Untuk pertama kalinya, tahun 2017 ini, saya ikut mudik gratis yang diadakan Kementerian Perhubungan. Rute yang saya pilih: Jakarta-Wonogiri. Meski mudik ke Wonogiri, saya shalat Ied di Jakarta. Lha, piye? Kok bisa?
Saya menyebut mudik ini adalah mudik ulang-alik. Artinya, mudik sekali tancap, dalam waktu singkat, dengan beberapa moda sekaligus. Perjalanan saya mulai pukul 11.00 WIB, hari Kamis (22/06/2017), dari Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara. Saya hanya warga biasa, bukan siapa-siapa, tapi entah kenapa admin Kompasiana menawarkan ikut mudik gratis yang diadakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Serentak Bersama 231 Bus
Hari itu, ada 231 bus yang memenuhi area Pantai Karnaval. Dari pantauan saya, bus yang digunakan untuk mudik gratis ini adalah bus pariwisata. Bukan bus umum yang melayani rute regular. Bus itu mewah, dengan seat 2-2, dan full pendingin tentunya. Tapi, tidak ada toilet dan tidak ada smoking area. Saya pikir, ini akan menimbulkan masalah. Bagaimana mungkin bus untuk perjalanan jauh tapi tidak ada fasilitas toilet? Ndak ngudut bisa ditahan, tapi nahan pipis... oalaaaahhhh!
Total pemudik dalam bus yang saya tumpangi 50 orang, 15 orang di antaranya anak-anak. Tak ada ingar-bingar tangis anak sepanjang perjalanan. Ini indikator bahwa perjalanan mudik itu menyenangkan. Buktinya, anak-anak tidak rewel. Mereka bermain, bercanda, lantas tertidur pulas. Saya dan beberapa pemudik tetap berpuasa. Sebagian sudah tancap lahap, hingga aroma mie instant benar-benar menjadi godaan yang mengasyikkan.
Berbuka Selepas Brexit
Jalan tol benar-benar lancar jaya. Tak ada kemacetan. Pemudik yang duduk di sebelah saya bergumam, "Kurang sensasi nih mudiknya. Gak ada macet-macetnya." Dalam hati, saya bersyukur, kolaborasi Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dengan Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), dan dengan Kapolri Tito Karnavian, tokcer ya mengurai kendaraan para pemudik.
Sehari sebelumnya, pada Rabu (21/06/2017), saya membaca di sejumlah media, ada antrean panjang di pintu gerbang tol Palimanan, mencapai 14 kilometer. Mobil berjalan perlahan karena padatnya kendaraan. Antrean kendaraan itu mulai terjadi sejak KM 174. Namun, ketika bus yang saya tumpangi melewati gerbang tol Palimanan pada Kamis (22/06/2017) sore, lancar-lancar saja. Barangkali petugas di lapangan sudah mengambil langkah preventif.
Hujan, Macet, dan Lapar
Menghadapi hujan dan macet yang berkepanjangan, ternyata dua potong roti berbuka tadi tidak lagi memadai. Cacing-cacing di perut mulai berontak. Keinginan untuk pipis pun timbul. Oalaaaah! Anak-anak mulai menyuarakan kerewelan mereka. Sensasi mudik pun terasa komplit. Ditambah lagi, Pak Supir memuaskan selera asalnya dengan Colak-Colek. Rupanya dangdutan itu salah satu upaya si supir untuk mengusir kejengkelannya menghadapi macet. Sebaliknya, kejengkelan saya justru bertambah. Hehehe.
Baru di Kendal, di salah satu pom bensin, bus memasuki masa istirahat. Pelataran basah oleh hujan. Kami berebut turun untuk memburu toilet. Jiaaaaaahhh, antreannya mantap banget. Apa boleh buat, tak ada pilihan lain. Habis itu, saya mencari sesuatu yang bisa dikunyah-kunyah. Kasihan tuh cacing-cacing, sudah kalang-kabut. Dengan gerak cepat, saya penuhi hasrat para cacing itu. Pemudik lain tampaknya juga demikian.
Turun Bus, Ambil Motor
Pukul 04.00 WIB dini hari, bus memasuki Terminal Wonogiri. Artinya, sepanjang Jakarta-Wonogiri, hanya dua kali istirahat. Normalkah ini? Saya tidak tahu, karena saya baru pertama kali ini ikut mudik gratis. Pelataran terminal basah, tapi hujan sudah berhenti. Para pemudik yang sudah mengirimkan sepeda motor, tinggal mengambilnya di salah satu bagian terminal. Langkah Kemenhub ini patut kita apresiasi, karena motor pemudik diangkut dari Jakarta ke Wonogiri dengan truk, sementara pemudiknya diberangkatkan dengan bus pariwisata. Semua gratis tis.
Pemudik yang ada sepeda motor membawa serta helm dari Jakarta. Jadi, setelah mengambil motor, langsung tancap ke rumah masing-masing. Artinya, mereka tidak harus motoran dari Jakarta ke Wonogiri, tapi cukup dari terminal ke rumah saja. Ini adalah upaya Kemenhub untuk mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya. Maklum, dari beberapa tahun terakhir, pemudik yang menggunakan sepeda motor jarak jauh kerap mengalami kecelakaan. Nanti, pada Kamis (29/06/2017), motor mereka kembali ke Jakarta dengan truk dan mereka pun kembali menikmati perjalanan dengan bus pariwisata. Sekali lagi, semua gratis tis.
Saya tidak masuk kategori pemudik motor. Jadi, tidak ada sepeda motor yang harus saya ambil. Kalaupun saya maksa ngambil motor, itu namanya mencuri, dan pasti saya ditangkap polisi. Hehehe. Dari Terminal Wonogiri, saya akan melanjutkan perjalanan mudik a la saya. Ke mana? Nanti di tulisan lanjutannya saya ceritakan ya.
isson khairul --dailyquest.data@gmail.com
Jakarta, 26 Juni 2017
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H