Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Blogger - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengasah Empati Penumpang Angkutan Kota JakLingko

8 September 2024   10:09 Diperbarui: 8 September 2024   10:16 26
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Matahari di pagi hari di awal September 2024 belum menunjukkan diri, tiga warga menunggu JakLingko 41 Jurusan Pulogadung-Kp Melayu di sebuah shelter di Jalan Gading Raya, Pisangan Timur, Jakarta Timur.

"Pak .... Bu .... Tolong empat enam." Itu dikatakan pramudi JakLingko 41 sambil menoleh ke belakang.

Maksud Pak Pramudi itu tempat duduk di kiri untuk empat penumpang dan yang di kanan enam penumpang.

Memang, di tempat duduk di kiri ada tiga penumpang tapi ada yang duduknya seperti di taksi sehingga kelihatan sudah penuh. Begitu juga dengan tempat duduk di kanan ada tiga penumpang, tapi kelihatan penuh karena ada penumpang yang juga duduk hadap depan.

Syukurlah, pramudi yang arif itu mau meluangkan waktu untuk memberikan tempat bagi tiga warga yang sudah menunggu lepas subuh pagi itu.

Memang, jarang sekali ada penumpang yang mau berbagi. Tapi, syukurlah beberapa kali saya dan penumpang lain selalu memberikan informasi kepada pramudi bahwa ada satu ada dua tempat lagi sehingga bisa menaikkan penumpang di shelter berikut.

"Cuma satu," kata penumpang yang duduk di ujung depan tempat duduk kiri sambil mengacungkan telunjuknya ke beberapa warga yang menunggu di shelter sekitar Pasar Enjo, Jakarta Timur.

"Nah, yang anak sekolah saja," timpal yang lain. Maklum, anak sekolah buru-buru agar tidak terlambat masuk kelas.

Kondisi itu melegakan hari karena ada empati (KBBI: keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain).

Dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai compassion yaitu kasih sayang, iba, keharusan, perasaan terharu. Ini berbeda dengan simpati karena ini hanya sebatas di alam pikiran, sedangkan empati merupakan bagian dari sikap yang realistis sebagai realitas sosial di social settings.

Begitu juga dengan tap in dan tap out kartu, ada kartu JakLingko, TJ, kartu lansia dan lain-lain. Ada saja penumpang yang menunggu tempat di belakang pramudi kosong agar dia bisa pindah. Ada juga yang menjulurkan kepala agar tangannya sampai ke alat tap.

Padahal, hanya dengan meminta tolong kepada penumpang yang duduk di depan atau dekat alat tap kita tidak perlu menjulurkan kepala atau menunggu sampai penumpang turun. Agaknya, yang tidak mau meminta tolong bisa jadi dia jarang menolong.

Di Manila, Filipina, angkutan kota dikenal sebagai Jeepney satu baris ada delapan lebih. Tapi, kita tidak perlu ke depan membayar ongkos karena bisa estafet dari belakang. Agaknya, empati penumpang Jeepney lebih peka daripada setengah penumpang JakLingko.

Tapi, ada juga pramudi yang tidak peduli apakah penumpang di tempat duduk kiri baru dua atau tiga serta di kanan belum enam. Ini perlu perhatian manajemen JakLingko agar pramudi lebih berempati karena penumpang menghargai waktu.

Ketika ditanya, "Masih bisa?" penumpang cuek sehingga pramudi langsung tancap gas. Ini bertolak belakang dengan semboyan yang selalu dikumandangkan pejabat, pemuka masyarakat dan pemuka agama tentang sikap warga kita yang mereka sebut berbudaya dan beragama.

Padahal, kalau saja ada isyarat dari penumpang yang mempunyai empati bahwa masih ada tempat tentulah warga yang sudah menunggu di shelter bisa naik.

Penumpang JakLingko selalu mengucapkan terima kasih kepada pramudi ketika turun. Ini menunjukkan penghargaan yang ikhlas yang sejatinya disambut baik oleh pramudi. <>

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun