Mohon tunggu...
Isson Khairul
Isson Khairul Mohon Tunggu... Jurnalis - Journalist | Video Journalist | Content Creator | Content Research | Corporate Communication | Media Monitoring

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://www.kompasiana.com/issonkhairul4358 Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul, https://twitter.com/issonisson, Instagram isson_khairul Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Pesona Cornelia Agatha dalam Tata Warna Teater Koma

6 Maret 2016   09:35 Diperbarui: 6 Maret 2016   11:43 614
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Cornelia Agatha (kanan) sebagai Betari Permoni dan Tuti Hartati (kiri) sebagai Kalika, dalam lakon Semar Gugat, Teater Koma. Dalam konteks akting dan vokal, kolaborasi Betari Permoni dan Kalika, merupakan kontribusi yang menonjol, menjadikan Semar Gugat sebagai tontonan yang menghibur. Hingga 10 Maret 2016, Teater Koma manggung di Gedung Kesenian Jakarta, di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Foto: isson khairul "][/caption]Hampir 2 jam full, Cornelia Agatha meneror pentas Teater Koma. Semar yang di-support para dewa pun keok. Mari kita sambut Cornelia Agatha, sebagai pelanjut nafas seni pertunjukan teater. Bukan hanya karena ia potensial, tapi karena ia sungguh-sungguh dalam seni peran.

Kesungguhan seorang Cornelia Agatha itulah yang patut kita apresiasi. Yang tak kalah pentingnya, tentu kesungguhan Teater Koma, yang selama 39 tahun, masih terus berkarya. Teater Koma didirikan pada 1 Maret 1977. Untuk menyaksikan kesungguhan Cornelia Agatha dan kesungguhan Teater Koma, datanglah ke Gedung Kesenian Jakarta, di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di sana, pada 3-10 Maret 2016, Cornelia Agatha menunjukkan kepiawaiannya dalam seni peran, dalam lakon Semar Gugat. Ini merupakan produksi Teater Koma ke-143.

Cornelia 2 Jam dari 2.5 Jam

Pertunjukan lakon Semar Gugat itu, berlangsung sekitar 2.5 jam. Dan, kalau mau dihitung, hampir 2 jam, Cornelia Agatha tampil di pentas. Ia berperan sebagai ratu setan, dengan nama Betari Permoni. Ia menjadi ratu setan di Kerajaan Amarta, sebuah negeri dalam dunia pewayangan. Dengan gegap-gempita dan penuh ambisi, Betari Permoni merasuki jiwa Srikandi, sejak sebelum sang Srikandi resmi dinikahi oleh Arjuna. Artinya, Srikandi memasuki mahligai perkawinannya, dengan jiwa yang sudah dirasuki setan, setan Betari Permoni. Setelah itu, yang dihadapi ksatria Arjuna dan istrinya, adalah malapetaka demi malapetaka.

Yang dirasuki Betari Permoni bukan hanya Srikandi, tapi juga para ring satu Kerajaan Amarta. Termasuk, para rakyat kerajaan tersebut. Akibatnya, kerajaan itu berantakan, babak-belur. Betari Permoni hanya berdua dengan setan kepercayaannya, Kalika, yang diperankan dengan bagus oleh Tuti Hartati. Dengan kata lain, dua setan saja, sudah lebih dari cukup untuk merasuki puluhan orang, bahkan untuk menghancurkan sebuah kerajaan. Inilah pesan moral yang utama dari lakon Semar Gugat. Maka, jangan main-main dengan setan. Jangan pula membiarkan diri dirasuki setan.

[caption caption="Ksatria Arjuna (kiri) diperankan oleh Daisy Lantang dan Srikandi (kanan) diperankan oleh Rangga Riantiarno, berdiri di singgasana Kerajaan Amerta. Sementara, Betari Permoni dan Kalika mengitari mereka, tiada henti merasuki jiwa pemegang tahta kerajaan tersebut dengan energi negatif, hingga memorakporandakan kekuasaan negeri pewayangan itu. Kita memahami dilema para pemimpin, untuk menegakkan kepemimpinan mereka. Ada intrik kekuasaan. Ada krisis kepercayaan rakyat. Dan, ada ratu setan yang tiada henti menggerogoti kepemimpinan mereka. Foto: isson khairul "]

[/caption]Nano Riantiarno, yang bertindak sebagai penulis naskah sekaligus sutradara Semar Gugat, juga memberi porsi yang besar kepada setan eh Betari Permoni eh Cornelia Agatha. Nano Riantiarno nampaknya sengaja menggedor jiwa-raga kita, betapa bahayanya setan bagi kehidupan. Ia merasa tak cukup dengan mengingatkan, tapi mengguncang-guncang kita, agar sadar sekaligus menyadari bahaya setan. Di alam nyata, kita menyaksikan orangtua yang sudah dirasuki setan, tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Juga, para penegak hukum yang sudah dirasuki setan, dengan semaunya menginjak-injak hukum yang seharusnya mereka tegakkan.

Inikah pertanda kebuntuan kehidupan? Adakah jalan untuk menemukan solusi? Tiga punakawan, Gareng-Petruk-Bagong, dengan keluguan mereka, mengatakan, ”Jalan sudah buntu. Sudah tidak ada lagi jalan. Semua jalan sudah ada yang menguasai. Jalan kereta api, sudah ada yang menguasai. Jalan tol sudah ada yang memiliki. Bahkan, gang sempit pun sudah dikuasai preman.” Kita tergelak, mungkin juga tertohok. Diam-diam, kita menyadari, memang demikianlah yang terjadi. Berbagai macam lini kehidupan, bahkan sektor-sektor yang vital, dikuasai oleh penguasa, mantan penguasa, juga oleh kaki-tangan penguasa.

[caption caption="Ksatria Arjuna dan Srikandi berdialog dengan Semar (kanan) yang telah berubah menjadi Prabu Sanggadonya Lukanurani, diperankan oleh Budi Ros. Sementara di sebelah kiri, Betari Permoni dan Kalika, terus mengintil mereka, merasuki jiwa mereka dengan energi negatif. Apa akibatnya bila pemegang tampuk kekuasaan sudah dirasuki setan? Yang terjadi adalah bencana demi bencana, yang kemudian meruntuhkan negeri demi negeri. Foto: isson khairul"]

[/caption]Bahaya Setan pada Kekuasaan

Apa akibatnya kekuasaan yang sudah dirasuki setan pada suatu bangsa? Pada Sabtu (10/11/2013), ada yang mencatat, bahwa hingga tahun tersebut, 50 persen aset di bidang perbankan sudah dikuasai bangsa asing. Sektor migas dan batu bara, 70-75 persen, sudah dikuasai asing. Sektor telekomunikasi, 70 persen sudah dikuasai asing. Sektor pertambangan emas dan tembaga, 80-85 persen sudah dikuasai asing. Sektor perkebunan dan pertanian dalam arti luas, 40 persen sudah pula dikuasai asing. Itu rekapan catatan hingga tahun 2013. Siapakah yang mencatat dan merekap? Tiga punakawan, Gareng-Petruk-Bagong kah?

Bukan. Yang mencatat dan merekap adalah Prof. Dr. Pratikno, Rektor Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ilmuwan dari UGM tersebut menyampaikan catatan dan rekapan itu pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Keluarga Alumni UGM (KAGAMA), menyambut pra Munas XII 2014 di Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Sabtu (10/11/2013). Bila Pratikno menyaksikan pentas lakon Semar Gugat ini, akankah ia tergelak? Bila Pratikno menonton akting Cornelia Agatha sebagai ratu setan, mungkinkah sang profesor doktor tersebut menyadari, betapa bahayanya pengaruh setan pada kekuasaan?

[caption caption="Tiga punakawan pewayangan (dari kiri ke kanan): Gareng diperankan Emanuel Handoyo, Petruk diperankan Dana Hassan, dan Bagong diperankan Dorias Pribadi. Mereka dengan lugu menghadapi jalan buntu. Karena, semua jalan sudah ada yang menguasai. Jalan kereta api, sudah ada yang menguasai. Jalan tol, sudah ada yang memiliki. Bahkan, gang sempit pun sudah dikuasai preman. Foto: isson khairul"]

[/caption]Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc., kini menjadi bagian dari kekuasaan. Ia bahkan sekarang berada di pusat kekuasaan, di Istana Negara, sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Pratikno resmi mengajukan surat pengunduruan diri sebagai Rektor UGM, pada 29 Oktober 2014. Sebagai orang yang berada di pusat kekuasaan pemerintahan Joko Widodo, Pratikno tentu sudah meng-update catatan serta rekapan penguasaan asing terhadap berbagai sektor aset bangsa ini. Seperti apa penguasaan asing terhadap aset bangsa, kini? Sebagai Menteri Sekretaris Negara, ia memang belum mem-publish data terkini tentang penguasaan aset bangsa oleh asing.

Akankah Pratikno mengemukakan data terbaru dengan lantang, sebagaimana yang ia lakukan pada Sabtu (10/11/2013) itu? Saat itu, Pratikno berkata, kondisi bangsa kita sudah mengkhawatirkan. Tanpa dukungan dan kebijakan oleh semua elemen bangsa, maka lambat laun seluruh aset akan jatuh ke tangan orang asing. Nah, di tengah gencarnya pemerintahan Joko Widodo menarik asing masuk ke Indonesia, data penguasaan asing seperti apa ya yang disampaikan Pratikno kepada sang Presiden? Tiga punakawan, Gareng-Petruk-Bagong dalam lakon Semar Gugat, sepertinya tidak hendak mengintervensi kekuasaan negeri ini. Kecuali, barangkali sang ratu setan eh Betari Permoni eh Cornelia Agatha.

[caption caption="Bagong mencemooh Prabu Sanggadonya Lukanurani, yang sesungguhnya adalah jelmaan Semar, ayah sang Bagong. Ketika kekuasaan sudah dirasuki setan, maka kesangsian merebak di mana-mana. Krisis kepercayaan akan meruntuhkan segalanya. Inilah pesan moral yang utama dari lakon Semar Gugat. Maka, jangan main-main dengan setan. Jangan pula membiarkan diri dirasuki setan. Foto: isson khairul "]

[/caption]Belajar dari Amarta

Yang diperankan Cornelia Agatha adalah ratu setan di Kerajaan Amarta. Ia mengenakan kostum serba merah, lengkap dengan rambut gimbal panjang, tanduk, dan selendang manik-manik. Sebagai Betari Permoni, Cornelia Agatha dengan sangat leluasa mengeksplorasi panggung Teater Koma, dari awal hingga akhir. Ia berlari, meloncat, dan berkata sinis. Ia menari, menertawakan, dan mengejek sembari terbahak-bahak. Ia kadang menyesali, juga memarahi Kalika, setan kepercayaannya, tatkala Kalika bertindak ceroboh. Dengan keleluasaan yang demikian leluasa, sang ratu setan eh Betari Permoni eh Cornelia Agatha, leluasa pula mengembangkan karakternya, dalam konteks seni peran.

Itulah yang menantang. Dan, Cornelia Agatha sukses mengeksplorasi karakter ratu setan Betari Permoni, dengan mengesankan. Kostum Cornelia Agatha yang serba merah, dirancang Rima Ananda Oemar dengan cermat dan detail.  Sebagai pemimpin tim tata busana Teater Koma sejak tahun 1997, Rima Ananda Oemar setidaknya mempertimbangkan beberapa hal terkait kostum ini. Di satu sisi, Betari Permoni adalah sosok setan. Di sisi lain, Betari Permoni adalah sosok yang cantik dan seksi, yang sesungguhnya sangat tergila-gila pada ksatria Arjuna. Karena itulah, sepanjang pertunjukan, kita tetap dapat menangkap pesona kecantikan serta keseksian Cornelia Agatha eh ratu setan eh Betari Permoni.

[caption caption="Hingga di penghujung pertunjukan, Cornelia Agatha eh ratu setan eh Betari Permoni, tetap menjadi bagian yang dominan. Nano Riantiarno, yang bertindak sebagai penulis naskah sekaligus sutradara Semar Gugat, seakan menggugat kesadaran kita bahwa setan ada di mana-mana, di negeri pewayangan maupun di negeri yang sesungguhnya. Tanpa kesadaran penuh, tiap orang berpeluang untuk dirasuki setan, yang dengan sendirinya akan menggerogoti kemanusiaannya. Foto: isson khairul"]

[/caption]Bahkan, sesekali, kaki Cornelia Agatha yang jenjang, tersingkap hingga ke atas lutut. Meski keseksian bukanlah komponen utama yang hendak ditonjolkan, tapi Cornelia Agatha senantiasa menjaga ritme karakter tersebut dengan apik. Demikian pula halnya dengan teknik vokalnya yang keren. Meskipun sedang meracau sebagai ratu setan, apa yang dikatakan Cornelia Agatha tetap jelas dan tegas. Bisa kita tangkap dengan baik. Di sepanjang pertunjukan, praktis lidahnya tidak pernah belibet, meskipun Cornelia Agatha tiada henti meracau, tidak pernah berhenti bergerak. Dalam konteks akting dan vokal, kolaborasi Betari Permoni dan Kalika, merupakan kontribusi yang menonjol, menjadikan Semar Gugat sebagai tontonan yang menghibur.

Sebagaimana dikemukakan Nano Riantiarno dalam jumpa pers di Sanggar Teater Koma, Jl. Cempaka Raya No. 15, Bintaro, Jakarta 12330, pada Rabu (24/2/2016), "Kami harap, pertunjukan ini menghibur, dan penonton yang hadir memahami pesan moral yang kami sampaikan dalam lakon ini." Apa yang dimaksud Nano Riantiarno sebagai pesan moral, tentulah terasa sebagai frame yang kuat, di tengah pertunjukan Teater Koma yang penuh tata warna ini. Kita memahami dilema para pemimpin, untuk menegakkan kepemimpinan mereka. Ada intrik kekuasaan. Ada krisis kepercayaan rakyat. Dan, ada ratu setan yang tiada henti menggerogoti kepemimpinan mereka.

Oleh: isson khairul (id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1/ - dailyquest.data@gmail.com)

 

Jakarta, 6 Maret 2016

Pertunjukan Semar Gugat, secara kostum, merupakan kombinasi unsur budaya India dan budaya Jawa. Rima Ananda Oemar, yang memimpin tim tata busana Teater Koma, menciptakan hampir 200 kostum untuk pentas kali ini. "Kami harap, pertunjukan ini menghibur dan penonton memahami pesan moral yang kami sampaikan dalam lakon ini," ucap Nano Riantiarno, sutradara Teater Koma.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun