Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengenang "Pentil Kecakot", Profesi Mulia Penghubung Suara

7 September 2018   09:30 Diperbarui: 8 September 2018   03:15 2519
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam memori mengenai pentil kecakot yang ditulis oleh Dukut Imam Widodo di buku Malang Tempo Dulu, salah seorang pernah menunggu sang pentil kecakot hingga 8 jam kala menelepon ke Buitenzorg (Bogor). Dan, perlu waktu hingga 10 jam untuk melakukan hubungan interlokal dari Malang ke Jakarta. Rasanya, waktu selama itu ekuivalen dengan perjalanan Malang-Jogja dengan kereta api.

Apa yang membuat hubungan interlokal membutuhkan waktu begitu lama?

Yang jelas, zaman dahulu belum diketemukan sistem Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Saluran favorit bagi para LDR di era wartel berjamur ini masih belum dikenal.

Jika pengguna telepon ingin melakukan hubungan telepon di luar kota, maka ia harus melaui pentil kecakot di kota ia tinggal.

Lantas, pentil kecakot ini akan menghubungi pentil kecakot di kota tujuan sebelum akhirnya menghubungi penerima telepon. Berantai, lama, dan dengan suara yang tidak begitu jelas. Itulah gambaran susahnya berhubungan interlokal pada zaman dulu.

Pada mulanya, pentil kecakot dilakukan oleh para remaja laki-laki. Namun, karena sifat temparmen dan kurang sabaran, lalu pekerjaan ini banyak yang dilakukan oleh para wanita dewasa. - http://www.telcomhistory.org
Pada mulanya, pentil kecakot dilakukan oleh para remaja laki-laki. Namun, karena sifat temparmen dan kurang sabaran, lalu pekerjaan ini banyak yang dilakukan oleh para wanita dewasa. - http://www.telcomhistory.org
Nah yang lebih unik lagi, selepas selesai melakukan pembicaraan, bukan berarti pengguna telepon bisa dengan tenang menutup teleponnya.

Pasalnya, hubungan telepon belum akan benar-benar terputus sebelum sang pentil kecakot menghubungi sang penelepon. Jika sang pentil kecakot lupa untuk menghubungi penelepon dan memutuskan komunikasi interlokal tersebut, maka alamat tagihan telepon akan membengkak.

Kadangkala, jika saluran telepon sedang sibuk-sibuknya, maka pentil kecakot tak segan memutuskan hubungan telekomunikasi interlokal tanpa pemberitahuan tersebut. Atau, jika sang pentil kecakot meluangkan waktu menghubungi sang penelepon, maka ia akan bertanya, "Bisakah hubungan telepon ini diakhiri?"  

Tanpa beban dan rasa bersalah, dengan bahasa Belanda tentunya. Sungguh, kata makian mungkin akan terlontar jika saat itu komunikasi sedang berjalan pada klimaksnya.

Apalagi, jika sedang berhubungan dengan sang kekasih di luar kota. Lama dan kurang efektifnya saluran telepon interlokal yang harus menggunakan pentil kecakot membuat banyak orang kala itu lebih memilih menggunakan telegram jika ingin berkabar ke luar kota.

Dalam budaya modern

Meski sekarang sudah tak ada lagi pentil kecakot untuk saluran interlokal, namun operator telepon semacam ini pernah saya temukan kala menggunakan SLI (Sambungan Langsung Internasional).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun