Mohon tunggu...
Beryn Imtihan
Beryn Imtihan Mohon Tunggu... Konsultan - Penikmat Kopi

Beryn, lahir di Pulau Seribu Masjid, saat ini mengabdi pada desa sebagai TPP BPSDM Kementerian Desa dengan posisi sebagai TAPM Kabupaten. Sebelumnya, ia aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi. Beryn memiliki minat pada isu sosial, budaya, dan filsafat Islam. Saat kuliah, Beryn pernah mencoba berbagai aktivitas umumnya seperti berorganisasi, bermain musik, hingga mendaki gunung, meskipun begitu satu-satunya hal yang selalu menarik perhatiannya adalah menikmati secangkir kopi.

Selanjutnya

Tutup

Cerbung Pilihan

Cahaya di Lingkar Kabut (3)

14 Oktober 2024   08:24 Diperbarui: 14 Oktober 2024   08:24 48
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

-----Sebelumnya | Cahaya di Lingkar Kabut Bagian 1 Bagian 2

Hendra ingin membalas, tapi ia sadar, ini bukanlah medan pertarungan yang adil. Semua ini adalah bagian dari rencana besar Arman untuk menyingkirkannya. Di ruangan itu, Hendra merasa dikelilingi oleh orang-orang yang telah dipengaruhi oleh fitnah Arman. Meski ia yakin kebenaran akan menang pada akhirnya, ia mulai merasa lelah dengan permainan kotor ini.

Hari itu berakhir tanpa keputusan jelas. Evaluasi Hendra masih "ditunda" dengan alasan "butuh penyelidikan lebih lanjut". Namun, Hendra tahu, ini hanya upaya Arman untuk terus memperpanjang penderitaannya. Kebencian Arman yang semakin dalam tak hanya membuatnya ingin menyingkirkan Hendra, tetapi juga menghancurkan seluruh kredibilitasnya.

Ketika Hendra berjalan keluar dari ruang rapat, matahari mulai terbenam. Ia berhenti sejenak di depan pintu, memandang langit yang mulai memerah. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara kendaraan yang lalu lalang, kehidupan yang terus berjalan di luar drama yang terjadi di dalam sekretariat kecamatan itu.

Namun, langkahnya terasa berat. Bayangan Arman yang penuh dendam semakin mendekat, seolah mengintai setiap gerakannya. Hendra tahu, pertarungan ini belum usai---dan mungkin, apa yang akan datang jauh lebih berat daripada apa yang sudah ia lalui.

Di sudut ruangan, Arman berdiri, memandangi Hendra dengan mata penuh kebencian. Ia tersenyum samar, puas dengan langkah-langkah yang telah ia rencanakan.

"Aku akan membuatmu menyerah, Hendra," gumam Arman dalam hati. "Dan kali ini, tak akan ada yang bisa menyelamatkanmu."

Hendra menatap langit sekali lagi, merasa ada badai yang semakin mendekat. Namun, ia tetap melangkah. Meski badai itu mengancam, Hendra tahu, ia akan terus berjalan, apapun yang terjadi.

-----

Hari demi hari berlalu, dan situasi di kecamatan semakin meresahkan bagi Hendra. Orang-orang yang sebelumnya menghormatinya kini perlahan-lahan mulai meragukan integritasnya. Mereka yang dulu mendukung perjuangan Hendra untuk membangun desa kini tampak cenderung berpihak pada Arman. Orang-orang di kecamatan, termasuk beberapa pejabat yang dulunya berpikir bahwa Hendra adalah sosok yang lurus, mulai memperlihatkan keraguan mereka. Dan lebih dari itu, mereka tampaknya telah terpengaruh oleh siasat licik Arman.

Arman, yang sebelumnya tertangkap dalam kasus korupsi, kini seolah menjadi bintang kecamatan. Orang-orang melupakan begitu saja kelicikannya. Beberapa oknum polisi yang dulu membekingi Arman ikut terlibat dalam upaya memulihkan citra buruk Arman.

Mereka adalah pihak-pihak yang diuntungkan oleh proyek-proyek yang pernah dikerjakan Arman. Di balik seragam mereka, ada niat terselubung untuk mempertahankan status quo, dan mereka melihat Hendra sebagai ancaman terhadap posisi nyaman yang telah mereka bangun bersama Arman.

Sekretaris desa dan perangkat desa yang dulu bersekongkol dengan Arman juga mulai merapat. Mereka tahu bahwa Hendra adalah penghalang terbesar dalam skema-skema kotor yang telah lama mereka jalankan. Dengan Arman bebas dari jeratan hukum, mereka merasa di atas angin. Mereka merasa, jika Arman bisa bebas dari jeratan kasus korupsi, apalagi yang perlu mereka takutkan?

-----

Malam itu, Hendra duduk di teras rumahnya, memandangi bintang-bintang yang tampak jauh dan tak terjangkau. Ia merasa ada sesuatu yang salah, ada badai yang sedang mendekat. Perasaan itu semakin kuat setelah ia mendengar dari beberapa rekan dekatnya bahwa ada rencana besar untuk menjatuhkannya. Namun, Hendra tetap tak tergoyahkan. Baginya, selama ia jujur pada tugas dan tanggung jawabnya, tak ada yang perlu ditakutkan.

Tetapi, pada suatu pagi yang mendung, semuanya berubah. Hendra menerima panggilan telepon yang membuat dadanya seketika sesak. Di ujung telepon, salah seorang rekannya memberitahukan bahwa ada tuduhan serius terhadapnya. Tuduhan bahwa ia telah menggelapkan dana proyek pembukaan jalan baru di salah satu desa dampingannya. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, terdapat bukti rekaman video yang memperlihatkan Hendra sedang melakukan transaksi gelap dengan salah satu kepala desa.

"Rekaman video?" tanya Hendra dengan suara bergetar, nyaris tak percaya.

"Iya, Hen. Video itu beredar cepat di kecamatan. Banyak yang sudah melihatnya, dan sekarang semuanya membicarakanmu," kata rekannya dengan nada berat.

Hendra tak percaya. Ia tahu bahwa tuduhan itu adalah rekayasa. Namun, ketika rekannya mengirimkan video itu, tubuh Hendra seketika membeku. Dalam video itu, terlihat sosok yang sangat mirip dengannya sedang menerima amplop dari seorang kepala desa. Wajah Hendra dalam video itu terlihat jelas, dengan dialog yang dipotong sedemikian rupa untuk menguatkan narasi bahwa ia telah menerima suap.

Hendra mengamati video itu berulang kali, mencoba mencari celah. Namun, rekayasa itu terlalu sempurna. Setiap potongan gambar, setiap kata, seolah telah disusun untuk membuatnya tampak benar-benar bersalah. Ia tahu, ini ulah Arman---dan para sekongkolnya. Arman pasti telah menyiapkan ini sejak lama, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkannya.

-----

Di kecamatan, suasana semakin panas. Banyak yang percaya pada rekaman video itu tanpa mempertanyakan keasliannya. Para oknum polisi yang dulu mendukung Arman sekarang semakin terang-terangan berpihak kepadanya. Mereka dengan cepat menyebarkan video itu ke berbagai pihak, memastikan bahwa citra Hendra hancur di mata masyarakat. Para sekretaris desa dan perangkat desa yang pernah bekerja sama dengan Arman pun turut serta. Mereka kini kembali kuat, merasa tak ada yang bisa menandingi kekuasaan mereka.

"Ini bukti nyata bahwa dia juga sama busuknya dengan yang lain," bisik salah seorang oknum polisi kepada rekannya. "Kita akan pastikan dia tidak bisa kembali lagi."

Desas-desus itu makin keras, dan Hendra merasa dunia seolah runtuh di hadapannya. Rekaman itu benar-benar membuatnya terlihat bersalah, meskipun ia tahu bahwa semua itu hanyalah rekayasa jahat. Namun, siapa yang akan mempercayainya di tengah banjir fitnah ini?

-----Bersambung | Cahaya di Lingkar Kabut Bagian 4

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun