Mama Titi tidak betah berlama-lama di rumah anak-anaknya, baik yang di Padang, di Pekanbaru, di Dumai, maupun yang di Jakarta.
Ia memang sangat cocok dengan kota kelahirannya, Payakumbuh. Bagi yang mengenal Payakumbuh mungkin akan sepakat, kota ini merupakan kota yang nyaman.
Udaranya tidak panas seperti Padang, tapi juga tidak dingin seperti Bukittinggi. Kotanya tidak ramai, juga tidak sepi. Inilah kota yang sedang-sedang saja.
Lagipula, Mama Titi memang orang yang mandiri dan tegas. Ia sangat sayang dengan cucu-cucunya, tapi bukan berarti mau berlama-lama tinggal di rumah anaknya agar selalu dekat dengan cucu.
Ia juga ingin anaknya bisa mengatasi problemnya sendiri dan tidak menjadikan orang tua sendiri sebagai penjaga cucu. Apakah harus mencari babysitter atau asisten rumah tangga, Mama Titi tidak ikut campur.
Sejak pensiun, Mama Titi mengisi waktu dengan lebih rajin beribadah. Apalagi di bulan puasa, Mama Titi bisa menamatkan membaca 30 juz Al Quran.Â
Tapi, pada minggu terakhir bulan puasa, ketika anak, menantu, dan cucu sudah datang, tentu kesibukan Mama Titi bertambah. Kesibukan yang disambutnya dengan bahagia dan bersyukur.
Mama Titi jago memasak, makanya kesibukan di dapur makin terlihat di saat menjelang lebaran. Rendang daging dan sambalado (sambal) buatan Mama Titi tak ada duanya di lidah anak-anaknya.
Keriuhan saat lebaran menjadi puncak kebahagiaan Mama Titi, karena para keponakannya yang juga datang dari berbagai kota, ikut berkumpul.
Selain berkumpul di rumahnya, rombongan keluarga besar Mama Titi dengan beberapa kendaraan roda empat mengunjungi beberapa rumah sanak famili dalam rangka berlebaran.
Selain itu, meskipun saat lebaran jalan utama macet oleh kendaraan para perantau, rombongan Mama Titi masih sempat berwisata ke tempat-tempat menarik di sekitar Payakumbuh.