Mohon tunggu...
Indah Dwinta
Indah Dwinta Mohon Tunggu... Penulis - Berbagi Kehidupan

Sunyi Kuntum Berbaju Malam

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Manusia

28 Desember 2020   14:43 Diperbarui: 28 Desember 2020   15:24 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Malam bagai suwung
menggamit tubuhnya yang dibalut baju
beraroma tanah dan hujan.
Kali ini ia ingin telanjang, setelah peradaban merobek kulitnya yang licin.
ia ingin telanjang, sebab dikurung kemunafikkan membuatnya semakin kelam.

"Ibu, Bapak. Aku teringat zaman kecil dulu. Dimandikan, didandani, diberi yang wangi-wangi, tapi tak lantas membuat cantik, siapa yang mampu menyentuhku hanya aku, hanya diriku."

Sekali lagi ia ingin telanjang, menyentuh bahasa yang dikaramkan laut itu. Memahami arah angin yang membawa pergi bunga-bunga. Mencipatakan musim baru yang melahirkan keyakinan.

Ia berkeras hati memetik bulan dengan tangannya yang rapuh, supaya terang sebuah jalan. Maka ia membuka baju, memperlihatkan dirinya di hadapan cermin, lalu mulai menyusun serpihan dari dalam, dengan setitik cahaya.

"Aku ingin menjadi manusia, sebelum sejarah menuliskan hari ini sebagai kebebasan."

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun