frugal living atau hidup hemat dan bijaksana dalam pengeluaran, telah menjadi trending akhir-akhir ini. Hal ini sangat baik karena kebutuhan hidup semakin hari semakin bertambah, harga barang-barang naik, sementara gaji masih segitu-gitu saja. Jadi hidup hemat adalah jawaban dari segala permasalahan kebutuhan hidup ini. Bukankah pepatah mengatakan hemat adalah pangkal kaya? Dan siapa sih orangnya yang tidak mau menjadi kaya?
Gaya hidupDi sisi lain, godaan untuk hidup boros ada di mana-mana. Nggak jauh-jauh, ada di genggaman kita, alias di hape yang sehari-hari kita pelototin. Godaan sale di online market, penawaran barang-barang di medsos kita - yang qadarullah kok selalu barang yang 'kayaknya' kita butuhkan, kabar dari teman 'eh ada toko/resto baru buka barangnya lucu-lucu murah/makanannya enak-enak, tawaran buku di grup penulis, dan bla bla bla yang masih panjang lagi daftarnya.
Sebentar, sebelum lebih jauh lagi bertutur, sebenarnya contoh-contoh gaya hidup frugal living yang mudah diaplikasikan itu seperti apa sih? Kebetulan saya sudah browsing-browsing artikel dan beberapa di antaranya adalah: membiasakan diri membeli barang di toko bekas/thrift Shop, mengurangi kebiasaan makan di luar, menabung dan investasi, membuat rencana pengeluaran, memanfaatkan diskon/bebas ongkir, bijak memilih transportasi, dan menghindari utang.
Salah satu contoh tersebut yaitu mengurangi makan di luar, kalau kasus saya harus ditambah mengurangi pesan go food. Tentunya jalan keluar yang harus ditempuh adalah rajin masak sendiri.
Suatu saat saya hendak menerapkan frugal living dengan membawa bekal dari rumah untuk makan siang di kantor. Teman yang biasanya menemani saya makan di kantin, tertawa dan heran melihat saya bawa bekal.
Tertawanya bukan melecehkan, tapi memang beralasan karena saya termasuk orang yang malas masak. Acara bawa bekal nyatanya hanya bertahan hitungan hari. Lalu di saat pulang kantor badan terasa lelah, saya akan leyeh-leyeh dan waktu merambat menuju malam. Mau masak lagi sudah tidak keburu, akhirnya berseru, "Anak-anak mau makan apa buat makan malam? Mama mau go food!"
Astaga, godaannya seberat itu, Ferguso.
Itulah makanya saya tulis pada judul artikel bahwa frugal living itu butuh effort besar. Ya khususnya buat saya.
Memang benar kata para ahli bahwa untuk berfrugal living, kita butuh perencanaan.
Saya butuh merencanakan pemenuhan kebutuhan makan diri sendiri dan keluarga agar tidak terlalu boros. Berikut beberapa catatan yang coba saya buat untuk membantu saya, moga-moga bermanfaat juga buat pembaca yang punya tabiat mirip saya, agak-agak malas masak, hehe.
1. Menyiapkan makanan untuk sarapan dan bekal makan siang sejak malam harinya.