Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa utang negara akan membebani anak cucu. Padahal, sepanjang utang tersebut digunakan secara produktif, justru akan membawa angin segar.
Dengan utang, anak cucu kita akan bisa punya pendidikan dan pekerjaan yang baik. Kalau mereka semakin kuat baik secara kesehatan, mental, maupun finansial, Â harusnya utang menjadi sesuatu yang ringan. Sementara kalau mereka lemah, jangankan utang Rp 10 juta, Rp 1 juta saja sudah terasa berat.
Selain itu, utang negara berbeda dengan utang pribadi. Utang pribadi harus dilunasi oleh keluarganya begitu orang tersebut meninggal, sementara negara diciptakan untuk eksis selamanya. Dengan begitu, akan banyak skenario untuk mengelola utang, misalnya melalui restrukturisasi pembiayaan.
Meski berutang dalam jumlah besar, negara maju seperti Jepang mampu mengelola strategi pembiayaan dengan baik. Sebagian besar utangnya dimiliki oleh rakyatnya sendiri.
Berkaca dari hal tersebut, pemerintah mendorong agar basis investor domestik meningkat. Dengan begitu, pembiayaan pemerintah akan semakin mandiri dan terhindar dari risiko kurs atau hot money.
Pada beberapa kali penerbitan ORI dan Sukuk Ritel, minat beli masyarakat terlihat tinggi, meski kondisi pasar keuangan masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global. Penerbitan SBN ritel yang selalu oversubscribed menandakan bahwa fitur-fitur yang ditawarkan menarik dan sesuai kebutuhan investor
Khusus untuk Sukuk Negara Ritel, kelebihan permintaan menandakan besarnya keinginan investor untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur, mengingat underlying asset-nya berupa proyek-proyek infrastruktur.
Meski begitu, pemerintah, pemerintah juga perlu waspada dengan tingkat bunga yang diberikan. Kalau tingkat bunga SBN lebih tinggi dari pasar, wajar kalau oversubscribe. Tetapi jangan sampai swasta tidak kebagian investasi karena mereka akan menaikkan imbal hasilnya sehingga berpotensi menimbulkan crowding out effect.
Selain itu, tingginya minat masyarakat untuk membeli SBN tidak boleh menjadikan pemerintah malas mengejar pajak. Utang tidak boleh berlebihan, kita tetap harus mengoptimalkan penerimaan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H