Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Siulan Pagi Menyongsong Surga

27 Agustus 2021   04:48 Diperbarui: 27 Agustus 2021   04:48 384
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Siulan bersahut menyambut pagi, tanpa kata dan nada-nada yang bisa dipahami. 

Burung-burung kecil mungkin bertanya dan bersyair di depan UGD. Bangun dan katakan syukur karena hidup tidak selamanya gawat dan darurat. 

Suara lengking menyambut pagi berdandan kokok ayam kampung terdengar merdu irama kampung yang sepi. 

Hidup tidak selamanya gawat dan darurat. Mereka bersuara bukan karena gawat dan darurat, tapi karena cinta dan syukur. 

Burung-burung kecil di mana tempat tenggermu? Mengapa kalian bersembunyi di balik samar-samar gelap menjelang fajar?

Ada rindu di hati untuk menatap wajah tanpa ditutup samar-samar hari. Ada rasa yang tertahan ketika pintu-pintu UGD mulai dibuka pagi ini. 

Ada cemas yang menghimpit dari siulan pagi berpadu tatap ke arah pintu. Aeramo Mbay Flores kenangan pertama tidur semalam suntuk di depan pintu. 

Terdengar tangisan pagi di kamar-kamar kecil sebelah kanan. Entah apa dan mengapa semua itu bisa terjadi? Gendongan kasih sang ibu memberi teduh hingga sunyi cuma terdengar suara sang fajar. 

Syukur pagi terbawa sunyi kampung itu. Siulan pagi teriring doa semoga hidup hari ini berubah, bukan selamanya bagaikan unit gawat dan darurat. 

Senyum rindu bertemu sahabat secita-cita menoreh dikedalaman kalbu hingga fajar pergi kembali ke barat. Siulannya semakin tajam menghimpit rindu pagi ini di depan UGD kampung itu. 

Aku bangun dari pengalaman pertama menjadi tak bernama di depan pintu itu. Semalam suntuk tertidur tanpa selimut, cuma Rindu dan tanya, di manakah surgaku kini? 

Adakah hari yang bisa membuat hidupku indah? Adakah waktu yang diliputi kado cinta dan pemberian? Hari ini, hari baru, ketika pintu UGD terbuka untuk suatu kata yang berbeda. 

Surga kerinduan manusia. Surga pencarian orang-orang sakit. Surga cinta dan perhatian. Surga perawatan dan keselamatan. Surga terbangun dari percaya dan cinta. 

Surgaku adalah surga syukur tentang hidup yang selalu baru oleh karya Sang Pencipta Hari dan Hidup. Surga dalam cara pandang bagaikan Pelangi di mata orang-orang kampung. 

Salam berbagi, Ino, 27.08.2021

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun