Sudah kubilang, jangan menaruh rasa pada dia yang baru putus cinta. Jangan memberi banyak waktu pada dia yang sedang kesepian. Jangan mengisi kekosongan hatinya dengan hatimu. Jangan memeluk hatinya yang masih dipenuhi onak. Dan jangan gegabah sebelum jatuh cinta.
Kenapa kau sangat kepala batu, wahai hati?
Tak bisakah kebodohanmu kau kekang atau kau kubur saja?
Terlalu banyak film pendek yang kau putar dalam imajinasi. Tak henti skenario kau buat, kau hias, dan kau tata dengan rapih.Â
Aku akui, kau memang makhluk multitasking! Kau menjelma jadi sutradara, produser, dan talent sekaligus. Kau memainkan peran dengan sangat baik, hingga kau tak bisa bedakan kenyataan dan hayalan.
Tatapan tak sengaja darinya mampu menciptakan jutaan kupu-kupu yang menggelitik jantung.
Satu kalimat penenang darinya menjelma jadi jutaan paragraf berisi rencana bahagia dimasa depan.
Senyum yang sama yang diberikan pada perempuan lainpun membuatmu memikirkan tentang jumlah anak kalian nantinya.
Uh, Bodohnya dirimu!
Tujuh kali kubilang, pergi! tinggalkan! hiraukan! lepaskan!
Delapan kali kau memohon dan berkata, 'aku mampu mengubahnya'
Kau yang semula menjadi penawar sakit hatinya justru menjadi sakit karenanya,
Kau yang semula baik baik saja jadi terkontaminasi racun karenanya.
Sudah kubilang, akhirnya akan seperti ini.
Kenapa kau sangat kepala batu, wahai hati?
Tepat sekali skenario yang pernah kuperlihatkan padamu. Masa lalu yang kembali, dia yang terpikat dan sembuh seketika, dan kau yang dibuat tak berdaya dan tak berharga dihidupnya.
Kau memang kepala batu, wahai hati
Tapi kau tetap bagian dari hidupku
Semoga kau lekas sembuh
Semoga dia bisa menjadi pelajaran berharga untukmu
Poem by a little bit of Mega
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H