Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Office Boy Jujur Lebih Mulia dari Koruptor Berdasi

5 Februari 2022   07:19 Diperbarui: 5 Februari 2022   07:22 915
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Para pemain sinetron "Office Boy"|dok. kapanlagi.com

Ngomong-ngomong tentang pekerjaan, sekarang banyak sekali jenis pekerjaan yang mewajibkan para karyawannya memakai seragam kerja.

Dulu yang sering kita jumpai dan sangat gampang diketahui pekerjaannya, contohnya adalah anggota TNI, Polri, pegawai Pemda, Satpol PP, Satpam, dan petugas kebersihan yang kalau di Jakarta berseragam oranye.

Ada juga seragam yang lebih spesifik dan terkesan lebih elit, seperti di lingkungan TNI ada anggota Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Sekarang, kalau kita main ke mal-mal atau ada urusan ke kantor tertentu, akan gampang pula menemui pekerja yang berseragam tenaga cleaning service, office boy, sales promotion girl (SPG), pelayan restoran Padang, tukang parkir, teknisi, dan sebagainya.

Atau kalau kita ke bandara, tentu melihat para pramugari dengan seragam kerjanya yang seksi (ada yang roknya dibelah dari lutut) dan seragam pilot yang terkesan gagah.

Dengan adanya pakaian seragam, selain akan mudah dikenali, tentu juga ada tujuan lain yang diharapkan oleh instansi atau perusahaan yang mewajibkan pekerjanya berseragam.

Bisa jadi untuk menanamkan jiwa persatuan atau agar lebih kompak, memudahkan koordinasi, dan tidak ada yang pamer pakaian mahal.

Tapi, dalam kondisi tertentu, seragam kerja bisa saja menjadi hal yang kurang menguntungkan. Misalnya, ketika ada aksi demo mahasiswa, aparat yang memakai seragam bisa dianggap lawan dan menjadi sasaran penyerangan.

Pernah pula terjadu "perang" antar instansi, misalnya tentara versus polisi dari kesatuan tertentu. Adakalanya, aparat dari kesatuan lain bisa jadi korban salah sasaran, gara-gara seragamnya sama.

Atau ada yang memakai seragam aspal buat mengeruk keuntungan pribadi. Biasanya polisi gadungan pasang aksi untuk menghentikan kendaraan dan pura-pura mau menilang, tapi ujung-ujungnya minta uang.

Tak sedikit pula wanita yang tergoda dengan lelaki berseragam yang menyatakan cinta, tapi berujung kekecewaan begitu ketahuan seragamnya bohong-bohongan.  

Jelaslah, untuk profesi tertetu, pakaian seragam merupakan sebuah kebanggaan, karena menunjukkan status sosialnya yang tinggi.

Sebaliknya, ada yang malu dengan seragam kerja. Office boy saat pulang kantor akan mengganti pakaian seragamnya dengan baju biasa, biar orang lain tidak tahu kalau ia seorang office boy.

Tapi, soal kewajiban berseragam, bukan soal bangga atau malu. Seperti telah disinggung di atas, hal ini berkaitan dengan peraturan di suatu instansi atau perusahaan dan sekaligus memudahkan pihak manajemen dalam mengawasi karyawannya.

Perusahaan yang tidak mewajibkan seragam kerja tentu juga punya alasan tertentu. Perusahaan startup (rintisan) sangat fleksibel dalam urusan berpakaian, sangat santai, karena lebih mementingkan kenyamanan dalam bekerja.

Dengan kenyamanan tersebut akan lahir ide-ide yang bagus atau akan memacu kreativitas para karyawannya. Maka, lahirlah berbagai bisnis yang berlangsung secara online, yang dulu tak terbayang akan terjadi.

Ada pula perusahaan yang hanya mewajibkan stafnya memakai kemeja dan dasi dengan warna dan motif bebas. Dasi sering dianggap sebagai lambang pekerjaan yang bergengsi.

Mengikuti anjuran pemerintah, lazim pula berbagai kantor yang di hari tertentu mewajibkan karyawannya memakai batik. Sedangkan warna atau coraknya, bebas saja. 

Dengan demikian, produksi batik yang rata-rata dilakukan oleh pelaku UMKM di berbagai daerah, tetap hidup karena memenuhi pesanan orang kantoran.

Adapun untuk level bos-bos, pada acara formal biasanya memakai jas dan dasi. Bisa juga memakai baju batik, tapi yang eksklusif berharga mahal.

Menarik pula diamati, pejabat di negara kita biasanya cepat beradaptasi dengan gaya berpakaian para pejabat yang lebih tinggi.

Gaya Presiden Jokowi yang senang berkemeja putih, tidak dimasukkan ke dalam celana panjang, dan lengan panjangnya sedikit digulung, juga ditiru oleh banyak pejabat.

Bagaimanapun juga, pakaian hanya sekadar simbol identitas. Simbol itu menjadi tidak berarti bila si pemakainya tidak sanggup bekerja secara profesional seperti yang dituntut oleh pekerjaannya.

Berdasi sekalipun kalau perangainya korup bukanlah orang yang terhormat. Tapi, seorang office boy yang menemukan dompet di toilet kantor, lalu menyerahkannya pada yang berhak, pantas diteladani integritasnya.

.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun