Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mungkinkah Jokowi sebagai High Risk Taker?

29 April 2021   15:08 Diperbarui: 1 Mei 2021   00:56 997
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Keberanian mengambil langkah-langkah kreatif harus diimbangi dengan kemampuan diri yakni keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Keduanya bisa dilihat dalam kebijakan-kebijakan yang terbukti relevan dan praktis sesuai zaman dan demi perkembangan dan kemajuan bangsa.

Jokowi adalah presiden pertama yang meraih rekor presiden paling sering reshuffle kabinetnya. Istilah reshuffle kabinet itu terasa betul-betul mendebarkan jantung.

Pacuan detak jantung itu bukan cuma karena penasaran siapa yang akan digantikan atau dilengserkan saja, tetapi menantang psikis para Menteri untuk diam-diam bertanya diri, apakah kinerjanya selama ini baik atau tidak.

Ketegangan psikis akan menjadi lumrah, ketika desas-desus bahwa akan ada perombakan kabinet (reshuffle). Apakah ketegangan itu cuma dialami oleh para menteri? 

Ketegangan psikis itu tidak hanya oleh para menteri, tetapi juga tentunya Jokowi sendiri. Mengapa suasana dan hawa ketegangan itu dialami Jokowi dan kabinetnya?

Ada 3 Alasan:

1. Ada alasan mendasar mengapa reshuffle kabinet itu dilakukan: kinerja buruk dan kebijakan yang cenderung memicu polemik

Perombakan kabinet tentu punya alasan mendasar. Apa alasan mendasarnya? Alasan mendasar terkait reshuffle kabinet tentu bermacam-macam dan umumnya lebih merupakan tafsiran dan penilaian dari pengamat politik. 

Ya, bisa saja karena kinerja di pemerintah yang dinilai buruk dan kebijakan yang cenderung memicu polemik. Dua alasan ini sebagai rujukan alasan mendasar untuk suatu reschuffle kabinet (Baca: Headline:Pengumuman, Reshuffle Kabinet Jokowi, tantangan kementerian Baru? dalam Liputan6.com, 29/4/2021).

Dua alasan itu tidak disampaikan secara langsung oleh Jokowi. Tentu, Jokowi sebagai kepala pemerintahan memiliki hak prerogatifnya baik untuk mempertimbangkan alasan-alasan, maupun dalam reshuffle kabinet itu sendiri.

2. Apakah ada alasan politis lainnya? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun