Mohon tunggu...
Galih Prasetyo
Galih Prasetyo Mohon Tunggu... Lainnya - pembaca

literasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pagi Sekolah, Sore Nonton Baja Hitam, Minggu Doraemon, Bulan Puasa Main Petasan Jangwe

7 September 2018   22:25 Diperbarui: 8 September 2018   20:35 3877
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Masa Kecil | steemit.com

Saya sungguh beruntung bisa menikmati masa kecil di akhir 90-an hingga awal 2000-an. Bagaimana tidak saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ada banyak aktivitas yang jika diceritakan kembali bikin senyum-senyum sendiri. Menariknya aktivitas itu juga hampir sama dilakukan oleh generasi sebaya saya, yah kalaupun ada yang beda tidak jauh-jauh amat.

Jangan tanya soal bagaimana pelajaran di sekolah, karena semua biasa-biasa saja cuma satu pelajaran yang tak biasa, yah apalagi kalau bukan matematika. Pelajaran satu ini bisa dibilang sebagai hal paling menakutkan bagi sebagian besar rekan-rekan sebaya saya. Apalagi rata-rata guru di sekolah dasar yang awalnya sangat lemah lembut di pelajaran lain berubah jadi garang saat belajar matematika.

Dan biasanya saya, atau mungkin juga rekan-rekan sebaya saya jika sudah masuk pelajaran matematika langsung berubah menjadi tekun dan terus menatap buku pelajaran, ini sih trik biar guru tidak memanggil kita ke depan kelas untuk mengerjakan soal.

Ah lupakan pelajran, pulang sekolah di siang hari juga jadi momen paling bahagia saat masih kecil dulu. Pulang dengan baju putih yang sudah tak lagi jelas warnanya karena bercampur keringat dan kotoran bekas jajanan istirahat tadi, ada bekas saos, permen, dan lain sebagainya.  

Pulang sekolah selalu bareng teman-teman, tidak lupa membeli jajanan mulai dari dodol yang di atasnya ada sagu dan kacang tanahnya, atau es osron yang warnanya hampir sama dengan warna pewarna wantex untuk pakaian, atau membeli mainnan orang-orangan - itupun kalau masih ada uang sisa dari waktu istirahat.

Biasanya saat pulang sekolah, saya dan rekan-rekan mulai merencanakan aktivitas apa yang akan dilakukan sore nanti. Antara main bola di lapangan atau jalan-jalan tak jelas juntrungannya.

Sampai ke rumah, langsung kena omel ibu, yah apalagi kalau bukan karena baju putih saya yang sudah tak lagi kelihatan warna putihnya. Habis beres-beres dan makan siang, selanjutnya tidur siang. Dulu saat kecil, tidur siang ialah aktivitas yang paling saya tidak suka, baru setelah besar saja saya sadar bahwa tidur siang setelah makan siang kenikmatan yang hakiki.

Bangun dari tidur siang, saya langsung mandi dan bergegas ke Taman Pendidikan Alquran (TPA), kelar baca Iqro sampai kira-kira habis sholat Ashar, aktivitas main kembali dilakukan. Tentu saja tanpa dulu pulang ke rumah, dan akibatnya setelah pulang kena omel lagi oleh ibu.

Rencana yang tadi siang direncanakan bisa berubah seketika, awalnya ingin main bola di lapangan jadi jalan-jalan muterin tempat tinggal kita, yang awalnya ingin jalan-jalan malah jadi main bola. Pokoknya saat itu suka-suka kami lah maunya bermain apa.

Namun, kadang aktivitas sore hari juga tidak dilakukan karena saya biasanya langung pulang untuk menonton film favorit generasi 90-an, Ksatria Baja Hitam yang diperankan oleh Kotaro Minami. Atau menonton film favorit yang lain, apalagi kalau bukan The Legend of Condor Heroes, Yoko dan Bibi Lung.

Nah jika sudah memasuki hari Minggu, itulah hari kebebasan saya. Jika di hari sekolah, saya mungkin tak sebebas anak-anak lain yang bisa nonton Baja Hitam atau Yoko, orang tua saya sedikit lebih ketat soal menonton televisi jika hari sekolah. Maka di saat tiba hari Minggu, ajang pembelasan pun dilakukan.

Eits sebelum membahas kebebasan di hari Minggu, kenangan di Sabtu siang pun jadi hal paling memorable, yah apalagi kalau bukan menonton film Vampir sehabis pulang sekolah. Wah bagi saya menonton film Vampir yang diperankan oleh Boboho jadi hal wajib sebelum tidur siang.

Kembali ke hari Minggu, saya biasanya sudah bangun sejak pagi hari, maklum saja saat malam minggu tak banyak aktivitas yang dilakukan. Ketika melek mata sekitar pukul 07:30, tentu dong yang pertama dilakukan ialah menyalakan televisi untuk menoton doraemon.

Aku ingin begini 
Aku ingin begitu 
Ingin ini ingin itu banyak sekali

Semua semua semua 
Dapat dikabulkan 
Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib

Aku ingin terbang bebas di angkasa 
Hei baling-baling bambu 
La la la aku sayang sekali doraemon

Wah kalau sudah mendengar lagu itu, mata yang berat karena masih ngantuk pun langsung segar kembali. Namun ada kalanya saat intro lagu Doraemon sudah di putar, ada suara-suara dari ibu yang menyuruh mandi. Di situlah kadang saya merasa sedih!

Usai nonton Doraemon dan menyempatkan diri mandi saat tengah iklan, film kartun berikutnya yang ditonton ialah Dragon Ball.

Orangpun datang 
Dan akan kembali 
Kehidupan kan jadi satu

Di kehidupan yang kedua 
Akan menjadi lebih indah

Siapakah yang dapat melaksanakan 
Sekarang berusaha mewujudkannya

Ini juga lagu yang membuat senyum saya mengembang di tiap minggu pagi. Nah, setelah menonton Son Goku dan kawan-kawan, saya biasanya selesai menonton dan keluar main dengan rekan-rekan. Apa saja kami mainkan, mulai dari main bola, main petak umpet, tak jongkok, galasin, pokoknya semua permainan yang mengeluarkan keringat.

Yang bikin saya kesal di hari Minggu ialah jika sudah memasuki sore hari, itu adalah momen-momen yang buat saya menggurut sendiri dulu waktu kecil. Bagaimana tidak, di sore hari ibu atau ayah biasanya mencari kita untuk pulang karena besok sudah harus kembali bersekolah.

Selain itu di masa kecil saya dulu, hal paling indah ialah saat memasuki bulan Ramadhan tentunya. Bukan soal saya rajin berpuasa atau mendapat duit saat Idul Fitri, tapi saat malam akan melaksanakan sholat Taraweh, saya mendapatkan waktu bermain tambahan.

Yah biasanya saya dan rekan-rekan bermain sarung yang dilipat-lipat atau bermain petasan. Walaupun banyak orang tua yang memarahi kita karena bermain petasan itu tak menghalangi kami untuk terus bermain. Petasan yang sering saya dan rekan-rekan mainkan ialah petasan jenis jangwe.

Nah bagi yang tidak tahu petasan jangwe, masa kecil kamu sepertinya kurang bahagia, hehe. Biasanya saya dan rekan-rekan cukup kreatif, kamu mencari pipa bekas dan meledakkan petasan jangwe itu bak peluncur roket. Hanya anak bermental berani yang bisa menyalakan petasan jangwe dari dalam pipa bekas itu, haha - saya tidak termasuk.

Bagi saya kenangan masa kecil sangat membekas, sekarang saya justru bingung dengan generasi sekarang, utamanya generasi anak saya, kira-kira kenangan apa yang bisa mereka bagi kelak nanti? Pasalnya seperti yang kita tahu, aktivitas anak saat ini sangat jauh berbeda, pun dengan tontonan kartun sangat banyak jenisnya.

Masa kelak besar nanti anak saya bercerita soal serunya ia nonton PJ Mask, film kartun yang hanya ada di saluran berbayar atau Youtube, tidak semua anak sekarang menontonnya bukan?

Masa kelak besar nanti anak saya bercerita soal keseruannya main pasir ajaib, tidak semua anak-anak kecil saat ini suka bukan dengan main aneh itu. Yah apapun itu, tiap anak memiliki masa-nya sendiri, yang tetap bagi mereka saat kecil ialah masa paling membahagiakan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun