Lalu siapa yang memprovokasi? Ya kedua pihak memprovokasi. Siapa yang mula? Tengoknya akan jauh ke belakang karena Argentina vs Belanda terjadi berkali-kali. Tiap momen Piala Dunia akan jadi memori untuk saling serang.
Bagi saya ini bukan soal siapa yang memprovokasi. Ini soal jualan di luar teknik sepak bola. Barang jualan yang menarik untuk terus diperbincangkan.
Bagi saya para punggawa Argentina dan Belanda telah menjalankan tugas dengan baik, walaupun mungkin mereka tak sadar. Tugas sebagai agen atau sales Piala Dunia.
Jangan terlalu diambil pusing soal provokasi antarkeduanya. Sebab setelah Piala Dunia usai, sebagian mereka akan saling bekerjasama. Misalnya Dumfries akan kerja sama dengan Lautaro Martinez di Inter Milan.
Jualan sudah usai jika Piala Dunia usai. Jualan beralih lapak ke ajang liga domestik dan Liga Champions di Eropa.
Baru kemudian jika Piala Dunia berlangsung lagi, provokasi dan dagangan seperti itu dibuka lagi. Tensi tinggi lagi dan menarik lagi.
Kalau Piala Dunia adem-adem saja, dagangannya tak bakal terdengar ke mana-mana. Dagangan Piala Dunia tak akan menggema. Tak akan ada produk yang diserbu konsumen sebagai imbas tensi tinggi Piala Dunia.
Jadi... siapa sebenarnya yang memprovokasi dan diprovokasi?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H