Mohon tunggu...
Ikhsan Lukmana
Ikhsan Lukmana Mohon Tunggu... Guru - Guru

http://ikhsanlukmana.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kondangan dan Dilema yang Menyertainya

13 September 2017   19:37 Diperbarui: 14 September 2017   15:31 9114
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagi yang mau ngamplop uang, yang umumnya diisikan ke dalamnya biasanya Rp 20.000,- atau lebih (update per Agustus 2017). Untuk satu kali nyumbang, agaknya nominal sekian mungkin masih terjangkau oleh kantong masyarakat. Namun, jika kondangan hanya satu dua kali saja, tentunya tidak. Nominal yang tadi untuk kondangan ke orang yang tidak memiliki kedekatan. Tapi untuk nyumbang kepada saudara, nominal tersebut katanya ora memper (baca: tidak patut), dan tentu nominalnya harus ditambahi.

Biasanya yang pergi kondangan dalam satu KK (Kepala Keluarga) tidak hanya satu orang tapi bisa lebih. Apalagi kalau yang menggelar hajatan masih berada dalam satu kampung. Bisa ayah, ibu, anak, kakek, nenek, kondanngan semua. Bayangkan, berapa duit yang diperuntukkan untuk nyumbang.

Ibu-ibu adalah golongan masyarakat yang paling sering kondangan. Kalau sedang 'musim' ibu-ibu ini bisa sampai kurang lebih 10 kali kondangan dalam satu bulan. Itu baru kondangan, belum lagi untuk pirukunan (baca: bersosial) lainnya yang tentunya juga memerlukan nyumbang.

Memang sebagai orang Jawa, untuk perkara bersosial sudah tidak perlu ditanya. Begitu pula dalam urusan kondangan ini. Sudah menjadi semacam tanggung jawab yang harus ditunaikan dan nampak tidak bisa ditawar. Biasanya kalau sudah menyangkut urusan sosial, bisa mengorbankan kepentingan pribadinya dan selalu ingin agar dirinya bisa memberikan yang sebaik-baiknya kepada orang lain.

Tak terkecuali kondangan, kadang bagi mereka-mereka yang tengah mengalami bokektentu akan menjadi persoalan yang cukup 'menatang' untuk diselesaikan. Ketika mendengar kabar bahwa pak A akan menggelar hajatan, pak B akan menikahkan putrinya seminggu kemudian, pak C tetangga sebelah anak laki-lakinya menikah dengan gadis dari luar kota. 

Dalam keadaan seperti itu tentulah seakan adrenalin terpacu sekencang-kencangnya. Dapat kita perkirakan apa solusi yang mungkin ada di pikiran seseorang jika sedang berada dalam situasi semacam itu. Pastinya butuh persediaan dana yang tidak sedikit. Bahkan tidak jarang pula meminjam uang kepada teman.

Bersilaturahmi adalah hal baik yang dianjurkan dalam agama, kondangan juga salah satu bentuk silaturahmi. Dan ini perlu dipelihara. Nyumbangatau memberi hadiah dalam pun sama berfaedahnya. Pemberian hadiah ini tentunya akan mengeratkan ikatan emosional baik pemberi maupun penerimanya.

Baik dalam bentuk apapun sebenarnya hadiah ini memiliki peranan dalam hal hubungan manusia sebagai makhluk sosial. Dengan catatan kedua belah pihak harus ikhlas lahir batin dalam memberi ataupun menerima.

Dalam kaitannya dengan kondangan, sebenarnya masyarakat masih terikat dengan peraturan tidak tertulis yang terlalu kaku. Menurut saya, sudah saatnya masyakat itu bebas dari hal tersebut. Sekali lagi menurut saya. Bagi yang akan ber-kondangan mungkin bisa memilih mau nyumbang atau tidak. Mau nyumbang berapapun banyaknya silakan.

Kalau yang tidak hendak nyumbang juga silakan datang ke hajatan. Saya rasa dengan seperti itu tamu-tamu yang datang ke hajatan pun akan mendo'akan dengan tulus ikhlas dan tidak terbebani apabila ada kondangan lagi di tempat lain. Juga kalau uang untuk nyumbang masih hutang, tidak perlu terpikirkan bagaimana melunasinya.

Note: ini tulisan pertama saya di kompasiana, mohon kritik dan saran agar saya bisa menjadi perbaikan untuk tulisan saya berikutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun