Larut dalam rasa. Jiwa gundah dalam gejolak bara. Kesepian beku dalam ramai dunia. Terdampar sendiri dalam duka lara.
Siapa mau, sakit tapi tak terlihat. Luka tak berdarah. Tapi tersungkur. Terseok dalam ruang waktu. Kandas tersandra, disiksa neraka rasa.
Aku tak cerita, itu tak perlu. Tak perlu semua orang tahu. Aku kenapa itu urusanku. Ini duniaku. Biarkan aku selesaikan sendiri, ini caraku. Ini duniaku.
Perselisihan yang rumit. Hati ini terlanjur teriris sakit. Cinta yang mati tak tumbuh bangkit. Dipaksa pura pura baik, malah terpuruk sakit.
Hati itu muara cinta sejati. Ada janji suci dalam Hukum Illahi. Ada dosa dan pahala menanti. Urusan kita itu terus berlanjut hingga akhirat nanti.
Jika dilanggar, hidup sengsara menanti. Tak bisa direkayasa, diteruskan jauh dari berkah Illahi. Jadi sulit Rejeki. Hidup hanya sekali, untuk apa diisi beban hingga mati.
Aku bisa memaafkanmu, karena aku manusia. Tapi apa syariat Tuhan bisa ditipu dengan rekayasa. Ini soal sucinya Ikatan Cinta. Janji yang dilanggar menumbuhkan dosa. Aku tak Sudi binasa, dalam drama dusta.
Bukan aku tak bisa melepasmu. Yang sudah terjadi, akan jadi ganjalan selalu. Selingkuhmu. Alasanmu. Bukan aku, tapi hukum Tuhan yang kau anggap tak perlu. Aku tak mau hidup dalam ikatan palsu, yang membelenggu.Â
Ikhlas Melepas. Kita sudah jatuh kandas. Cinta pernah ada, tapi sekarang terhempas. Dilanjutkan, hanya jadi sandiwara panas. Jangan dipermainkan. Jangan diombang ambingkan. Saatnya Ikhlas Melepas, tak perlu rekayasa yang digagas, keputusan sudah ditetapkan dengan tegas.
Malang, 29 September 2022
Ditulis oleh Eko IrawanÂ
Untuk Seri Puisi Hari ini #20
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H