Ini kisah tahun 1992-an. Waktu itu saya sudah mahasiswa semester 3 di Unud, Denpasar Bali. Pas bulan Ramadan, dan jadi panitia Kegiatan Bulan Suci Ramadan, HMI Rayon Jimbaran.
Di kelurahan Jimbaran, di tahun itu masih sepi. Beda 10 tahun terakhir jadi kawasan elit wisata. Banyak mahasiswa muslim tapi masjid jauh di daerah Tuban, dekat Bandara Ngurah Rai. Maka HMI mengadakan kegiatan sholat taraweh dan ceramah di lapangan kompleks Telkom selama bulan Ramadan.
Di cerita pertama ini, sesuatu dibalik berbagai kegiatan itu. Sudah biasa tiap kegiatan seperti sholat tarawih dan ceramah, kami menghimpun dana dari donatur muslim di kota Denpasar. Untuk perlengkapan, snack berbuka seadanya. Jaman itu penceramah dan imam sholat, gratis.
Di suatu senja menjelang berbuka, saya dengan seorang teman naik sepeda motor pinjaman, Honda Astrea. Balik dari seorang donatur di kota Denpasar. Memberi dana sejumlah 15.000,- .
"Alhamdulillah dikasih segitu, ya".
"Heeh, Alhamdulillah, baik bapaknya".
Kami semangat pulang ke Jimbaran, untuk segera pulang kos, rencana berbuka seadanya dan melaporkan hasil kerja. Dari Jalan Raya Kuta, kami berbelok ke kiri hendak menembus menuju Jalan By Pass Ngurah Rai menuju Jimbaran. Ini jalan yang biasa  semua orang lalui. Kalau lurus ke kanan, sebelah BCA, tembus menuju Legian dan Pantai Kuta yang tersohor itu.
Eeh, tak kelihatan oleh mata saya. Ternyata di depan ada polisi. Priitt, prittiitt  sambil mengarahkan semua motor ke halaman pertokoan. Perasaan saya hampa dan tempias. Tetap saya lajukan motor sesuai arahan. Kemudian berhenti.
"Surat-suratnya, silahkan tunjukkan!".
KTM ada, SIM ada, STNK sayangnya tidak ada. "Tilang!, silahkan ke meja sidang". Â Semakin pucat kami berdua.