Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Surabaya Artikel Utama

Beberapa Alasan "Feeder Wira-Wiri" Mulai Digandrungi Warga Surabaya

26 Juli 2023   08:17 Diperbarui: 26 Juli 2023   09:26 2046
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dua orang kondektur Feeder Wira-wiri sedang berhenti sejenak untuk mendokumentasikan armada di Halte Balaikota. (Dokumentasi Pribadi)

Surabaya memang memiliki masalah pelik dalam hal transportasi umum.

Kota terbesar kedua di Indonesia ini seakan gagap dengan perkembangan zaman dalam menata transportasi umum. Jika dibandingkan dengan Jakarta yang memulai Transjakarta pada 2004, Yogyakarta dengan Trans Jogja pada 2008, Semarang dengan Trans Semarangnya pada 2009, maka Surabaya baru memulai Suroboyo Bus pada 2018 kemarin.

Tak hanya lambat, selama hampir 5 tahun beroperasi rute Suroboyo Bus, yang 2 rutenya kini diambil alih oleh Trans Semanggi seakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. 

Cukup berbeda jauh dengan beberapa kota lain yang sudah berekspansi dengan menambah rute hingga berbagai pelosok kota. Bahkan, Kota Solo yang pada tahun 2020 kemarin mulai menata sistem transportasi umumnya lebih baik lewat Teman Bus Batik Solo Trans kini bisa melaju ke depan.

Ada banyak pihak -- terutama saya pribadi -- yang cukup pesimis dengan perkembangan transportasi umum di Surabaya. Terlebih, sebagian besar warga Surabaya masih menganggap transportasi umum bukan sesuatu yang penting, tidak menjanjikan untuk digunakan sehari-hari, dan efektif. 

Terbukti, meski kini penumpang Suroboyo Bus sebagian sudah merupakan para pekerja yang setiap hari pulang dan pergi ke tempat kerja, tetap saja kemacetan parah di beberapa titik masih saja terjadi setiap hari.

Rasa pesimis ini memang beralasan. Siapa sih yang bisa tahan naik transportasi umum di Surabaya setiap hari? Tanpa disambung dengan naik ojek atau kendaraan pribadi. Makanya, rasa pesimis ini kerap menggelayut kala membicarakan transportasi umum di Kota Pahlawan.

Namun, kehadiran Feeder Wira-wiri Suroboyo pada Maret 2023 lalu seakan sedikit menjadi angin segar. Angkutan pengumpang yang merupakan saudara jauh dari Mikrotrans milik Transjakarta ini mulai dilirik oleh masyarakat Surabaya. Terbukti, pada awal peluncuruannya dulu beberapa rute menjadi primadona dan sering penuh.

Salah satunya adalah rute pertama yakni rute Tunjungan-Benowo. Rute ini merupakan rute pengganti salah satu angkutan kota. Menggunakan armada Hi-Ace, Feeder dengan kode 01 ini hampir setiap hari selalu ditunggu oleh penumpang di halte pemberhentiannya.

Beberapa penumpang naik Feeder 01 tujuan Benowo di Halte Siola Jalan Tunjungan.(Dokumentasi Pribadi)
Beberapa penumpang naik Feeder 01 tujuan Benowo di Halte Siola Jalan Tunjungan.(Dokumentasi Pribadi)

Kalau Anda pergi ke sekitar Embong Malang atau Jalan Tunjungan, maka Anda akan sering melihat orang-orang dengan wajah cemas dan menunggu di dekat palang bus stop. 

Mereka adalah warga Benowo, Pakal, Tandes, dan wilayah di barat laut Surabaya yang sedang bepergian di pusat kota. Berkat adanya Feeder 01, mereka bisa pergi ke beberapa tempat di Surabaya dengan harga yang murah.

Tak hanya di wilayah barat, warga di wilayah timur juga mulai melirik Feeder Wira-Wiri. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mencoba Feeder 03 yang memiliki rute Terminal Joyoboyo sampai Kedung Asem di wilayah sekitar jalan lingkar timur (MERR). 

Rute yang dilalui pun cukup strategis seperti Ngagel, Ubaya, Bratang, dan beberapa perkampungan lain. Rute Feeder 03 ini juga melewati Stasiun Wonokromo. Berkat Feeder 03, penumpang stasiun tak perlu jalan kaki jauh lagi untuk mengakses transportasi umum.

Lalu, apa yang membuat feeder cukup digandrungi oleh masyarakat?

Salah satu alasannya adalah letak pemberhentian yang lebih banyak dibandingkan Suroboyo Bus. Walau harus berjalan kaki dari rumah, sekolah, kampus, atau tempat kerja, tetapi penumpang feeder lebih mudah untuk menunggu armada. Titik-titik pemberhentian feeder lebih fleksibel sehingga memudahkan masyarakat untuk naik feeder.

Kedua, waktu tunggu (headway) feeder wira-wiri lebih baik dibandingkan Suroboyo Bus atau Trans Semanggi. Sebenarnya, waktu tunggu ini cukup relatif dan tidak bisa dibandingkan secara penuh. 

Namun, beberapa kali saya menunggu Suroboyo Bus atau Trans Semanggi di sebuah halte yang beririsan dengan Feeder Wira-wiri, seringkali bus yang saya tunggu belum juga datang padahal sudah ada 2 feeder yang lewat.

Pada beberapa kesempatan, saya kerap mendengar perbincangan antara sopir dan kondektur Feeder mengenai jadwal mereka berangkat kembali ketika sudah sampai di halte terminus. 

Ketika saya akan naik di halte tersebut dan ada armada feeder yang sedang ngetem, sang kondekur atau sopir biasanya langsung menyilakan saya masuk armada dan mengatakan berapa lama lagi waktu berangkat. 

Saya pun punya kepastian akan waktu keberangkatan dan hampir selalu tepat. Jika mereka mengatakan akan berangkat pukul 10, maka tepat pukul 10 mereka akan berangkat.

Seorang kondektur Feeder 06 yang baru saja diluncurkan memberi tahu kepada calon penumpang bahwa armada tersebut sudah penuh.(Dokumentasi Pribadi)
Seorang kondektur Feeder 06 yang baru saja diluncurkan memberi tahu kepada calon penumpang bahwa armada tersebut sudah penuh.(Dokumentasi Pribadi)

Kedisiplinan yang dilakukan oleh mereka setidaknya menjadi fondasi yang kuat dan baik untuk menarik masyarakat Surabaya menggunakan feeder. Meski tentu, dengan kemacetan Surabaya yang luar biasa yang menyebabkan keterlambatan feeder sampai di halte tujuan, usaha tersebut layak diapresiasi.

Ketiga, pelayanan yang maksimal dari kondektur terhadap penumpang menjadi daya tarik tersendiri. Bukannya membandingkan lagi, saya melihat kondektur feeder sangat ramah ketika ada penumpang yang naik. Mereka menyambut dengan senyuman ramah, menanyakan tujuan, dan mempersilakan masuk dengan baik.

Tak jarang, mereka memberikan banyak infrormasi mengenai rute dan operasional feeder dengan jelas. Mulai dari pada halte mana penumpang bisa transit, infromasi cara pembayaran, dan beberapa info lain yang dibutuhkan penumpang.

Mereka juga mau menjawab saat ditanya perbedaan saat bekerja pada feeder dibandingkan narik angkot. Lantaran, beberapa sopir dan kondektur feeder adalah sopir angkot/bemo/lyn konvensional. 

Mendengar cerita mereka, tentu ada rasa bahagia pula sebagai penumpang karena kemudahan yang didapatkan penumpang sebanding dengan apa yang mereka dapatkan.


Keempat, berbeda dengan bus yang memiliki ruang lebih luas, feeder memiliki ruang lebih sempit. Sempitnya ruang ini menyebabkan interaksi antara sopir, kondektur, dan penumpang menjadi lebih erat dan akrab.

Jika pada Suroboyo Bus atau Trans Semanggi penumpang sibuk dengan gawai atau kegiatannya masing-masing, maka saat naik feeder, pengamalan Pancasila seakan bisa diterapkan. 

Ada rasa kebersamaan yang kuat tatkala ada pembicaraan yang dibahas. Tak jarang, saking akrabnya ada beberapa kondektur yang sudah mengenali penumpang. Ia sudah hafal naik dari mana dan akan turun di mana.


Keasyikan seperti ini sebenarnya bisa menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah gempuran kemajuan Kota Surabaya dengan nilai-nilai global seperti individualistik, adanya feeder menjadi warna baru untuk saling merasa sama-sama menggunakan fasilitas publik.

Kelima, masyarakat Surabaya yang sudah lama akrab dengan angkot/bemo/lyn seakan lebih dekat dan mudah untuk naik feeder. Beberapa penumpang yang naik bersama saya memberi testimoni kepada kondektur sata berbicang bahwa rasanya ya seperti naik bemo hanya lebih enak karena tidak kepanasan. Mereka juga merasa sudah seharusnya semua angkot di Surabaya diganti dengan armada seperti feeder ini.

Kondisi di dalam feeder wira-wiri. (Dokumentasi Pribadi)
Kondisi di dalam feeder wira-wiri. (Dokumentasi Pribadi)

Dalam waktu empat bulan sejak peluncuruan, Feeder Wira-wiri telah menambah dua rute baru yakni pengganti Suroboyo Bus dari Terminal Joyoboyo menuju Unesa/PTC berlanjut ke Lakarsantri dan rute Bratang ke Stasiun Pasar Turi. 

Rute terakhir ini sangat istimewa karena menghubungkan dua stasiun besar di Surabaya yang selama ini sangat buruk akses transportasi umum lanjutannya. Dengan adanya feeder berkode 07, penumpang dari dua stasiun tersebut tak perlu lagi jalan kaki jauh.

Sayang, keberadaannya belum banyak diketahui oleh masyarakat terutama penumpang kereta api. Ketika saya naik dari dua stasiun tersebut dan menunggu di halte, banyak penumpang kereta api yang heran. Apalagi ketika armada feeder yang datang lalu saya naik, beberapa penumpang kereta masih bingung dengan keberadaan feeder wira-wiri.

Beberapa armad feeder terparkir di Terminal Bratang yang menjadi tempat transit Feeder 03 dan 07. (Dokumentasi Pribadi)
Beberapa armad feeder terparkir di Terminal Bratang yang menjadi tempat transit Feeder 03 dan 07. (Dokumentasi Pribadi)

Untuk itulah, sosialisasi kepada masyarakat sangat perlu dilakukan. Semisal, pemberian informasi di stasiun KA terutama di pintu keluar. Dengan begitu, penumpang kereta akan memiliki banyak opsi untuk naik transportasi umum yang murah.


Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar rencana adanya penambahan rute feeder wira-wiri lagi. Semoga saja rencana tersebut disertai perbaikan lagi semisal penggunaan armada Hi-Ace yang lebih besar. Maklum, sebagian besar armada menggunakan armada Grand Max dengan jumlah penumpang terbatas.

Awal yang cukup bagus dari feeder wira-wiri ini setidaknya menjadi cerminan jika layanan transportasi umum memang sangat dibutuhkan di Surabaya. Kepercayaan masyarakat yang sudah mulai tumbuh jangan sampai berkurang dengan penurunan kualitas yang membuat masyarakat berpaling kembali ke transportasi online atau kendaraan pribadi.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Surabaya Selengkapnya
Lihat Surabaya Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun