Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer Peduli Edukasi.

Kami mendukung taman baca di Soa NTT dan Boyolali. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. Untuk donasi naskah, buku, dan dana silakan hubungi: donasibukuina@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Mirisnya Aktris Anak Perankan Peran Dewasa, Saatnya Industri Sinetron Berkaca Diri

3 Juni 2021   06:17 Diperbarui: 3 Juni 2021   06:31 318
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi menonton sinetron di televisi | Photo by KoolShooters from Pexels

Warganet heboh membincangkan sebuah sinetron yang menampilkan seorang aktris usia anak-anak dalam peran untuk orang dewasa. Sinetron tersebut bertajuk Suara Hati Istri Zahra. Mirisnya lagi, si aktris anak memerankan peran sebagai istri ketiga.

Saya tidak akan mau menonton sinetron yang menampilkan aktris usia anak-anak, tepatnya usia 15 tahun dalam peran sebagai seorang istri dari pria dewasa. 

Aktor lawan main si aktris anak-anak itu sudah berusia 39 tahun. Ditilik dari usia, jelas bahwa si suami Zahra lebih pantas menjadi ayah Zahra. Sayang sekali, dalam sinetron ini justru aktris yang dipilih untuk memerankan Zahra masih berusia bocah menurut undang-undang di Indonesia.

Pasal UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 angka 1 menyatakan bahwa “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Mengkampanyekan pernikahan usia dini secara terselubung

Meskipun naskah sinetron tersebut tidak secara gamblang merinci usia Zahra, wajar saja sejumlah pemirsa merasa bahwa diam-diam sinetron itu mengkampanyekan pernikahan usia dini.

Pernikahan usia dini dinilai banyak akademisi sebagai pernikahan yang membawa banyak sekali dampak negatif bagi anak-anak. Salah satunya adalah risiko bagi ibu dan bayinya.

Kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. 

Penyebabnya, organ reproduksi anak belum berkembang dengan baik dan panggul juga belum siap untuk melahirkan. Data dari UNPFA tahun 2003, memperlihatkan 15%-30% di antara persalinan di usia dini disertai dengan komplikasi kronik, yaitu obstetric fistula.

Pernikahan dini juga rawan risiko KDRT dan masalah psikologis karena anak-anak memang belum matang secara emosional untuk membangun relasi berkomitmen. Pasangan yang lebih dewasa bisa mendominasi pasangan yang masih di bawah umur. Ketimpangan relasi pun terjadi.

Menganggap wajar grooming pada anak-anak

Satu hal lagi yang dikritik oleh warganet dan pemirsa adalah bahwa sinetron itu seakan menganggap wajar proses grooming pada anak-anak. Grooming adalah upaya untuk mendapatkan "cinta" dari calon pasangan yang biasanya masih muda belia dengan modus yang bertendensi pelecehan seksual.

Psikiater forensik Amerika Michael Mark Welner, M.D. mendefinisikan grooming sebagai proses di mana pelaku membujuk korban ke dalam hubungan seksual dan menjaga hubungan tersebut secara diam-diam.

Sementara itu laman nspcc menakrifkan grooming sebagai proses ketika seseorang membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan menyalahgunakannya.

Anak-anak dan remaja yang telah di-grooming dapat dilecehkan secara seksual, dieksploitasi atau diperdagangkan.

Siapa pun bisa menjadi pelaku grooming, tidak peduli usia, jenis kelamin, atau ras mereka. Grooming dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek atau panjang. Pelaku grooming juga dapat membangun hubungan dengan keluarga atau teman-teman remaja tersebut untuk membuat mereka tampak dapat dipercaya atau berwibawa.

Mirisnya sebagian sinetron kita

Memang benar, tidak semua sinetron Indonesia itu buruk. Kita patut mengapresiasi para insan dunia sinema elektronik yang berupaya memproduksi tontonan sinetron bermutu. 

Sejenak kembali ke tahun-tahun silam, kita tentu ingat betapa bagusnya sinetron semacam Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara. Kisah-kisah kehidupan orang sederhana disajikan secara apik dan inspiratif bagi pemirsa dari segala usia.

Sayang sekali, makin maju teknologi penyiaran, ada kesan bahwa mutu sinetron Indonesia mengalami kemunduran. Umumnya sinetron Indoesia menampilkan dua tema utama: kehidupan glamor dan kisah mistis berbalut religi. 

Jika ada sinetron-sinetron yang lumayan bermutu, bisa dibilang justru adalah keganjilan di arus utama sinetron yang makin absurd dan jauh dari realita sehari-hari sebagian besar masyarakat kita. 

Industri sinetron Indonesia perlu berkaca diri

Di tengah tingginya minat masyarakat untuk mendapatkan tontonan bermutu, sayangnya industri sinetron dalam negeri seolah bergerak ke arah yang tak jelas.

Mayoritas sinetron saat ini bukanlah sinetron yang dipersiapkan dengan baik dari sisi naskah dan teknik sinematografi. Dari penuturan sejumlah aktris sinetron sendiri, ternyata ada cukup banyak sinetron kejar tayang dengan naskah terburu-buru.

Tak mengherankan, ada sinetron yang bisa beratus-ratus dan berjilid-jilid tanpa akhir. Ini karena memang naskah dibuat tanpa melihat bagaimana alur cerita hingga akhir nanti. Yang penting kejar tayang saja. 

Jika penonton memilih nonton drama luar negeri dan YouTube, wajar saja. Meski begitu, sinetron memang masih memiliki pangsa pasar tersendiri. Sewajarnya, industri sinetron kita perlu bertanya diri: apa pesan kehidupan yang sedang ditawarkan pada para pemirsa?

Indonesia tak kekurangan penulis dan sineas serta aktor dan aktris handal. Menyajikan sinetron berkelas dan tetap laris ditonton bukanlah hal yang mustahil. 

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Mari jadikan tontonan juga sebagai tuntunan kehidupan. Industri sinetron Indonesia perlu berkaca diri agar mutu sinetron kita bisa meningkat. Jangan sampai terulang lagi aktris anak-anak memerankan peran dewasa. Salam edukasi. 

Erbe untuk Inspirasiana. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun