Tentu saja, akhirnya saya sadar dan yakin mereka tidak melihat ketulusan senyum saya. Karena saya lupa, masker masih melekat erat menutupi sebagian muka saya. Itupun setelah waktu 20 menit berlalu, setelah sampai di depan rumah.
"Ada jagung manis, juga jagung pulut, Om".
"Sama-sama enaknya".
Dua bocah perempuan yang kaya rasa dengan menjemput tatapan mata manusia-manusia mekanis yang terburu-buru di tengah hari yang menderu dengan senyum ringan. Senyum keilkhlasan walau dibalas jiwa-jiwa hampa manusia mekanis dengan sungging tanpa rasa.
Sambil lalu, saya berfikir betapa di usia mereka yang masih kecil sudah harus menanggung beban dengan berjualan. Bukankah mereka berdua anak-anak usia sekolah. Yang waktunya banyak dihabiskan untuk belajar, membaca, bermain dengan teman-teman.
Lara duduk di sebelah kanan berjilbab lebar sedangkan Via yang duduk di sebelah kiri mengurai rambutnya yang panjang. Yang bikin saya kagum, Lara duduk sambil memangku Al Qur'an kecil dalam genggaman. Saya membayangkan betapa bernilainya waktu yang dilalui.
Di sela berjualan, bisa bercanda dengan teman karib seperjalanan. Di antaranya diamnya mungkin Lara membaca atau mengulang hafalan syat-ayat dari kitab kecilnya. Sementara di berbagai sudut bumi, bocah-bocah yang lain tenggelam dengan mobile legend, Â update status, sibuk tik tok, dan entah tenggelam di ceruk terdalam alam maya.
20 buah jagung sebaskom,dengan harga 5000 perak, berarti pulang membawa 100.000. Anak-anak pejuang yang meringankan beban ortu. Yang tidak sempat merengek minta hape untuk kesenangan.
Mungkin sempat di waktu lalu, tapi keadaan tidaklah mengijinkan. Yang terobati dengan uluran tanganmu sekedar membeli jagung manis dan jagung pulutnya. Itulah kesenangan sejatinya.
Apalagi saat baskom kosong, wajahnya pati berseri penuh kebahagiaan. Yang maknanya pasti berbeda dengan mendapatkan bintang di permainan dunia maya.