan khusus yang mampu menarik perhatian Allah. Mulailah kulakukan empat hal sederhana ini:
1. Memungut paku atau duri di jalan sehingga orang lain terhindar dari rintangan. Semoga Allah pun menjauhkan rintangan-rintangan jalanku untuk berumroh.
2. Bergaul dengan orang-orang baik di mana pun berada. Siapa tahu Allah meletakkan rezekiku di sana.
3. Bersilaturahim. Bukankah silaturahim itu memperluas rezeki dan memperpanjang umur?
4. Minta doa restu orangtua. Mereka adalah salah satu hartu karunku yang sangat berharga.