Mohon tunggu...
Ira widhiya sari
Ira widhiya sari Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Prodi PAI Wali Sembilan Semarang

Setiap apa yang aku tanam semoga menjadi apa yang akan aku unduh, seperti benih yang aku taburkan, semoga menjadi benih yang bermanfaat bagi banyak orang.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Lihatlah Allah, Hati Tenang

30 Oktober 2024   12:19 Diperbarui: 30 Oktober 2024   12:24 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

" Para ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud hanya merasa risau hati mereka bila terhalang dari melihat Allah SWT, dalam segala sesuatu. Sebaliknya, tidak ada sesuatu pun yang dapat merisaukan hati mereka bila mereka mampu menyaksikannya." ( Al- Hikam )

Ahli ibadah adalah orang-orang mengabdikan diri mereka sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah swt. Setiap momen senantiasa di isi dengan ketaatan dan ibadah. Sedangkan orang-orang yang zuhud rela meninggalkan dunia untuk mendapatkan kecintaan dan ridhonya. Diantara mereka tidak sedikit yang berasal dari kalangan orang kaya, hanya saja harta mereka berada ditangan, tidak sampai menyentuh hati mereka. Sehingga mereka bebas tidak dikendalikan hawa nafsu.

Kedua kelompok ini adalah orang yang dekat dengan Allah, hati mereka tidak pernah risau dan gundah. Saat di timba musibah, mereka menyadari dan memahami bahwa Allah swt adalah dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang tidak akan  menguji hambanya di atas kemampuanya. Mereka tidak merasa risau dan khawatir karna kehilangan harta dll, sebab mereka menyadari bahwa Allah swt adalah dzan maha kaya.

 Maka beribadalah dengan ihsan. Bahkan, dalam segala sesuatu pun, kita harus bersifat ihsan. Bersifat ihsan dalam setiap sesuatu berarti menyadari bahwa Allah swt senantiasa melihat dan mengawasi hambanya. 

jika kamu bermaksiat pada Allah dan memiliki keyakinan dia melihatmu, maka kamu berarti meremehkan pengawasannya. Jika kamu bermaksiat pada Allah dan meyakini dia tidak melihatmu, maka kamu telah menjadi kafir." ( Petuah ulama salaf." )

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun