Mohon tunggu...
Ikhwanul Farissa
Ikhwanul Farissa Mohon Tunggu... Ilmuwan - Officer, Blogger, Conten Creator, Penulis, IT & Data Scientist & Analis, Model Fashion.

"*Dengan Membaca Kamu Mengenal Dunia, Dengan Menulis Kamu Dikenal Dunia"*

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jadi "Tentara" Menag, Ini 10 "Senjataku" Perangi Hoaks

3 Agustus 2018   20:39 Diperbarui: 3 Agustus 2018   21:17 386
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: https://jalandamai.org

Tidak dapat dipungkiri teknologi informasi berkembang sangat cepat. Dan kita sekarang berada di abad bahasa dan informasi. Sehingga ada semacam keyakinan bahwa siapa yang menguasai bahasa dan jaringan informasi, dialah yang akan menang dan mampu bertahan menghadapi zaman yang penuh dengan serba ketidakpastian ini.

Dulu, jauh sebelum era internet, blog dan media sosial (Era Digital), saya tidak pernah mendengar yang namanya kata Hoak. Namun di zaman now, kata hoak semakin tidak asing saja di telinga dan  bahkan menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat. Ternyata Hoak berkaitan erat dengan internet, blog dan media sosial.

Semua orang sudah tahu, jika Internet itu adalah sebuah saluran ataupun jaringan yang mampu menyajikan berbagai informasi tanpa batas. Begitu banyak sumber atau referensi informasi yang tersajikan dan tersebar di internet. Namun sayang, Intenet memiliki kemungkinan untuk disalahgunakan, memiliki banyak jebakan yang menjerumuskan kita. Salah satu yang harus kita waspadai adalah postingan dari sumber atau referensi informasi yang tidak jelas. Inilah yang disebut dengan Hoaks.

Hoaks ini tentu berasal dari pemilik informasi. Karena adanya informasi tentu tidak muncul dengan sendirinya. Informasi muncul karena ada pihak yang menciptakan atau menyediakan.

Maraknya sosial media seperti Facebook, Blog, Twitter dan Youtube, informasi hoak dan propaganda dari pemilik informasi ini semakin mudah untuk diposting dan diakses. Kebenaran sebuah informasi pun menjadi abu-abu, benar apa tidak ya?

Saya ingat Jka dulu, informasi terlebih dahulu dicetak baru disebarkan, kini informasi disebar dahulu secara elektronik, baru dicetak dari komputernya masing-masing. Dulupun sebelum ada internet, kebenaran sebuah informasi hanya dapat dibuat, dibentuk atau istilah kerennya difabrikasi oleh institusi seperti Agama, Negara, Media-Media Arus Ulama, dll. Namun di zaman now, tidak lagi seperti itu.

Indonesia sebagai negara yang tengah dalam proses peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, perkembangan teknologi informasi menjadi sesuatu yang menarik untuk diikuti. Dan ternyata diketahui Indonesia adalah negara yang masyarakatnya paling aktif di media sosial.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJI) tahun 2016, mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia atau sekitar 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung dengan internet. Jumlah pengguna internet yang fantastis ini tentu menjadi lahan empuk bagi pencipta informasi Hoak untuk menabur benih-benih propaganda atau disintegrasi bangsa ataupun bara konflik lainnya.

Dan ini saya pikir menjadi tantangan tersendiri khususnya untuk Kemenag (Kementerian Agama) RI. Apalagi tahun depan (2019) Indonesia akan memasuki tahun politik. Dipastikan Indonesia akan mengalami pergolakan politik, yakni pergantian pucuk pimpinan.

Tahun politik di era digital menjadi tantangan tersediri? Ya, betapa tidak, penyebaran hoak semakin berpotensi terjadi (rawan hoak), dan hoak pun sepertinya sudah menjadi bagian ataupun alat dari propaganda politik. Kebanyakan propaganda tersebut di design dan disebarkan melalui Sosial Media untuk sebuah kepentingan seperti menyebar fitnah, isu-isu yang tidak benar hingga kebencian yang mengancam keselamatan bangsa. Jadi Hoak harus menjadi salah satu prioritas untuk sama-sama kita perangi.

Internet, blog dan media sosial seharusnya dapat didayagunakan untuk masyarakat, misalnya saja melalui bentuk penemuan iptek demi kesejahteraan masyarakat, mempercepat proses pembangunan nasional dan hal yang bermanfaat lainnya. Apalagi memang Indonesia sedang giat-giatnya melakukan  proses pembangunan di segala bidang.

Jika tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat, hoak dikhawatirkan dapat merusak pembangunan nasional yang telah diprogramkan, dan kita tidak akan menjadi tuan bagi teknologi informasi yang berkembang seperti media sosial, tapi akan menjadi hamba yang mudah diadu domba.

Informasi-informasi Hoak yang menyebar cepat di internet, blog ataupun media sosial, lalu diketahui atau dikonsumsi masyarakat tanpa pengawasan yang ketat emang amat berbahaya. Dan penyebaran Hoak pun biasanya ditunggangi sejumlah kepentingan. Bahkan banyak pemilik informasi mengaku mendapatkan tawaran untuk menciptakan dan menyebarkan hoak di masyarakat. Lalu apa yang mesti dilakukan? Jika saya jadi ''tentara'' Kemenag ataapun jadi Menteri Agama nya (Menag), maka tindakan yang harus saya lakukan adalah:

1.Harus jeli melihat dan motif penyebaran hoaks tersebut.  Intinya harus hati-hati, cerdas, bijak  dalam menyikapi setiap informasi yang beredar dan serta dapat membedakan sumber berita yang dapat dipertanggung jawab keabsahannya dan yang tidak. Jika tidak yakin kebenaranya jangan di copypaste!

2.Bekerja sama dengan Kominfo untuk memblokir  situs-situs yang  berbau isu sara atau mengandung konten negatif seperti ujaran kebencian, fitnah, hasutan dan provokasi.

3. Bekerja sama dengan aparat hukum seperti Polri dalam hal:

a. Memberlakukan sanksi atau tindakan tegas (aksi hukum yang nyata) bagi penyebar hoak yang memang sudah jelas melanggar, apalagi undang-undangnya sudah terbentuk seperti KUHP pasal 160 dan 311 serta UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik pasal 27 dan 28. Sanksi juga dapat berupa denda uang dengan jumlah besar untuk setiap penerbitan berita bohong oleh pencipta informasi hoak dan perusahaan media sosial.

b. Memetakan penyebar hoak yang ada jaringan internet atau media sosial.

4.Meningkatkan struktur dan membentuk direktorat khusus dalam menanggani hoak.

5.Bekerja sama dengan media-media yang memiliki kredibilitas dan dapat dipercaya. Karena media tersebut akan menyampaikan informasi yang akurat dan dapat menjadi penjernih dalam menanggapi Hoak yang ada di internet atau media sosial.

6.Memberi masukan, arahan dan kritik yang membangun kepada pemilik informasi (oknum yang menyebar hoak), agar penggunaan internet harus lebih digunakan untuk pengembangan kualitas diri dan masyarakat banyak, bukan untuk digunakan dalam hal-hal bersifat negatif.

7.Fokus pada publik interest dan paham situasi politik, sehingga tahu bagaimana menanggani isu dengan baik dan merespon berita hoak dengan tepat, terutama pada situasi tahun politik.

8. Harus punya kode etik profesi, tetap memegang teguh kejujuran, saling berkolaborasi dengan semua pihak, menjaga netralitas dan tidak terlibat dalam upaya penyebaran informasi hoaks dalam bekerja demi kebaikan Indonesia dalam menghadapi era ke depan.

9. Mengajak atau menghimbau masyarakat untuk lebih teliti dalam menerima segala bentuk informasi yang muncul, karena isu hoak hanya bertujuan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

10.Menjalin kerja sama dengan masyarakat sipil, akademisi dan stakeholder lainnya untuk membuat gerakan yang masif untuk melakukan literasi, edukasi dan mengontrol para netizen agar lebih waras dan men-counter segala kejahatan di dunia maya. Disamping itu, apabila ada sesuatu yang negatif atau memiliki dampak yang besar, masyarakat dapat melapor ke pemerintah agar dapat dilakukan penindakan.

***

Kelemahan dalam internet ialah keakuratan. Internet juga bisa jadi fitnah manakala kita tidak memahami dan mewaspadai mudharat yang ditimbulkannya ataupun mengantisipasi segi negatifnya. Salah satunya Hoaks yang merupakan kejahatan yang sering terjadi di dalam dunia internet.

Sepertinya 10 keahlian, teknik, strategi ataupun ''senjata''  yang saya sebutkan di atas, amat perlu dan harus dikuasai dalam menghadapi era digital saat ini, khususnya "perang" melawan hoak. Sehingga kita tidak mudah terpengaruh atau tertipu dengan informasi hoak.

Masyarakat harus mulai sadar, bahwa informasi hoak yang beredar di internet atau media sosial dapat mempengaruhi sentimen publik, mengubah cara pandag masyarakat dan mengancam keselamatan bangsa.

Yuk bersama-bersama kita perangi Hoaks!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun