Mohon tunggu...
Iqbal Tawakal
Iqbal Tawakal Mohon Tunggu... Konsultan - Jakarta

Artikel baru, setiap Rabu dan Sabtu. Lihat artikel lainnya di bit.ly/iqbalkompasiana

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

"The Rocket Years", Periode Emas untuk Mencari Pekerjaan yang Pas

9 Desember 2020   12:51 Diperbarui: 9 Desember 2020   16:20 321
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam situasi sulit dan tak menentu, cemas terhadap banyak hal, termasuk karir ke depan, adalah lumrah. Terutama bagi kaum muda usia 20an yang mulai masuk ke fase dewasa.

Elizabeth Sagran dalam bukunya yang berjudul The Rocket Years: How Your Twenties Launch the Rest of Your Life menjawab persoalan ini dari sudut pandang yang tak biasa. Menurutnya, ketakutan dan rasa cemas terhadap karir adalah hal yang wajar dan pasti dirasakan oleh setiap orang. Tak terkecuali remaja.

Ketika itu terjadi, remaja akan mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, seperti keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosialnya. Pada satu titik, kondisi ini akan menimbulkan kemelut (chaos) dalam diri. Meski sulit dan berat, chaos ini adalah fase yang harus dilewati.

Di fase ini, seseorang akan merasa stuck, tak berdaya, penuh keraguan, merasa terlambat dan tertinggal, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, hingga kesulitan untuk tidur di malam hari sambil gelisah dan bertanya-tanya "kapan harus resign dari pekerjaan saat ini?"

Namun, selain penuh dengan ketidakpastian, fase ini juga memiliki peluang. Liz Segran menuliskan, 

"Your twenties will be an extended period of professional exploration." 

Untuk mendapatkan dream job, pencarian atau eksplorasi harus dilakukan.

Ilustrasi buku. Sumber: mmlafleur.com
Ilustrasi buku. Sumber: mmlafleur.com
Menjadi professional job-hopper
Hari ini, sebagian besar orang telah 'gonta-ganti' pekerjaan, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, rata-rata sebanyak 12 kali di sepanjang karirnya. Dan itu terjadi di usia-usia 20 hingga 30an. Liz Segran menyebut orang-orang yang melakukan ini sebagai professional job-hopper. 

Pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya ternyata cukup dianjurkan di usia muda. Ada cukup banyak manfaatnya, seperti menambah skill baru, peluang menambah penghasilan, kenalan dan networking, dan mendapatkan banyak pengalaman berharga.

Apakah ada kriteria, berapa lama seseorang harus bertahan di satu pekerjaan sebelum 'loncat' ke kesempatan yang baru?

"As long as you stay at each job for at least one or two years, it won't be a mark against you to jump around."

Meski demikian, manfaat dari job-hopping, pencarian, dan eksplorasi ini mulai berkurang ketika kita memasuki usia 30an. Ini karena di usia tersebut sudah waktunya seseorang untuk fokus dan mendalami satu bidang yang menjadi keunggulannya.

Menemukan dream job
Pertanyaan berikutnya, apakah dream job bisa didapatkan oleh semua orang?

Data menunjukkan, banyak orang pada akhirnya merasa puas dan klik dengan pekerjaannya saat ini. Namun, sekurangnya butuh waktu sepuluh tahun untuk sampai pada kondisi itu. Jalan yang harus ditempuh tak selalu mulus, bahkan berliku-liku.

"It involves a lot of searching and can be marked with disappointments."

Banyak hal yang harus dihadapi, seperti bos galak, lingkungan kerja yang toksik, atau mungkin merasa overqualified terhadap role yang dijalani saat ini. Kesulitan-kesulitan ini akan menjadi pengalaman berharga dalam pencarian dream job. Meski awalnya sulit, pada waktunya seseorang akan merasa klik dengan pekerjaannya. Ini membutuhkan kesabaran dalam menjalani proses dan menerima kenyataan kalau jalannya tak selalu mudah.

Menempuh jalan pencarian itu pun juga berisiko. Seperti kemungkinan masih ada perasaan tak puas dalam pekerjaan dan kebingungan terhadap apa sebenarnya yang jadi keunggulan diri, meski sudah mencoba banyak pekerjaan di banyak perusahaan.

"The gig economy is a good way to explore your skills and interests by taking on freelance positions or projects."

Satu dekade silam, gig economy belum dikenal. Kini, dengan akselerasi internet dan teknologi, kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan sesuai skill menjadi alternatif solusi.

Jam kerja yang fleksibel, keluwesan tanpa terikat kontrak, dan penghasilan yang menggiurkan membuat gig economy menjadi pilihan banyak orang. Tak hanya itu, profesi-profesi seperti content writer, driver angkutan online, editor, graphic designer, hingga pengajar kursus online juga dilakukan agar tetap produktif sembari menunggu kesempatan tawaran kerja yang lebih baik datang.

Dalam bukunya tersebut, Liz Sagran tak hanya menjelaskan cara menghadapi chaos saat kita merasa cemas terhadap karir ke depan. Ia juga menceritakan pengalamannya ketika melalui masa-masa itu.

Pasca memperoleh gelar Ph.D, Ia harus memulai karir dari bawah sebagai anak magang di agensi PR swasta, sebelum mengetahui potensinya di bidang jurnalistik. Ia menuturkan pengalamannya secara detail sebagai contoh praktis kepada pembaca tentang hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika ada dalam posisi tersebut.

Terlebih, ditambah situasi krisis pandemi yang terjadi saat ini, toleransi diri terhadap situasi chaos adalah keniscayaan bagi setiap orang. Cobaan dan tantangan yang dihadapi setiap orang tentu berbeda satu sama lain. Namun, satu hal yang pasti adalah masih banyak refleksi dan pembelajaran yang bisa kita ambil dari momen seperti ini.

***
Tulisan ini adalah bagian dari serial Post-Pandemic World. Artikel baru, setiap Rabu dan Sabtu.

P.S: 
Bulan ini adalah bulan terakhir saya di perusahaan lama, sekaligus di tengah persiapan untuk menyambut kesempatan baru di depan.

I am scared and excited at the same time.
Wish me luck!
Dan untuk teman-teman lain di luar sana yang berada dalam situasi yang sama, tetap semangat dan optimis!
Cheers!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun