"Hati-hati, Pak, orang sakit!" Itu diucapkan oleh seorang laki-laki dengan pakaian rapi yang duduk di pojok bangku sebelah kanan belakang di sebuah angkutan kota (Angkot) selepas Halte RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, arah Kp Melayu pada akhir April 2024 sekitar pukul 10.00.
Ketika saya naik memang ada sosok yang baring di tempat duduk sebelah kiri dengan kepala di dekat pintu. Di belakang sopir ada pula laki-laki juga dengan pakaian rapi.
Saya terus menuju pojok kiri belakang. Tapi, laki-laki yang mereka sebut sakit itu tiba-tiba duduk dan tidak ada tanda-tanda sakit.
Mereka bertiga saling berbicara, tapi saya sudah curiga karena tingkah mereka yang tidak mencerminkan penumpang umum. Mereka saling pandang.
"Jam berapa, Pak," kata laki-laki yang tadi mereka sebut sakit itu.
Padahal, jelas saya tidak pakai jam tangan karena kemeja yang saya pakai tangan pendek. Agaknya, mereka memancing supaya saya mengeluarkan Ponsel.
"Saya tidak pernah pakai jam tangan," kata saya ketika laki-laki yang bertanya tadi tiba-tiba minta sopir berhenti karena dia mau turun.
Ketika menerima uang kembalian dari sopir, laki-laki itu berujar, "Kosong!"
Beberapa meter kemudian laki-laki yang duduk di pojok kanan belakang turun, diikuti laki-laki yang duduk di belakang sopir juga turun beberapa meter kemudian.
"Sopir mau bilang apa, Pak," ujar sopir Angkot itu ketika saya tanya, "Bapak yakin tiga orang itu penumpang biasa?"