Sejarah Indonesia, tanah yang subur dengan warna-warni keberagaman, terbentang dalam melodi kemerdekaan yang penuh dengan harmoni dan disonansi.
Rentang waktu yang panjang memperkenalkan kita pada babak bersejarah yang tidak terpisahkan dari memori kolektif, yaitu masa kolonialisme Belanda.
Melalui sorotan lensa sejarah, kita dapat memetakan lanskap perjuangan, menggali harmoni dalam perbedaan, dan meretas disonansi yang melekat pada pita hitam putih sejarah Nusantara.
Pada awal abad ke-17, Belanda mendarat di kepulauan rempah-rempah ini dengan cita-cita perdagangan.
Melodi pertama kolonialisme Belanda menggema dalam ekspedisi ke seluruh pelosok Nusantara.
Gagalnya Upaya pertama mereka untuk mengendalikan Maluku melalui Perjanjian Bungaya di Sulawesi, hanyalah prolog dari sebuah narasi panjang yang penuh dengan kekuasaan, eksploitasi, dan perlawanan.
Begitu meresapnya kolonialisme, ia membentuk notasi sosial, ekonomi, dan politik yang menyusup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Harmoni tercipta dalam bentuk hubungan dagang yang berkembang, tetapi disonansi muncul saat kekayaan alam Indonesia dieksploitasi tanpa ampun.
Perdagangan rempah-rempah, terutama cengkih dan lada, menjadi simbol dari kekayaan yang diinginkan Belanda.
Di samping itu, musik kolonialisme memainkan melodi ketidaksetaraan. Kelas sosial dibangun di atas dasar etnisitas dan warna kulit, menciptakan hierarki yang menyengsarakan sebagian besar penduduk pribumi.
Ketidaksetaraan ini menjadi salah satu disonansi yang tak terelakkan, memerangkap banyak jiwa dalam ketidakadilan sejarah.