Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Jangan Salah, Makanan Kecil Bisa Merusak Budget Wisata Anda

26 Desember 2024   06:03 Diperbarui: 26 Desember 2024   06:03 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi makanan kecil/dok. depositphotos.com

Saya terbang dari Jakarta ke Pekanbaru, Riau, pada Sabtu lalu, kemudian berlanjut ke Payakumbuh bersama adik saya sekeluarga. Adik saya yang berdomisili di Pekanbaru akan berlibur beberapa hari di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Dengan kendaraan roda empat yang dikemudikan adik saya, kami berangkat pada hari Minggu (22/12/2024) sekitar pukul 07.00, setelah sebelumnya sarapan nasi goreng di rumah adik saya.

Dalam kondisi normal, perjalanan sejauh sekitar 188 kilometer itu, biasanya memakan waktu selama 3,5 jam hingga 4 jam saja.

Namun, karena kondisi adanya tanah longsor yang menutup sebagian jalan raya di dua titik menjelang perbatasan Riau dan Sumbar, waktu tempuh yang kami jalani jauh lebih lama, yakni 7,5 jam.

Informasi tentang kondisi jalan memang telah kami dapatkan, sehingga sebelum berangkat kami telah membekali diri dengan air mineral dan roti untuk dibawa dalam perjalanan. 

Kami mengantisipasi kalau lapar dan haus saat antre ketika sistem buka tutup diberlakukan di dua titik di atas. Kebetulan lokasi tanah longsor di kawasan yang sepi tanpa ada toko atau rumah di pinggir jalan.

Sekitar pukul 9.30 kami telah sampai di Rantau Barangin dan beberapa kilometer lagi akan menghadapi buka tutup di titik pertama.

Meskipun sudah ada roti dan air mineral, karena mau buang air kecil, akhirnya kami berhenti untuk masuk sebuah kios makanan kecil yang ada fasilitas toiletnya.

Jadilah kami duduk sebentar sambil minum kopi dan menikmati cemilan, setelah urusan ke toilet kelar. Harga makanan kecil di perjalanan antar kota lebih mahal ketimbang di perkotaan atau di pemukiman.

Uang sebesar Rp 240.000 (untuk 7 orang) pun berpindah tangan dari saya ke penjaga kios. Niat yang sekadar mau buang air kecil membuahkan pengeluaran tidak terduga yang relatif besar menurut ukuran kantong saya.

Ringkas cerita, pada sekitar jam 12.00 kami telah melewati buka tutup di titik kedua. Perjalanan ke Payakumbuh masih sekitar 2 jam lagi.

Kemudian, sekitar jam 12.45 kami singgah di Jembatan Kelok Sembilan, sebuah jembatan ikonik yang sekaligus menjadi objek wisata menjelang memasuki kota Payakumbuh.

Niat semula sekadar melepas lelah karena duduk lama di kendaraan, sambil berfoto-foto dengan latar belakang jembatan yang indah tersebut.

Tapi, lagi-lagi di luar rencana, kami singgah di warung kecil di pinggir jalan. Sengaja kami tidak mencari restoran untuk makan nasi, karena telah disiapkan makan siang oleh kakak saya yang menunggu di rumahnya di Payakumbuh.

Sebetulnya, alasan singgah di warung kecil bukan karena lapar. Toh masih ada cukup roti di mobil. Tapi karena itu tadi, pegel karena duduk lama di kendaraan dan mau foto-foto.

Kopi dan berbagai minuman lain yang tinggal seduh kami pesan di kedai itu. Begitu juga, aneka kue, krupuk dan kacang. Eh, kacangnya bikin ketagihan, tak terasa kami nambah lagi dan nambah lagi makan kacang.

O ya, dalam rombongan kami terdapat 3 anak remaja yang juga cukup boros dengan memesan pop mie. Jadilah 3 lembar uang Rp 100.000-an melayang untuk acara mendadak siang itu.

Kebetulan sekarang dalam suasana libur Nataru (natal dan tahun baru), bagi mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh, saya ingin berpesan agar perjalanan tidak "dicemari" oleh pengeluaran tidak terduga.

Pertama, jika ingin ke toilet lakukanlah di pom bensin. Di sini tersedia toilet gratis. Tidak perlu menoleh ke warung makanan kecil di dekat pom bensin.

Kedua, kalau sudah punya air mineral dan roti dalam kendaraan, sebaiknya itu yang dikonsumsi terlebih dahulu. Tidak perlu mengikuti cara saya di atas yang justru tergoda untuk singgah di warung makanan kecil.

Ketiga, kalau betul-betul lapar, lebih baik cari warung nasi yang menyediakan daftar tarif per jenis makanan. Berpikiran bahwa harga makanan kecil lebih murah dari makanan besar, tidak selalu benar. 

Jadi, jangan beranggapan karena makanannya kecil dalam ukuran, akan kecil juga nilai rupiahnya.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun