Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Masjid Agung Solo, Bangunan Kuno yang Berwibawa

17 Desember 2021   06:30 Diperbarui: 17 Desember 2021   07:29 1488
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Masjid Agung Surakarta|dok. jatengdaily.com

Masjid Agung Solo atau Masjid Agung Surakarta (nama resmi Solo adalah Surakarta), menjadi masjid yang saya pilih untuk menunaikan salat magrib, pada Sabtu (4/12/2021) lalu.

Ketika itu saya dan beberapa orang teman lagi berwisata tipis-tipis dengan rute Jakarta-Yogyakarta-Solo-Jakarta, dengan menginap di Solo selama 2 malam.

Sebetulnya, teman-teman saya tidak punya ide mau ke Masjid Agung. Begitu saya tanya "kita mau ke mana sore ini sebelum makan malam," teman-teman hanya bilang terserah saja.

Sesuai dengan kebiasaan saya, jika berkunjung ke suatu kota sering saya berkunjung ke Masjid Agung, Masjid Raya, atau masjid terbagus yang ada di kota tersebut.

dok. pribadi
dok. pribadi
Maka, akahirnya kami berkeliling kota terlebih dahulu dengan melewati jalan-jalan utama kota Solo, kemudian begitu mendekati waktu magrib merapat ke Masjid Agung.

Sudah beberapa kali saya ke Solo, tapi pada kunjungan-kunjungan sebelumnya belum sempat ke Masjid Agung. Alahamdulillah, kali ini kesampaian juga.

Ternyata lokasinya masih berdekatan dengan keraton, dan memang masjid ini disebut juga Masjid Agung Kraton Surakarta. 

dok. pribadi
dok. pribadi
Komplek masjid ini terlihat sangat luas, sehingga sulit mengambil foto dengan meng-cover keseluruhan area. Belakangan, dari referensi yang saja baca, luas lahannya hampir satu hektar.

Sedangkan ukuran bangunan utama masjid (terdapat di bagian dalam) adalah 34,2 x 33,5 meter dan mampu menampung sekitar 2.000 jamaah (sumber: indonesiakaya.com)

Setelah memarkir kendaraan, kami langsung menuju masjid. Melihat gerbangnya yang antik, kami langsung tergoda untuk mengabadikannya.

dok pribadi
dok pribadi

Terlihat pula menara di sisi kanan masjid sehingga memperkuat ciri sebagai masjid. Soalnya, kalau dari kejauhan hanya melihat atap masjid, tidak berupa kubah bulat seperti masjid pada umumnya, tapi lebih bertipe arsitektur Jawa.

Berikutnya, tampak bangunan kuno yang berwibawa berupa ruang terbuka (tanpa dinding) dengan pilar-pilar antik.  Tapi, ini bukan ruang utama masjid, walaupun bila jamaah melimpah, bisa juga difungsikan sebagai tempat salat.

Kemudian saya ke toilet dan ruang wudhu laki-laki yang berada di samping kiri ke arah menara. Sebagai masjid besar, cukup banyak tersedia kran air untuk berwuhu.

dok. pribadi
dok. pribadi
Setelah itu baru kami masuk ruang utama masjid di bagian dalam. Lumayan ramai jamaah yang ikut salat magrib ketika itu, memenuhi beberapa saf.

Termasuk jamaah wanita pun, yang salat di ruang terpisah, juga cukup banyak. Hal ini saya ketahui pas berjalan keluar masjid.

Pada malam hari, di bagian luar masjid (di area parkir) ramai dengan pedagang yang menjajakan makanan, mainan anak-anak, dan sebagainya.

Kembali ke referensi yang saya baca, ternyata sejarah Masjid Agung Solo sudah demikian lama, karena didirikan hampir 3 abad yang lalu.

Tadinya, karena ada angka 1859 di atas pintu toilet laki-laki, saya kira masjid tersebut dibangun tahun 1859. Ternyata malah jauh sebelum itu, yakni sekitar tahun 1749.

Masjid yang awalnya dinamakan Masjid Ageng Keraton Hadiningrat tersebut dibangun oleh Pakubuwono III dan masjid ini berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Solo.

Sepanjang perjalanannya, masjid telah mengalami penambahan dan renovasi. Seperti pembangunan menara, dilakukan oleh Pakubuwono X.

Penambahan terakhir dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta dengan membangun perpustakaan, poliklinik, dan kantor pengelola.

Sampai saat ini, Masjid Agung Surakarta masih menjadi pusat tradisi Islam di Keraton Surakarta, tempat  penyelenggaraan berbagai ritual keagamaan seperti sekaten dan maulud Nabi Muhammad SAW.

Salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat.

Bagi para pelancong yang berkunjung ke Solo, selain menikmati aneka makanan khas dan berbelanja pakaian batik, ada baiknya merasakan syahdunya beribadah di Masjid Agung Surakarta yang sarat nilai sejarah.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun