Ayah mencium keningku seperti biasa, namun malam ini sepertinya ayah tidak bisa bertanding panco denganku karena terlihat sangat lelah.
"Ceritakan apa yang membuatmu senang, jagoan?" Ayah kembali bertanya.
Akupun mulai menarik selimut sebatas perut, malam ini dingin sekali dan hujan belum juga berhenti di luar sana.
"Hari ini aku bermain sepak bola, dan team kami menang dengan mudah, Ayah" jawabku dengan bangga.
"Owh, kamu pasti lelah sekali, jagoan," ucap ayah sambil meletakkan lilin disamping tempat tidurku.
Aku pun menjawab, 'tidak sama sekali, kali ini aku menjadi kiper dan tak ada pemain lawan yang sampai kepadaku."
Ayah tak henti-hentinya tertawa setelah mendengar jawaban dariku, aku senang sekali ayah tertawa dan akupun jadi tertawa.
Aku tahu ayah sangat lelah, ia menguap dan menutup mulutnya dengan usapan tangan, maka akupun segera menutup mata.
"Eits.. jagoan Ayah belum baca do'a, belum mendengar dongeng ayah juga," ucap ayah mengagetkanku.
"Ayo, duduk sejenak dan kita akan membuat dongeng," seru ayah kepadaku.
Aku sangat senang dan duduk bersila diatas tempat tidurku, penasaran pada dongeng ayah yang selalu berbeda disetiap malam.