Kebanyakan orang tentu ingin uang namun, juga ingin kesehatan. Merokok bagi saya adalah pemborosan yang sia-sia karena tidak membeli barang atau jasa yang bermanfaat.Â
Bayangkan saja jika dalam sehari menghabiskan uang 30 ribu untuk merokok. Jika dikali dalam tiga puluh hari maka uang yang dihabiskan dalam sebulan adalah sembilan ratus ribu rupiah. Nominal yang cukup besar untuk membeli rokok.Â
Jika dikalikan dalam setahun maka jumlah uang yang dihabiskan untuk membeli rokok adalah sepuluh juta delapan ratus ribu rupiah. Uang sepuluh juta tersebut bisa membeli barang atau melakukan investasi yang lebih menguntungkan.
3. Masalah kesehatan.Â
Bukan rahasia umum lagi jika merokok dapat menimbulkan kesehatan mulai dari penyakit jantung, impotensi, hingga masalah dengan paru-paru. Kebanyakan orang yang merokok jika ditanya soal kematian akan menjawab "siapa pun bisa meninggal, soal umur tidak ada yang tahu".Â
Tentu saja jika menikah saya ingin memiliki pasangan yang berumur panjang hingga kami menua. Meskipun rokok bukanlah satu-satunya penyebab seseorang bisa meninggal namun, merokok dapat menurunkan kualitas hidup.Â
Tentu saya tidak ingin menghabiskan sisa umur dengan orang yang menderita penyakit jantung atau paru-paru yang membuatnya tidak bebas bergerak. Ironisnya penyakit tersebut didapat karena merokok. Selain itu, saya juga ingin memiliki sirkulasi udara yang bersih di dalam rumah.Â
4. Dapat memberi contoh baik bagi anak kelak.Â
Ayah yang perokok lebih berpeluang besar memiliki anak yang perokok pula.Â
Anak akan cenderung meniru perbuatan orang tua, terlepas itu baik atau buruk. Saya melihat sendiri adik-adik saya tidak merokok karena ayah yang tidak merokok.Â
Tentu saja seorang ibu ingin anaknya memiliki pola hidup sehat. Pola hidup sehat diturunkan secara tidak langsung dari orang tua.Â
Tulisan ini murni dari pemikiran saya sendiri. Tentu saja ada banyak pro dan kontra soal rokok namun, saya tetap tidak mau memiliki pasangan seorang perokok. Semoga tulisan ini bermanfaat.Â