Tekad saya sudah bulat, jika harus diopname lagi maka pilihan terbaik memilih operasi dengan segala resikonya. Pagi itu, ditemani kawan saya datangi Rumah Sakit Siloam, setelah menerima hasil rujukan dari klinik. RS Siloam dirancang bukan sekedar tempat pengobatan dan perawatan tapi lebih dari itu Siloam adalah rekayasa bisnis yang hebat.
Tiada pemandangan kesemrawutan, semua nampak seperti hotel atau swalayan. Petugas yang ramah dan rapi siap menyambut, didalam pengunjung dimanjakan dengan selasar warung makan dan bookshop. Dulu saya mengira, jaringan bisnis Siloam berasal dari luar negeri, rupanya salah, Siloam adalah bisnis Lippo Group. Hb saya anjok ke angka 7 normalnya minimal HB 12, ini lumayan bagus dibanding terakhir masuk RS, HB sampai angka 4.
Setelah proses administrasi selesai, saya langsung menuju ruang dokter. Dokternya sudah berumur dari aksennya saya bisa menduga satu kampung dari Makassar, dan benar kami satu almamater hanya beda fakultas. Proses basa-basi memang diperlukan untuk merilekskan suasana. Pagi itu sang dokter curhat, dia harus mengoperasi pasien yang jadwalnya bersamaan dengan waktu shalat Jumat. Walau di cap RS Kristen, Di Siloam banyak pasiennya yang muslim dari yang berpakaian biasa sampai yang bercadar, dari yang tidak berjenggot sampai yang berjenggot lebat dan berjidat hitam, pelayanan prima menjadi alasan mereka ke tempat ini.
Persiapan Operasi & Suster Cantik
Hasil rujukan dibacanya dengan seksama, dan berkata" bapak kena wasir yah, boleh saya cek pak". Ini bagian yang tidak menyenangkan harus ditelanjangi oleh dokter. "yah bapak harus segera di operasi" kata dokter, saya cek ada wasir di bagian dalam, ini sudah stadium 3, kata dokter itu. Rupanya, wasir (hemoroid) itu ada dua jenis yaitu wasir dalam dan luar.
Wasir luar yang sering nampak seperti bunga kol sedangkan wasir dalam berupa benjolan di bagian dalam dubur, ini sulit dideteksi kecuali dengan pemeriksaan langsung. Wasir dalam menyebabkan pendarahan saat BAB, memang tidak sakit tapi efeknya bisa kehabisan darah (anemia berat). Dengan secepat kilat, dokter mengatur jadwal operasi besok hari sabtu 6 Agustus 2016. Kebanyakan penderita wasir bersedia dioperasi setelah stadium 4 atau sudah parah sekali. Pada stadium 4, wasir semakin susah dimasukkan dan intensitas darah semakin sering.

Tiga jam setelah meminumnya, perut seperti diaduk aduk. Berita baiknya penyakit ini tidak termasuk 49 penyakit kritis yang jadi jualan agen asuransi. Untuk ketiga kalinya istri dan anak menemani di RS, luar biasa pengorbanan mereka. Lelaki beruntung itu punya istri yang hebat.
Jam 12.00 sabtu, dua suster berkulit bening datang dan mengajak saya ke ruang operasi. Sebelumnya pagi hari saya diminta untuk mandi dan mencukur semua bulu yang ada di bagian knalpot dan sekitarnya. Baru saja saya duduk di kursi roda, suster tersebut berkata "Bapak celana dalamnya dicopot saja, bapak pakai ini" saya sebenarnya mau iseng menyahut "bolehkah dibantu sama suster" nyali saya ciut melihat istri disamping mengawasi... Hihihi.. Ini penting sebelum operasi untuk rileks dan santai sedikit, becanda perlu.
Pasca Operasi & 7 Benjolan
Dokter anestesi menyuntikan obat bius dipingggang saya, rasanya sangat sakit, ingin rasanya teriak. Obat bius untuk pinggang kebawah. Kita termasuk generasi yang beruntung mengenal obat anestesi untuk pembiusan maka kita berutang budi sama William TG Morton yang memperkenalkan anestesi pada pembedahan.
Bayangkan kalau anestesi tidak ada, betapa sakitnya operasi. Hampir satu jam berada diruang operasi. Saat sadar kondisi sangat lemas, efek dari obat bius dan anti nyeri. Saya sama sekali belum merasakan efek sakit dari operasi tadi. Efeknya sakit baru terasa setelah buang air besar pertama, sakitnya memang dahsyat, saya sampai memohon ke suster ditambahkan dosis anti nyeri.

Hampir tiap malam kamar paling ramai, suara ketawa meledak terdengar keras sampai keluar. Beginilah orang Makassar kalau ketemu mereka terbiasa dengan becanda bahkan wasir pun dianggap candaan…hahahaha. Ada dua tempat dimana nama Allah sering disebut yaitu di Masjid dan Rumah sakit, ketika sakit disaat itu kita merasa dekat dengan Tuhan. Selama sepekan dirawat hampir semua biaya ditanggung asuransi, totalnya 36 juta.
Rekayasa Tuhan
Pasca operasi adalah hal yang terberat, tiga minggu lebih saya merasakan siksaan buang air tiap pagi bukan hanya sekali sehari kadang sampai 3 kali sehari. Kesehatan asalah aset yang berharga. Dulu ada tiga pantangan makanan yang mampir dilambung yaitu mie instan, kopi dan cabe, justru tiga ini jadi sahabat saya tiap hari (semoga tidak kambuh lagi), saya tidak merasakan sesehat ini sejak 10 tahun lalu.
Sebenarnya banyak pengobatan alternatif namun kurang sreg, obat-obat yang biasa muncul di TV sama sekali tidak menolong, entah karena obat tersebut tidak cocok dengan wasir dalam. Bahkan ada yang berani menawarkan pengobatan gaib dengan sekali minum obat yang sudah dijampi-jampi doa, wasir langsung lenyap.
Sejak awal saya sadar ini adalah Rekayasa Tuhan yang hebat, saya selalu berdoa minta disembuhkan dari sakit ini tapi Tuhan mengirim saya ke ruang operasi, mungkin Tuhan ingin berujar "sembuh denga minum obat hanya bertahan sebentar, tiap saat bisa kambuh lagi tapi dengan operasi bisa sembuh total".
Salam.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI