Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Mari Kita Bongkar Misteri Hubungan Makna Antara Cinta dan Jembatan

8 Maret 2021   17:56 Diperbarui: 8 Maret 2021   23:13 292
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Baum der Liebe, Luschkow-de.123rf.com

2. Di atas Jembatan

Pertama saya melihat kenyataan begitu banyak gembok globe yang digantungkan pada dinding jembatan, misalnya jembatan St. Theodor Mainz saya bertanya dalam hati saya: Mengapa di atas Jembatan?  Tentu ini hanya merupakan refleksi pribadi saya. Jembatan di Jerman umumnya dibangun dengan begitu bagus dan indah untuk menghubungkan dua daratan yang terpisah karena ada sungai yang mengalir di bawahnya. 

Jembatan dibangun sebagai sarana transportasi umum. Bagaimanapun fungsi Jembatan itu, tidak terlewatkan juga dari refleksi tentang Jembatan sebagai titik perjumpaan dua pribadi. Titik perjumpaan itu dibangun melalui suatu proses perencanaan yang matang, bahkan dibangun secara kokoh untuk bertahan berabad-abad. Nah, itulah jawabannya mengapa Jembatan selalu menjadi pilihan tempat istimewa bagi pasangan untuk menyatakan cinta kerinduan mereka.

Kekokohan cinta dan kesetiaan adalah kerinduan dari semua pasangan. Jembatan itu menjadi simbol yang menyimpan misteri makna bagi cinta yang tidak bisa dikatakan sebagai cuma suatu kebetulan. Cinta adalah suatu perjumpaan dan panggilan. Dua istilah itu terasa begitu dekat dalam bahasa Jerman misalnya: Jika orang berbicara tentang panggilan (Berufung), maka akan otomatis terhubung kepada istilah berikutnya perjumpaan (Begegnung). 

Panggilang (Berufung) untuk hidup dalam dimensi cinta yang tanpa batas tidak pernah terjadi tanpa perjumpaan pertama (erste Begegnung). Dan oleh karena itu Jembatan itu menjadi simbol cinta, ya simbol dari panggilan dan perjumpaan manusia. Dalam bahasa spiritualitas, St. Theresia Lisieux menyebut panggilanku adalah cinta. Cinta yang disadari dari suatu perjumpaan pribadi dengan orang lain yang begitu mencintainya.

3. Air

Pengantin yang baru saja mengungkapkan cinta dan komitmen setia mereka berdiri di atas Jembatan. Tentu mereka menyadari bahwa mereka di atas air. Saya percaya tidak semua orang pernah menghubungkan tema-tema seperti itu. Hari ini saya melihat secara keseluruhan dari suatu pemandangan ketika orang berada di atas Jembatan. Dari keseluruhan pemandangan itu, saya tergerak untuk merefleksikan unsur air sebagai satu simbol yang penting dalam konteks cinta dan kesetiaan pasangan. 

Air selalu dimengerti sebagai simbol dari kehidupan. Oleh karena itu, saya percaya bahwa keputusan pasangan untuk mengikat janji setia mereka juga mengarah kepada cita-cita bersama yakni hidup.  Hidup mereka yang terarah kepada masa depan sejak hari di mana mereka menggantungkan simbol harapan bahwa cinta dan kesetiaan mereka kokoh selamanya seperti Jembatan dan abadi tidak bisa dibuka untuk dipisahkan. 

Air kalau dilihat dari segi posisi ketika pasangan berada di atas Jembatan, jelas-jelas berada di bawah Jembatan, ya saya hanya bisa katakan dalam bahasa penafsiran pribadi saya sebagai dasar dari cita-cinta hidup bersama. Air dalam hal ini menjadi ungkapan kerinduan awal untuk suatu kesejukan, damai dan menghapus dahaga manusia. 

Tentunya panggilan untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri atau panggilan khusus lainnya dalam konteks spiritual memiliki tujuan yang berdampak universal, tentu bagi dunia dan manusia umumnya. Di mana orang tidak membutuhkan kesejukan, damai dan kasih? Saya yakin dunia dan manusia penghuni bumi ini selalu membutuhkan cinta, kasih sayang, damai, kesejukan kata, harapan dan hidup.

Saya akhirnya menyadari bahwa betapa berartinya waktu untuk menulis itu sendiri. Ya, saya hari ini berjuang membaca realitas yang selama ini cuma muncul di depan mata saya sendiri tanpa tulisan.  Dan hari ini, sekalipun dari perspektif saya pribadi, saya berani berbagi itu di Kompasiana cuma dengan harapan agar orang-orang yang punya niat cinta dan kesetiaan dalam hidup dan panggilan mereka sedikit mengerti sisi lain dari gembok globe, Jembatan dan air yang disukai banyak orang Eropa menggantungkan simbol cinta mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun