Ada baiknya sebelum melakukan renovasi, beberapa pelanggan yang datang diajak ngobrol santai. Minta masukan pelanggan tentang apa yang perlu diperbaiki.
Kalau pelanggan sudah puas dengan kondisi apa adanya, maka tinggal mempertahankan saja. Boleh memperbaiki bangunannya, tapi hanya untuk memelihara agar tidak cepat rusak.
Artinya, konsep dasar sebagai tempat makan sederhana dan murah, jangan diubah. Biarkan pelanggan makan lahap dengan keringat yang mengucur. Justru itu yang asyik.
Jangan tergiur melihat ramainya tempat makan lain yang terkesan bergaya kekinian dengan lahan parkir luas. Target market-nya berbeda dan bukan pesaing tempat makan ala desa.
Kelebihan tempat makan sederhana ala desa adalah harga makanan yang murah. Pelanggan tak perlu berdandan untuk datang, dan bisa duduk gaya bebas sambil ngobrol dengan pelanggan lain.
Bahkan, tak sedikit orang yang punya banyak uang, sengaja mencari tempat makan ala desa. Mungkin karena rindu suasana masa lalunya.Â
Atau, bisa jadi orang kaya itu sudah bosan dengan makanan di restoran bergaya elit dengan pendingin udara yang sangat sejuk.
Tidak hanya di bisnis kuliner hal di atas berlaku. Pada dasarnya, apapun bisnisnya, penting untuk menentukan target market atau kelompok pelanggan yang dibidik.
Bukankah kebutuhan kelompok orang kelas atas, kelas menengah, dan kelas pas-pasan, berbeda-beda, sehingga berbeda pula cara melayaninya?
Ada bank besar yang punya modal sangat cukup untuk membangun kantor yang megah. Tapi, ketika bank ini membuka kantor di desa-desa, tentu kantornya sangat bersahaja.
Pernah bank tersebut membangun kantor yang agak nyaman di sebuah desa. Apa yang terjadi? Beberapa nasabah masuk dengan membuka sandal, karena takut mengotori lantai.