Tak pakai lama, foto kami sekitar 10 orang lagi makan-makan langsung disebar oleh seorang teman yang ikut kopi darat tersebut.
Adapun suguhan dari tuan rumah berupa nasi kotak dari sebuah rumah makan Padang, yang bagi saya pribadi enak-enak saja. Kelihatannya teman-teman lain juga makan dengan lahap. Maklum, semuanya adalah urang awak.
Bagi saya pribadi, tujuan utama ikut acara tersebut adalah bertemu teman-teman yang sudah lama tidak lagi pernah berjumpa, jadi bukan untuk menumpang makan siang.
Masalahnya, begitu foto-foto kami lagi santap siang dengan menu nasi kotak beredar di grup media sosial, ada satu komen nyelekit dari seorang teman yang juga seorang emak. Padahal, komen dari yang lain semuanya positif.Â
Memang, citra nasi kotak terlanjur dianggap rendah bila dibandingkan dengan jamuan makan bergaya prasmanan. Tapi, dugaan saya, tuan rumah menghidangkan nasi kotak karena pertimbangan kepraktisan saja, bukan karena ingin berhemat.
Untung saja komen yang nyelekit itu muncul di sore hari, saat acara sudah bubar dan saya sudah kembali ke rumah.Â
Soalnya, gara-gara komen itu, teman saya yang tuan rumah itu tadi merasa dihina dan membalas, sehingga dua orang emak-emak pun berantem di media sosial.Â
Padahal, teman yang menulis soal nasi kotak sudah mengakui bahwa ia sekadar bercanda saja dan tidak bermaksud menghina.
Tak tanggung-tanggung, balasan soal nasi kotak melebar ke soal rumah tangga. Kebetulan, yang berkomentar nyelekit itu sudah lama dirumorkan sebagian teman saya sebagai pelakor.
Maka si nasi kotak pun melakukan langkah "skakmat" dengan langsung menuding si nyelekit sebagai pelakor. Si pelakor masih sempat memberikan perlawanan terakhir dengan kalimat "emang masalah buat kamu?"
Namun, karena tidak ada bantahan dari si nyelekit, maka kalimat "emang masalah buat kamu?", bisa saja ditafsirkan sebagai membenarkan bahwa suaminya yang sekarang dulunya memang pernah jadi suami orang lain.