Kita menyimak apa yang terjadi di jagad media sosial, yang berawal dari informasi yang konon dimaksudkan untuk beredar di kalangan sendiri saja, pertama buat anak-anaknya, lalu komunitas terbatas, dan lingkup media sosial kalangan sendiri, dan pecah saat ada konperensi pers yang berbuah publisitas mantap di media arus utama, baik elektronik maupun cetak dan daring.
Pihak yang berwajib, yang semua diragukan kredibilitasnya, dikatakan oleh kalangan lingkaran elite itu wajib menyelidiki peristiwa penganiayaan. Tanpa berlama-lama dalam hitungan 1X24 jam atau 2X24 jam, berita bernada tudingan jahat kepada pihak lawan terpatahkan oleh kepolisian. Ini awalnya karena seorang dokter bedah yang blak-blakan mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan fenomena yang mengemuka.
Toh peringatan kejanggalan tidak digubris oleh pihak yang mengembangkan berita palsu itu. Beragam bentuk kengototan dan kecurigaan tanpa dasar valid telah dipaksakan oleh mereka yang ingin memercayai pengakuan diri dianiaya itu sebagai kebenaran yang menguatkan stigma kejahatan pihak yang tidak disukai mereka, yakni pemerintah yang justru tidak tahu ada peristiwa itu. Pemerintah sendiri dan kepala pemerintahan, faktanya sedang fokus pada penanganan korban gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami di Sigi, Donggala, dan Palu.
Setelah berita utama terbukti palsu cenderung pembohongan yang disengaja oleh pembuatnya, diakui oleh yang punya kebohongan, maka ramai-ramai lingkaran inti kelompok elit itu menyatakan minta maaf secara maya, dan ada pula yang lagi-lagi -- melalui sebuah kompersnesi pers.
Pucuk pimpinan mengatakan tindakannya yang grusa-grusu, seorang dokter gigi menyatakan dia khilaf, yang lainnya merasa dibohongi oleh teman sendiri, dan sebagainya yang semua pembaca berita dan penikmat sajian dunia maya mungkin sudah mendengar semua kejadiannya yang terkini.Â
Pembuat hoaks itu sudah berstatus tersangka, dan ditahan selama duapuluh hari ke depan. Terlanjur geregetan setelah muak mengamati pemaksaan kelompok elit itu tentan hoaks yang mereka katakan sebagai indikasi kebiadaban pemerintah atau "pihak pengecut", maka masyarakat mengekspresikan berbagai kecaman dari yang pedas sampai yang berupa tindakan nyata mengirimkan buku sejarah "Cut Nyak Dhien" kepada pelaku keberisikan itu.
Penanganan kasus hoaks dikembangkan oleh yang berwajib. Beberapa nama yang terlibat dalam penyebaran hoaks dipanggil sebagai saksi. Salah duanya adalah seorang bapak dengan putrinya. Mereka mangkir, seperti kebiasaan si bapak. Apakah itu sikap ksatria? Peduli setan. Toh hoaksnya juga hasil bisikan setan, ini pengakuan ratu hoaks-nya sendiri lho.
Kini mereka yang kemarin meminta maaf kepada kalangan mereka sendiri juga, dan sesiapa yang mereka sebut sebagai "berbagai pihak" terkecuali pemerintah atau kepolisian yang mereka ragukan kredibilitasnya, satu persatu mulai kembali bersuara garang seperti kebiasaan mereka, menuding, mengancam, dan menyombongkan diri.
Satu demi satu menyatakan kurang lebihnya ungkapan yang sama, "Siapa yang melaporkan keterlibatan mereka ke polisi, padahal mereka merasa sebagai korban, akan dilaporkan balik kepada polisi juga." Lho, kan semula dan selama ini mereka sendiri yang bilang tidak perxcaya pada institusi kepolisian, mana yang benar sih?Â
Oke deh kalau begitu. Kita lihat apa sih sebenarnya yang harusnya menjadi sikap penyesalan dan permintaan maaf itu?

Permintaan maaf yang tulus akan menekankan pada tindakan nyata, sikap yang mendukung ungkapan "maaf" itu, dan ini tidak tergantung pada reaksi atau tanggapan orang yang dimintai maaf. Dari sini, sudahkah "maaf" dari kelompok insiden hoaks itu memenuhi nilai-nilai permintaan maaf yang tulus? Atau itu semata adalah upaya menghindari jerat hukum atas dugaan keterlibatan penyebaran hoaks? Dengan kata lain, "maaf" yang tulus, atau "maaf" yang dimaksudkan untuk cuci tangan?Â
Penyesalan atau permintaan maaf yang tulus tidak mengedepankan sikap ngeles. Sebaliknya, permintaan maaf menekankan dan dinyatakan sebagai tindakan dan sikap yang mengutamakan perasaan dan keadaan pihak lain yang dimintai maaf, dalam hal ini kegaduhan yang diakibatkan oleh tindakan mereka. Fakta yang ada, mereka minta maaf kepada konco-konco sendiri, yang juga saling meratap menjadi sesama korban. Padahal korban yang sebenarnya adalah masyarakat Indonesiaa, yang sedang berduka dan sibuk mengatasi kedukaan mendalam pasca bencana alam luar biasa.
Dalam kasus ratu hoaks tebaik, dia sendiri saat ditetapkan sebagai tersangka dan harus ditahan, mengakui (kali ini keren), bahwa itu adalah sebuah konsekuensi yang harus dia tanggung.
Bagaimana dengan orang-orang lingkaran dalam yang meminta maaf itu? Mereka tampak mulai menyalahkan pihak lain, dan mengancam pula untuk melaporkan balik kepada siapa pun yang melaporkan mereka. Dalih pelaporan adalah perundungan, pencemaran nama baik, dan semacamnya.Jadi, mana jejak permintaan maaf yang kemarin mereka ungkapkan dengan beragam dalih itu?
Permintaan maaf yang tulus membutuhkan bukti dan sikap tulus bahwa mereka tidak akan melakukan "penampilan atau ulah yang sama seperti saat mereka "terpaksa" harus minta maaf." Nyatanya? Ada yang kembali sombong, ada yang meremehkan panggilan polisi meski sekadar dalam statusnya sebagai saksi, berita yang beredar bisa kita baca sendirilah.Tentunya, itu memberi kesan pada khalayak bahwa pernyataan maaf mereka sekadar omong kosong, rangkain kalimat basa-basi atau jurus menghindari diri dari keterlibatan masalah. Permintaan maaf bukan selalu diharapkan agar itu membuat orang yang menyatakannya merasa "nyaman kembali". Inti permintaan maaf justru seharusnya fokus pada kepedulian terhadap pihak lain yang disakiti, digerecokin, ya begitulah seharusnya.
Kesimpulannya, apakah yang kemarin meminta maaf itu jujur menyesal dan menyadari perilaku yang memang harus disesalkan karena merugikan pihak lain, karene telah membuat kegaduhan, karena menuduh orang lain tanpa dasar, karena lain-lain?
Permainan, atau apapun namanya, masih terus bergulir panas, ngeri-ngeri sedap. Saya, netizen yang bagai sebutir debu di pantai Talise, merasakan kesedihan bahwa pesta demokrasi menggemakan gendang bernada sumbang, alih-alih melodi sejuk ceria yang menghibur negeri yang terlanda bencana. Tarian apa lagi yang akan tertampilkan. Terus menggeruskan nurani akal sehat dan nilai-nilai kebajikan demi sebuah ambisi bernama kekuasaan, demi ambisi golongan, demi apa lagi? Yang berduka, | Indria Salim |
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI