Mengeksploitasi yang muda, bukanlah pembentukan mental tapi penjajahan. Maka penjajahan dengan ekploitasi kemanusiaan harus dipinggirkan. Lebih parah lagi ketika organisasi fasih berbicara tentang kesetaraan, tapi para seniornya adalah kumpulan kaum feodal yang mengeksploitasi kemanusiaan yang muda.
Jika eksploitasi itu berlangsung, maka akan bergelombang dan berlanjut di ruang dan tempat yang berbeda. Itu akan menjadi lorong gelap organisasi yang mengerikan.
Maka sekali lagi, memanusiakan manusia itu penting. Khususnya mereka yang masih hijau. Agar mereka berkembang, nyaman, dan bermanfaat bagi sesama.
Di sisi lain, yang muda juga tak merasa sudah bisa segalanya. Jangan sampai yang muda tak menaruh respek pada mereka yang hidup lebih lama.
Sebab bagaimanapun respek pada orang lain adalah bagian untuk membangun organisasi yang berkesinambungan. Si hijau yang terlalu jumawa juga tak bagus bagi organisasi.
Maka, sekali lagi, potret baik dari sepak bola tak ada salahnya ditiru di ruang organisasi yang lain. Selain mengayomi dan respek pada internal juga respek pada eksternal.
Sepak bola dalam beberapa tahun terakhir mengajarkan respek pada lawan. Agar tak merendahkan lawan, tidak menganggap enteng lawan. Memberi respek pada yang kalah.
Sepak bola, selain soal industri juga membangun sisi sisi kemanusiaan yang layak dicontoh. Sebab, industri yang berkembang tak akan berarti jika adab kemanusiaannya mundur.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI