Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Blogger - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Serial Santet #24 | Kawat untuk Menyumbat Lobang Hidung

21 Agustus 2015   19:27 Diperbarui: 15 Juni 2018   14:39 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jam menunjukkan pukul 01.30. Dini hari (18/8-2015) itu saya tiba-tiba terbangun karena terasa mual dan ada yang masuk ke rongga hidung dari dalam. Setelah salat malam saya lanjutkan tidur.

Sejak subuh hidung sumbat. Sama sekali tidak bisa menarik napas dari hidung. Bernapas pun melalui mulut.

Wah, celaka.

Ada apa (lagi) ini?

Obat-obatan pun tidak bisa membuka ‘sumbatan’ di lobang hidung. Menjelang siang sumbatan agak terbuka, tapi tetap saja berat menarik napas dari hidung. Di malam hari saya sediakan sapu tangan untuk mengusap hidung. Celakanya, sapu tangan itu hilang.

Semula diletakkan di atas printer. Rabu pagi sapu tangan itu masih ada. Tapi, pada malam hari ketika tiba di rumah sapu tanga itu raib.

Apakah dibawa tikus?

Semua sudut sudah dicari tidak ada.

“Ya, itu ‘diambil’, Pak,” kata Pak Ajie (dikenal juga sebagai Pak Misbah).

Astaga. Ini benar-benar tidak masuk akal, tapi fakta. Sejak dulu mulai dari sapu tangan, kaos kaki, CD, dan kemeja sering hilang. Itu sangat mungkin karena banyak orang di rumah.

Tapi, sekarang hanya saya sendiri di rumah. Kunci pun hanya saya yang pegang. Tidak ada pintu atau jendela yang bisa dipakai untuk masuk.

Sapu tangan itu menjadi bagian dari proses pengiriman benda-benda, bisa benda padat, cair atau serbuk dalam bentuk santet.

Karena hidung terus sumbat, saya kontak Pak Ajie di Dringo, Cilegon, Banten. “Tunggu sepuluh menit,” kata Pak Ajie.

Hasilnya? “Ya, ada benda di pangkal hidung, Bapak.” Inilah penjelasan dari Pak Ajie.

Tidak ada pilihan lain selain menarik benda itu. “Pagi saja karena malam saya ada kegiatan,” ujar Pak Ajie ketika saya tanya apakah dia ada di rumah pada Kamis (20/8).

Lagi-lagi harus bangun cepat. Selepas subuh berangkat ke Banten naik bus dari Plumpang, Tanjung Priok.

Menjelang lohor Pak Ajie memulai proses menarik benda di kening. Segelas air saya minum.

“Duh, ini bercabang,” kata Pak Ajie sambil menekan bagian kening dengan tujuan menjadikan ‘benda’ tsb. berubah ke wujud yang sebenarnya.

Dalam santet benda-benda mati dijadikan semacam jelly. Proses ini dikenal sebagai dematerialisasi. Jelly itulah kemudian yang dikirim ke tubuh orang yang dituju dengan bantuan makhluk halus. Di dalam tubuh jelly tsb. berfungi sebagai benda mati sebelum dijakan jelly.

Dengan bantuan bacaan aya-ayat suci Pak Ajie menarik benda itu. Nyeri. Perih.

Huh. Kawat kecil dengan diameter sebesar anak korek apak berntuk huruf U. Ujung-ujungnya menancap ke lobang hidung kiri dan kanan, sedangkan pangkalnya ada di kening di atas batang hidung.

Kali ini termasuk cara baru karena selama ini semua yang mereka kirim bisa diambil dengan mudah. Sedangkan kawat U ini memaksa Pak Ajie harus berpikir keras mencari sumber dan letaknya di badan.

Kali ini dikirim dari sebuah kota kabupaten di Jawa Barat oleh seorang dukun santet laki-laki. Dukun ini dibayar oleh orang-orang yang selama ini marah karena saya berhasil membongkar dan menghentikan langkah mereka menjadikan anak saya jadi tumbal untuk ritual pesugihan.

Semoga orang-orang yang membayar dukun itu ditunjuki oleh Tuhan agar mereka berhenti bersekutu dengan setan dan iblis dan diberikan ganjaran yang setimpal karena mereka sudah memorak-morandakan kehidupan saya sampai ke titik nol. *** [Syaiful W. Harahap] ***

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun