Kecanggihan teknologi pada saat ini telah menciptakan suatu fenomena baru di kehidupan remaja yang tinggal di perkotaan berupa perilaku mager atau bisa disebut sedentary.
Perilaku malas gerak yang di singkat menjadi istilah “mager” ini timbul sebagai efek dari kehadiran gadget (gawai) yang menino-bobokan remaja dengan segala atribut user-friendly-nya.
Berkat kemudahan gawai, segala kebutuhan kini dapat diperoleh cepat dengan hanya menekan “click” pada aplikasi di layar sentuh.
Hal ini tentu tidak membutuhkan aktivitas gerak dari tubuh, mengingat semua dapat tersaji dengan modal kepiawaian dari jari tangan saja.
Perilaku mager (sedentary) adalah perilaku yang tidak atau kurang banyak bergerak dari individu yang ditandai dengan pengeluaran energi ≤1,5 ekuivalen metabolik, baik saat posisi duduk maupun berbaring.
Aktivitas minim gerak fisik ini pertama kali dijumpai pada kelompok pekerja kantoran yang lebih banyak menghabiskan waktu harian selama 8 jam dengan hanya duduk dan memelototi layar monitor komputer sebagai bagian dari tuntutan pekerjaan.
Tetapi pada dasawarsa terakhir ini, perilaku mager juga mulai di jumpai pada kelompok usia dewasa muda dan remaja yang tinggal di perkotaan. Kesibukan bersama gawai saat santai di rumah memanjakan individu untuk semakin malas bergerak (mager).
Masa pandemi covid 19 saat ini membuat individu harus lebih banyak untuk stay at home (berada di rumah). Pembatasan fisik (physical distancing) dan pemberlakuan PJJ (pembelajaran jarak jauh) menuntut individu untuk lebih memaksimalkan perlengkapan gawai atau device elektronik dalam melakukan kontak sosial.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan perilaku mager di masyarakat yang berkaitan dengan internet, seperti: bermain media sosial, game online, mengecek surel, membaca berita terbaru, menonton streaming video atau tayangan saluran televisi, dan berselancar di dunia maya.
Kebutuhan makan dan belanja pun kini dapat dilakukan tanpa perlu berjalan kaki karena semua sudah tersaji dengan bantuan aplikasi digital atau mengangkat telepon saja.
Perkembangan teknologi bagaikan dua sisi mata uang, individu menjadi sangat terbantu dalam pemenuhan kebutuhan. Tetapi di sisi lain, membuat dirinya malas dalam menggunakan aktivitas otot dan tulangnya untuk bergerak aktif secara fisik.