Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pesta Tahun Baru Tempo Dulu Lebih "Gila", Sekarang Lagi Prihatin

1 Januari 2019   00:01 Diperbarui: 1 Januari 2019   13:05 853
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selamat tinggal 2018, selamat datang 2019. Waktu yang berlalu tak kan pernah kembali lagi, namun sejarah selalu berulang. Kalau tahun 2018 ditandai dengan banyaknya terjadi bencana di tanah air tercinta, tahun 2019 pun ancaman itu tak berkurang.

Tapi orang bijak selalu mampu belajar dari sejarah. Maka seharusnya kita semua sudah lebih siap dalam menghadapi bencana sehingga risikonya bisa termitigasi dengan baik. 

Mangingat sejumlah bencana yang menimpa negara kita baru saja terjadi secara beruntun, beberapa kepala daerah, termasuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak merayakan pergantian tahun secara berlebihan.

Salah satu kriteria tidak berlebihan itu adalah dengan tidak mengadakan pesta kembang api. Padahal boleh dikatakan pesta kembang api menjadi acara puncak yang dipertunjukkan selama beberapa menit saat mulai jam 00.00 setiap 1 Januari di semua kota besar dunia.

Bahkan di beberapa tempat yang menggelar acara khusus menyambut tahun baru, diagendakan meminta mereka yang hadir untuk melakukan perenungan sejenak, mengintrospeksi apa saja kesalahan yang dilakukan baik secara individu maupun bersama-sama, serta bertekad untuk tidak berbuat hal serupa di masa datang.

Beberapa organisasi melakukan zikir bersama sebagai wujud rasa syukur atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan oleh Sang Pencipta, memohon ampun atas segala dosa, dan meminta petunjuk serta keberkahan atas berbagai hal yang akan dilakukan.

Jakarta sebagai ibukota negara yang menjadi barometer dalam urusan pesta tahun baru tentu mempunyai banyak sekali event, baik yang dibuat oleh pihak tertentu dengan motif komersial, maupun oleh pemda sebagai hiburan buat masyarakat umum.

Alasan kita harus prihatin karena bencana alam, tidak menyurutkan niat sebagian warga ibukota yang memang memerlukan momen tertentu untuk sejenak melepaskan beban kehidupan yang kian berat.

Maka sejumlah acara pun disusun oleh Pemda DKI dalam rangka menyambut tahun baru. Ada empat panggung hiburan disiapkan yakni di pintu masuk Monas dari sisi barat daya, bunderan Hotel Indonesia, perempatan ujung Jalan Kebon Sirih, dan perempatan ujung Jalan KH Wahid Hasyim.

Bagi warga yang tertarik dengan kesenian Betawi bisa datang ke Setu Babakan, Jakarta Selatan, tepatnya di Perkampungan Budaya Betawi. 

Ada lagi acara yang cukup unik yang langsung dihadiri Gubernur Anies Baswedan yakni pernikahaan massal yang digelar oleh Pemprov DKI di Lapangan Parkir Thamrin 10, Jakarta Pusat. 

Di samping itu, di tempat pernikahan yang diikuti 557 pasangan dari warga kurang mampu itu, ada pula bazar yang menawarkan berbagai produk yang dibuat oleh para pengusaha kecil.

Melihat berbagai kegiatan tersebut di atas, jelas bahwa Pemda berharap masyarakat tidak sekadar berhura-hura saja yang tergambar dari konser musik di pangung hiburan, tapi juga ada agenda yang punya nilai tersendiri seperti pernikahan massal dan acara pelestarian budaya tradisional Betawi.

Dalam sambutannya dihadapan puluhan ribu penonton panggung hiburan di Monas, Anies mengingatkan agar masyarakat semakin tawakkal dan mengambil hikmah dari berbagai bencana selama tahun 2018 yang baru ditinggalkan.

Kalau kita menelusuri bagaimana warga Jakarta merayakan pergantian tahun, justru di periode kepemimpinan Ali Sadikin (1966-1977) jauh lebih meriah dan lebih "gila".

Saat itu, seperti yang ditulis Kompas, 30/12/2018, Ali Sadikin membolehkan warga bermain mercon selama tiga hari, dari 31 Desember sampai 2 Januari. 

Sebagai contoh, ketika menyambut tahun baru 1968, pada perayaan yang dipusatkan di depan Gedung Sarinah di Jalan Thamrin, terjadi perang mercon yang sengit antara anak-anak di lantai bawah dengan yang di lantai atas.

Sedemikian semaraknya suasana, sehingga jalan-jalan raya, jalanan kampung, dan halaman-halaman rumah hampir dipenuhi kertas-kertas sisa ledakan mercon. Pesta mercon berlangsung hingga subuh.

Hanya saja pesta meriah tersebut juga membawa musibah. Pada malam tahun baru 1968, lebih dari setengah abad yang lalu, tercatat 300 orang terluka akibat ledakan mercon.

Kembali ke suasana saat ini, di tengah banyaknya imbauan melalui media sosial agar masyarakat tidak ikut-ikutan berpesta tahun baru dengan berbagai dalil keagamaan, maka apa yang tersaji di Jakarta 31 Desember 2018 malam sampai dini hari 1 Januari 2019, merupakan upaya kompromi dengan mengakomodir beberapa aspirasi dari berbagai kelompok masyarakat.

Tindakan yang serta merta main pukul rata, misalnya dengan meniadakan panggung hiburan, rasanya terlalu gegabah. Mungkin satu kelompok akan senang, tapi kelompok lain akan kecewa berat.

Sepanjang pesta tahun baru berlangsung secara tertib tanpa membawa korban, itu sudah merupakan hal yang lumayan. Meskipun di mata kelompok yang lain, pesta duniawi seperti itu dinilai mubazir.

Sekali lagi, selamat tahun baru 2019. Semoga di tahun politik ini, negara kita tercinta tetap penuh kedamaian. Yang paling penting kita tetap bersatu, walaupun pilihan politik berbeda-beda.

Tak lupa pula kita berdoa agar Indonesia semakin sejahtera, korupsi semakin berkurang, peredaran narkoba semakin menurun, dan frekuensi tindak kejahatan juga turun. 

Selain itu kita harapkan semoga bencana alam berkurang baik frekuensi maupun korban dan kerugian yang ditimbulkannya. Terhadap kasus-kasus  yang selama ini masih belum terungkap, semoga segera tertuntaskan. Satu lagi, semoga tak ada lagi pengaturan skor dalam pertandingan sepak bola.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun