#Gara-Gara Macet, Mobil Nyerempet dan Keluar Biaya Ekstra
Saat berada di kondisi macet dan jalan yang menyempit kecil membutuhkan ekstra kehati-hatian saat berkendara. Di kawasan Grogol, sempat dilakukan perbaikan jalan sehingga adanya penyempitan jalan. Macet yang ditimbulkan sudah dapat ditebak sangat panjang apalagi saat itu jam pulang kerja. Bagi pengendara mobil saat kondisi macet di jalan umum adalah lalu lalang sepeda motor. Seringkali saya harus mengerem spontan karena ada motor yang menyalip di tengah kondisi kemacetan. Ketika mata sedang terfokus pada kendaraan disebelah kanan secara tidak sengaja justru saya menyerempet sebuah mobil disisi kiri.Â
Secara fisik saya memang sudah letih karena dari pagi hingga siang memiliki agenda meetingdan kini ditambah insiden saya menyerempet mobil karena penyempitan jalan. Mau tidak mau, suka tidak suka saya pun harus bertanggung jawab atas insiden itu. Uang penggantian service ternyata menguras isi tabungan di ATM. Secara otomatis pikiran saya pun bercabang, besok harus membagi waktu untuk service mobil dan mengagendakan ulang pertemuan yang sudah ada.
#Gara-Gara Terlalu Banyak Kendaraan, Penampilan jadi Kusut
Banyaknya kendaraan bukan hanya membuat jalanan menjadi macet tapi juga susahnya mendapat areal parkir. Pernah satu kejadian ketika ada agenda meeting di kawasan Kuningan. Hampir 20 menit saya mencari areal parkir. Ketika berputar-putar mencari parkiran, ketika sudah menemukan 1 areal kosong dan ternyata keduluan mobil lain yang mengambilnya. Antara kesal, emosi dan kesal seakan menjadi satu tapi harus sadar prinsip "Siapa Cepat, Dia Dapat" memang benar adanya. Tidak mungkin saya memarahi orang tersebut karena justru mobilnya yang lebih dulu sampai di areal kosong itu.
Putusan bijak harus diambil, saya pun keluar areal tersebut dan mencari areal parkir di gedung lain dan akhirnya mendapat parkiran di gedung seberang jalan. Butuh perjuangan ekstra dan tentu saja harus berjalan kaki lagi untuk menuju kantor yang saya tuju. Penampilan yang semula rapih, dan wangi, karena sebelum berangkat sudah ku semprotkan parfum tapi kini berubah basah dan bau karena keringat. Wajar karena harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh dan cuaca panas. Sebagai seorang marketing, nilai jual tidak hanya dari sisi pemaparan kita namun juga penampilan kita. Tentu saja rasa percaya diri saya saat itu sudah menurun drastis karena kurang maksimal.
Belajar dari pengalaman tersebut, saya harus berpikir planning lain untuk mengantisipasi kejadian diatas terulang lagi khususnya pada moment yang penting.
Cukup beralasan bahwa ride sharing menjadi pilihan bijak saat ini untuk mengurangi volume kendaraan serta mengantisipasi dampak psikologis yang muncul karena kemacetan.
- #Ride Sharing Dapat mengurangi Kepadatan Jalan
- # Ride Sharing praktis dan mudah
Bila sebelumnya saya punya pengalaman buruk harus bersusah payah mencari parkiran dan pakaian lusuh serta berkeringat karena lokasi parkiran yang jauh. Dengan sistem ride sharing, tentu menjadi lebih praktis. Kita dapat diantar hingga di lobby perusahaan tanpa harus sibuk mencari parkiran. Penampilan kita pun menjadi maksimal dan percaya diri saat bertemu klien. Disisi lain, dengan sistem ride sharing berarti kita juga bisa berhemat karena tidak perlu mengeluarkan biaya parkir berjam-jam ataupun bila konsep ride sharing bersama dengan teman-teman. Biaya bahan bakar maupun parkir dapat ditanggung bersama. Artinya jauh lebih hemat sistem ride sharing dibandingkan membawa mobil sendiri. Saat berada di kondisi macet pun, saya tetap tenang karena bila menggunakan kendaraan sendiri pikiran harus konsentrasi maka dengan ride sharing. Saya bisa melakukan aktivitas lain ataupun beristirahat sebentar agar pikiran tidak terpengaruh karena macet.
- # Ride Sharing Memperluas Jaringan dan Pertemanan
Pengalaman saya menggunakan transportasi onlineuntuk ride sharing, saya justru mendapatkan banyak teman baru dengan kisah yang unik. Pernah ketika harus berangkat meeting dengan klien, saya memilih menggunakan transportasi online. Selama perjalanan, kami saling cerita mulai dari kerjaan, keluarga, hingga situasi politik dengan sang sopir. Wawasan dan pengalaman saya pun bertambah karena tidak sedikit dari sopir online justru memiliki pengalaman yang luas bahkan memiliki pekerjaan lain yang dapat menjadi tambahan wawasan bagi saya sendiri. Ini menjadi modal utama bagi seorang marketing karena dituntut untuk memiliki jaringan luas.