Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Apa Sih Kepuasan Penulis di Kompasiana?

19 Februari 2021   15:45 Diperbarui: 19 Februari 2021   19:30 484
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Jangan biarkan lingkaran kebaikan ini terhenti di sini, sampai  bertemu lagi di event yang lain." (Widz Stoops)

Sejak 27 Januari 2021 saya menulis di Kompasiana tanpa berpikir apa-apa, seperti suatu saat akan berkenalan dengan penulis-penulis hebat yang Artikel mereka selalu bertengger di layar kaca dengan Label Artikel pilihan. Saya sama sekali tidak mengerti apa-apa. Pokoknya, saya menulis apa saja yang menurut saya menarik dan nyata, atau sesuatu yang nyata lalu diubah ke fiksi biar tanpa dinding pembatas dunia ide itu mengalir. 

Kadang saya bertanya, apa sih kepuasan sang penulis? Saya yakin setiap penulis memiliki jawaban sendiri yang unik karena motivasi yang berbeda dari masing-masing. Latihan menulis kecil-kecil sudah saya mulai sejak tahun 1999. Waktu itu, saya suka menulis surat kepada orang tua saya, hanya karena waktu itu belum punya teknologi komunikasi seperti sekarang ini, lalu saya sendiri tinggal sedikit jauh dari keluarga untuk mengikuti suatu masa pendidikan pada suatu lembaga pendidikan calon imam di Bajawa walaupun berpusat di Sintang, Kalimantan. 

Ya, menulis surat untuk sang ayah yang selalu beda pendapat dan visi dengan saya itu tidak selalu mudah. Setiap bulan saya mengirim surat untuk keluarga. Saya menceritakan pengalaman selama proses formasi itu, tentang alam yang dingin di Mataloko, Bajawa, tentang kesulitan keuangan, tentang penyakit hepatitis yang menimpa teman-teman, tentang pelajaran-pelajaran, tentang kedisiplinan, kebersihan, dan masih banyak sekali tema-tema keseharian yang saya bagikan kepada keluargaku. Bagi saya, surat itu adalah goresan kata-kata rindu, rindu untuk berjumpa mereka yang jauh dan rindu untuk berubah suatu waktu. 

Ketika liburan tiba, saudara-saudara saya, khususnya Regina mengambilkan kumpulan surat-surat yang pernah saya kirimkan itu, yang diisi dengan satu tas plastik merah. Saya masih ingat baik sekali kisah itu. "Tahu gak, setiap kali kamu mengirimkan surat, bapa minta kita semua duduk dalam satu ruangan, lalu meminta adik bungsumu membaca surat dan ceritamu. Kadang kami hanya bisa tertunduk sedih, ya sedih penuh rindu. Kadang kami menyesal, kenapa kami lakukan itu, kadang kami jadi begitu damai karena suratmu mengubah situasi kami tanpa kata teguran pedas dan langsung. Dee.. sambil berbisik... "Bapa yang jarang berdoa pun, sekarang rajinnya minta ampun, " bisik Regina. Saya senyum tersipu-sipu, kaget dan sama sekali tidak mengerti mengapa saya lakukan itu? 

Saya hanya menulis tanpa berpikir untuk apa semua itu. Sayang sekali surat-surat itu sudah tidak tahu entah di mana. Saya hanya punya setumpuk rindu, ingin buka kembali lembaran khusuk dan lusuh itu untuk sebisanya merenung semua kata hati saya waktu itu. 

Sekarang saya hanya bisa mengatakan, "Oh, menulis pada titik awal yang tidak tersisa lagi." Meskipun begitu, saya bersyukur bahwa saya diperkenankan untuk melanjutkan proses formasi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Di sana, saya betul dituntun untuk belajar menulis melalui kegiatan harian yang disebut dengan nama catatan harian. Setiap hari harus punya catatan kecil, refleksi kecil dan catatan tentang buku apa yang saya baca, lalu kalimat apa yang saya suka. Dan yang paling menarik adalah Kitab apa yang saya baca. 

Pendamping saya pernah menunjukkan tugas penting kepada saya selama dua tahun untuk membaca buku sebanyak 75 judul dan satu buah Kitab dari Kejadian sampai Wahyu. Dahi saya waktu itu langsung mengkerut, nafasku sesak meski gak ada virus. Mengapa begitu? Saya tidak memiliki kebiasaan membaca dan menulis, lalu sekarang harus begitu, belum lagi harus kuliah di Universitas dan harus berjumpa dengan pelajaran dan buku-buku yang sulit. Ya, berat sih rasanya. Namun, namanya belajar, ya belajar mengikuti saja saran dan nasihat bijak orang: tidak ada seorang penulis, yang dilahirkan langsung jadi penulis." Saya tidak tahu kata-kata itu dari siapa, tapi saya ingat kata-kata itu pertama kali saya dengar pada tahun 2001.

Kutipan kecil yang merasuk jiwa dan pikiran saya untuk belajar menulis hingga entah kapan menjadi penulis. Saya menulis kecil-kecil waktu itu untuk kelas kacang di posting pada majalah dinding (mading) di rumah formasi. Selanjutnya mencoba mengirim tulisan kecil untuk berita yang sedikit lebih luas pembacanya. Ya, dimuat karena saya tahu, itu tidak ada seleksi yang serius. Menulis adalah aktivitas hobi yang tidak pernah dihargai, pikir saya waktu itu. 

Dalam perjalanan waktu, pada momen yang terhimpit waktu sebetulnya, ada suatu event festival Budaya di Universitas. Kebetulan paket lomba menulis juga ada dengan tema "Agama dan Budaya". Gak tahu kenapa waktu itu, seakan ada suara dari hati yang membisik begitu lembut dan halus, "ayo cobalah menulis." Tidak ada kompromi dengan suara itu, saya menulis satu Artikel untuk paket perlombaan waktu itu dengan judul: "Agama dan Epistemologi Kekerasan." Konsep tentang menulis sebagai aktivitas yang tidak pernah dihargai runtuh setelah itu. Mengapa? Karya tulisan kecil saya dihargai sebagai pemenang, ya katakan masuk kategori sepuluh besar pun sudah cukup. Akan tetapi, bagi saya bukan soal angka dan urutan juara, yang paling mengharukan dari kisah tentang menulis dan dihargai itu, adalah ketika pemenang dipanggil untuk berdiri dan menerima hadiah dari para dosen. Dan saya selalu ingat itu, yang memberikan kado kecil untuk saya adalah dosen Epistemologi dari Polandia. Rasa haru dan bangga membaur di hati saya, meski tetap ada juga pertanyaan: Lho, kok bisa ya?

Kisah kado kecil dari dosen asal Polandia itu bagaikan obor yang menerangi inisiatif dan kreativitas kecil dalam menulis. Dalam perjalanan selanjutnya, entah kenapa saya pernah berpikir untuk menolong orang kampung di pedalaman desa, tempat lahir saya  melalui tulisan. Saya pernah membuat satu Mading untuk masyarakat desa Kerirea dengan nama WASI atau Warta Sinai. Mading kecil itu berdiri di samping kapela kecil untuk masyarakat desa yang jauh dari berita dan informasi. Sebulan sekali saya mengirim tulisan, gambar dan foto-foto masyarakat dari kampung halaman saya, tentang segala kegiatan mereka. Lembaran double folio empat halaman rasanya menjadi rangsangan pertama yang diminati orang-orang yang tidak pernah belajar membaca. Mengapa mereka tertarik? Sederhana ceritanya, cuma karena ada wajah mereka ada di halaman Mading itu. Mading kecil perlahan-lahan mengubah gairah membaca masyarakat sederhana waktu itu. Saya terharu ketika saya mengunjungi mereka, sebelum kegiatan kebaktian di Kapel kecil, mereka berkerumun, bahkan berebut untuk membaca Mading kecil itu. Padahal gak ada yang luar biasa di sana, cuma beberapa tips menanam Kakao, penjelasan tentang nama WASI dan beberapa berita lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun