Sutolo itu anak tetangga sebelah kiri rumah. Sedangkan Sutejo itu anak tetangga belakang rumah. Keduanya baru berusia belasan tahun. Mereka sama-sama kelas V SD, di sekolah yang sama.
Namun, kedua anak itu memiliki ucapan-ucapan yang jauh berbeda.
Sutolo hapir setiap saat mengucapkan kata-kata kasar, jorok, seronok, dan kata-kata yang terasa kurang santun. Sedangkan Sutejo hampir tak pernah kudengar mengeluarkan kata-kata seperti yang diucapkan oleh temannya itu.
Lebih mendalam lagi kuperhatikan, ternyata interaksi sosial dalam keluarga kedua bocah itu berbeda.
Di dalam lingkup keluarga Sutolo sering digemakan kata-kata seperti yang diucapkan oleh anak kelas V SD itu. Ayahnya, ibunya, kakaknya, dan adiknya sama saja mengucapkan dan mendengarkan kata-kata kasar, jorok, seronok, dan kata-kata yang kurang santun. Interaksi sosial di dalam keluarga yang demikian itu tidak terjadi di dalam keluarga Sutejo.
Bahkan ketika harus marahpun, kedua orang tua Sutejo berbicara dengan perlahan. Toh, dalam kelembutan itu ada ketegasan-ketegasan yang cukup membangkitkan pengertian anak-anak mereka. Kakak dan adik dari Sutejo juga demikian, lembut seperti bapak dan ibu mereka.
Apa hubungannya dengan tulisan seseorang?
Begini, warna tulisan seseorang akan sangat ditentukan oleh asupan batok kepala sang penulis. Jika sang penulis banyak asupan kebencian, makian, dan pertentangan maka tulisan-tulisan yang dilahirkannya juga akan membiaskan kebencian, makian, dan pertentangan.
Jika sang penulis banyak asupan kedamaian dan kebaikan makan tulisan yang dihasilkannya juga relatif akan menyiratkan kedamaian dan kebaikan.
Lantas, bagaimana dengan kedalaman tulisan?
Begini, seseorang yang banyak membaca, mendengar, melihat lantas mengunyahnya dengan saksama, maka ia akan memiliki energi yang luar biasa. Jika seseorang itu kemudian juga 'keranjingan' membaca buku-buku referensi lain -- berkait dengan artikel yang akan ditulis -- maka, tidak terbayangkan betapa gemuk dan bergizinya tulisan atau artikel yang dihasilkan.
Seseorang yang memiliki banyak tabungan pengetahuan di dalam batok kepalanya, dan terdesak oleh keinginan untuk melahirkannya, maka tulisan-tulisan yang dilahirkannya tentu tulisan bergizi yang enak dinikmati oleh pembaca.
Nah, kalau kita kepengin nulis tetapi jarang membaca, jarang melihat, jarang mendengar, dan apa lagi jarang mengunyahnya lantas amunisi apa yang bisa mendorong lahirnya sebuah tulisan bergizi? Omong, ompong!
Apakah seseorang yang jarang mengunyah buku tidak bisa melahirkan bacaan? O, tentu bisa! Bahkan juga bisa menghasilkan banyak bacaan. Namun, tulisan-tulisan yang dilahirkan pasti tulisan-tulisan yang gersang tak bergizi!
Nah, dua anak tetanggaku itu sesungguhnya telah menginspirasi untuk saya mengerti. @Salam
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H